SUPI.id – Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “MERAWAT Pesantren” di Ruang Konvergensi pada Kamis, 12 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para mahasantri sebagai bagian dari upaya menggali pengalaman, kebutuhan, serta dinamika kesehatan mental di lingkungan pesantren.
Dalam sesi pengantar, Ny. Nurul Bahrul Ulum yang berindak sebagai fasilitator menjelaskan bahwa “MERAWAT” merupakan akronim dari Mental Health, Equity, and Relational Well-Being Transformation.
Melalui pendekatan ini, khususnya pada aspek equity, fasilitator menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, kesetaraan yang proporsional, serta relasi yang sehat dan suportif di lingkungan pesantren.
“Equity berbeda dengan equality. Jika equality berarti kesamaan—semua diperlakukan sama—maka equity mempertimbangkan perbedaan latar belakang setiap individu, baik usia, pengalaman, maupun kondisi. Namun demikian, dalam ruang ini, setiap orang tetap diperlakukan secara setara,” ungkapnya.
Selain itu, FGD ini bertujuan memperdalam hasil screening kesehatan mental yang telah dilakukan sebelumnya. Pembahasan difokuskan pada pengalaman tekanan psikologis mahasantri, faktor penyebab, dampaknya terhadap kehidupan akademik, sosial, dan spiritual, serta strategi yang digunakan untuk mengatasinya.
Lima Fokus Utama
Pada sesi selanjutnya, KH. Marzuki Wahid yang turut menjadi fasilitator memaparkan lima fokus utama diskusi, yakni: menggali pengalaman nyata terkait tekanan psikologis, mengidentifikasi faktor penyebab, memahami dampak terhadap kehidupan mahasantri, memetakan strategi penanganan yang telah dilakukan, serta merumuskan kebutuhan dukungan melalui program Merawat Pesantren.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dan keberanian untuk berbagi, agar masalah tidak dipendam dan dapat diselesaikan secara kolektif.
“Jangan sampai ada orang yang memiliki masalah tetapi tidak mengungkapkannya. Ketika masalah dipendam terlalu lama, bisa muncul hal-hal yang tidak diinginkan. Kita adalah keluarga besar, sehingga jika ada masalah sebaiknya diselesaikan bersama,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina ini.
Menggali Pengalaman Peserta
Dalam sesi diskusi dan berbagi pengalaman, fasilitator mengarahkan pembahasan melalui sejumlah pertanyaan kunci yang bertujuan menggali pengalaman, dinamika, serta kebutuhan mahasantri terkait kesehatan mental di lingkungan pesantren.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup pengalaman tekanan psikologis yang dialami, sumber-sumber yang memengaruhi kondisi mental—baik dari aspek akademik, sosial, maupun keluarga—serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Selain itu, fasilitator juga mengajak peserta merefleksikan hal-hal yang memberikan energi positif, kekhawatiran terhadap masa depan, serta strategi yang selama ini dilakukan untuk mengelola tekanan
Respons dan Refleksi

Merespon hal tersebut, peserta menanggapi dengan memberika refleksi yang cukup terbuka dan reflektif. Mereka secara aktif membagikan pengalaman pribadi, baik terkait hal-hal yang menguatkan maupun tekanan yang dihadapi selama hidup di pesantren.
Suasana diskusi yang aman dan tidak menghakimi mendorong peserta untuk saling mendengarkan dan menunjukkan empati terhadap pengalaman satu sama lain.
Lebih lanjut, para peserta tidak hanya mengungkapkan persoalan yang dihadapi, tetapi juga menunjukkan kesadaran akan pentingnya dukungan sosial dan keterbukaan. Mereka saling menanggapi dengan cara yang suportif, sekaligus menguatkan bahwa pengalaman tekanan mental adalah hal yang nyata dan perlu dihadapi bersama.[]




