SUPI.id — Pondok Pesantren Luhur Mangajiy Fahmina Cirebon menggelar kegiatan Peluncuran Buku “Parenting di Negara Gagal” karya Kalis Mardiasih di Rumah Joglo Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Cirebon pada Minggu, 12 April 2026.
Kegiatan ini dipimpin oleh Khadimah Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina, Ny. Nurul Bahrul Ulum. Dalam pembukaannya, ia menegaskan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari program Merawat Pesantren, yang berfokus pada penguatan mental health (kesehatan mental) di lingkungan pesantren, termasuk dalam aspek pengasuhan.
“Di pesantren itu (kesehatan mental) jarang banget dibicarakan, jadi kami ingin memulai prototipe bagaimana pesantren juga membangun sistem kesehatan mental di pesantren, untuk santri dan seluruh civitas akademiknya termasuk saya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, kegiatan ini harapannya menjadi wadah reflesi bersama terkait isu-isu keluarga, kesehatan mental, serta tantangan pengasuhan di lingkungan masyarakat.
Motif Penulisan Buku
Sementara itu, Kalis Mardiasih dalam pemaparannya menegaskan bahwa buku yang ditulisnya lahir dari kegelisahannya sekaligus kegelisahan kolektif para orang tua dalam menghadapi realitas yang tidak selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan kepada anak.
“Ini bukan buku parenting pedagogi, bukan berdasarkan teori tumbuh kembang, tapi buku parenting politik,” kata Kalis.
Ia menjelaskan bahwa orang tua kerap dihadapkan pada situasi dilematis. Mereka harus mengajarkan nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan disiplin, sementara realitas sosial justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
“Kita mau ngajarin anak tentang kejujuran, sementara nepotisme dan korupsi dipertontonkan setiap hari. Gimana kita ngajarin anak kalau realitasnya tidak sinkron dengan nilai yang kita ajarkan?” jelasnya.
Kritik Kalis terhadap Parenting
Kalis juga mengkritisi dominasi konsep pengasuhan dari negara-negara maju yang dinilai tidak sepenuhnya relevan untuk diterapkan di Indonesia. Menurutnya, perbedaan kondisi sosial, ekonomi, dan keamanan menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.
“Kita tidak bisa mengimplementasikan teori parenting ideal ketika kondisi sosial, ekonomi, dan politiknya berbeda,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, yang berdampak pada menyempitnya safe space (ruang aman) bagi anak. Menurutnya, dahulu anak-anak dapat tumbuh dalam pengasuhan kolektif berbasis komunitas, namun kini peran tersebut cenderung tergantikan oleh layanan berbayar.
“Dulu kita diasuh satu desa, tetangga itu keluarga. Sekarang, bahkan untuk menitipkan anak saja kita butuh biaya,” ungkap Kalis.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pola asuh, tetapi juga pada cara masyarakat membangun relasi sosial. Padahal, dalam konteks kehidupan bernegara, berbagai persoalan tetap harus dihadapi secara bersama.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pola asuh, tetapi juga pada cara masyarakat membangun relasi sosial. Padahal, dalam konteks kehidupan bernegara, berbagai persoalan tetap harus dihadapi secara bersama.
“Kalau kita bicara soal negara atau benacana, itu tidak ada boundaries. Kita tetap harus menghadapi semuanya secara kolektif,” tegasnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta yang berbagi pengalaman terkait tantangan pengasuhan di tengah sosial dan ekonomi. Dari pengalaman tersebut, mereka sadar bahwa parenting tidak hanya berkaitan dengan keluarga, tetapi juga erat hubungannya dengan kondisi struktural dalam masyarakat.




