Penulis: Siti Robiah
Editor: Gun Gun Gunawan
SUPI.id – Pada 12 Maret 2026 lalu aku mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) soal kesehatan mental di lingkungan pondok pesantren. Sejujurnya, aku tidak menyangka forum yang dikira akan formal bisa menjadi momen emosional bagi semua peserta.
Kami bercerita dan berbagi pengalaman dan perasaan yang dialami, susah, sedih, dan bahagia, dengan berbagai luka yang kami rasakan. Entah dari keluarga, teman, maupun lingkungan. Banyak dari kami terharu dan menangis ketika menceritakan diri sendiri dan mendengar kisah masing-masing teman. Ternyata, semua orang sama, memiliki masalah dan pernah struggle dengan dunianya masing-masing.
Dalam sesi pengantar, Abi Marzuki Wahid— pengasuh kami di pesantren yang menjadi fasilitator kegiatan— mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan bukan hanya fisik, melainkan juga mental.
Bagiku, obrolan ini sudah sangat sering terdengar, mengingat kedua pengasuh kami kerap membahas dan mengingatkan, bahkan aku sendiri sudah sering mengonsumsinya melalui media sosial.
Akan tetapi, aku belum pernah terlibat secara langsung dalam forum resmi untuk benar-benar mengenali dan memahami diri sendiri. Akibatnya, pembahasan tentang kesehatan mental selama ini hanya sebatas konsumsi instan dan refleksi yang dangkal.
Pesantren dan Kesehatan Mental
Abi Marzuki Wahid membahas satu per satu pertanyaan melalui assessment yang diisi oleh kami pada malam sebelumnya. Semua dibahas dengan rinci dan mendalam untuk melihat indikator kondisi para mahasantri.
Program ini dinamakan MERAWAT, yang merupakan singkatan dari Mental Health (kesehatan mental), Equity (kesetaraan yang proporsional), dan Relational Well-Being Transformation, yaitu transformasi lingkungan pesantren menuju relasi yang sehat. Program ini sebelumnya sudah disinggung oleh pengasuh kami, dan tentu saja kami sudah sangat menantikan setiap sesinya.
Namun, jujur saja, aku tidak memiliki ekspektasi apa pun pada pertemuan pertama ini. Menurutku, isu kesehatan mental merupakan isu krusial yang layak dan dibutuhkan oleh hampir setiap orang, termasuk kami yang berada di usia rentan menghadapi quarter-life crisis, overthinking, atau terjebak dalam trauma dan luka masa lalu.
Oleh karenanya ketika dijelaskan bahwa kegiatan ini untuk menggali pengalamn kami, lalu mengidentifikasi penyebabnya serta dianalisis dampaknya terhadap kehidupan kami dan jelas ini sangat membantu merawat kesehatan mental.
Tidak dipungkiri bahwa sangat sedikit lembaga pendidikan apalagi pesantren yang punya concern pada isu kesehatan mental. Semua berjalan lancar dan kami membahas setiap pertanyaan dengan lebih dalam.
Suasana semakin seru ketika bunda Nurul Bahrul Ulum sudah ikut bergabung. Satu pertanyaan sederhana yang mengundang sisi emosional kami, yaitu bagaimana pengalaman kalian menjalani kehidupan di pesantren selama ini. Apa yang paling menyenangkan dan memberikan energi bagi kalian selama hidup di pesantren?
Refleksi Peserta
Satu orang mengawali dengan menceritakan betapa senang dan bersyukurnya ia ketika mengingat nasihat-nasihat dari guru. Dilanjutkan dengan peserta lain yang mengungkapkan penyesalannya karena tidak belajar dengan sungguh-sungguh saat dulu di pondoknya, dan kini ingin membayar penyesalan itu dengan belajar lebih giat di pondok ini.
Suasana semakin haru ketika para peserta satu per satu menceritakan perasaannya. Sebagian dari kami baru kali ini merasakan penerimaan dan apresiasi atas hal-hal dalam hidup, tidak dihakimi, diterima dengan baik, dan merasa sangat disayang. Ada yang keluarganya utuh, tetapi harus diakui bahwa banyak di antara kami yang tidak terpenuhi ‘tangki emosionalnya’. Secara fisik terlihat baik-baik saja, namun secara emosional dan mental ternyata banyak merasa sama, memiliki luka.
Namun, di pondok ini, jujur kami merasakan banyak cinta dan kasih. Tanpa melihat siapa kamu dan harus menjadi apa terlebih dahulu, kami bisa diapresiasi atas setiap pencapaian yang ada.
Kami sangat excited dan menantikan setiap sesinya. Sebagai pembuka dari rangkaian kegiatan, sesi ini saja sudah cukup membuktikan bahwa kami belum sepenuhnya pulih dan sehat secara mental. Lewat kegiatan ini, menurutku, kembali menyadarkan dan mempererat hubungan agar lebih dekat dan bisa menjadi safe place untuk berbagi setiap keresahan dan kekhawatiran.
Terlebih sejak awal sudah disepakati tentang ketentuan dalam forum ini yaitu kerahasiaan, tidak menghakimi, kesukarelaan, mendengarkan aktif serta empati. Setidaknya prinsip ini telah menguatkan untuk saling percaya antar sesama.
Lewat kegiatan ini, menurutku, kami kembali disadarkan sekaligus dipererat hubungannya agar lebih dekat dan bisa menjadi safe space untuk berbagi setiap keresahan dan kekhawatiran.
Terlebih, sejak awal sudah disepakati ketentuan dalam forum ini, yaitu kerahasiaan, tidak menghakimi, kesukarelaan, mendengarkan secara aktif, serta empati. Setidaknya, prinsip-prinsip ini menguatkan rasa saling percaya di antara kami.
Lebih dari sekadar teman, kami menjadi partner untuk bertumbuh dan berproses. Harapannya, kami bisa leluasa dan bebas menceritakan segala pengalaman, baik suka maupun duka, tanpa ada kekhawatiran yang berkepanjangan.
Jika dulu aku sangat enggan dan malu untuk bercerita, bahkan menitikkan air mata, kini aku mulai terbuka dan menerima. Kita tidak harus menjadi sempurna, cukup didukung, dihargai, diterima, serta ditemani dalam proses tumbuh, pulih, dan sembuh.
Aku rasa, perlahan itu semua sudah kami dapatkan dari kehidupan di pondok ini. Kami memiliki harapan yang sama, mungkin kami tidak seberuntung orang-orang di luar sana, tetapi di sini kami punya tujuan besar, saling mendukung dan menguatkan untuk pulih, sembuh, dan menjadi lebih sehat bersama. []




