MERAWAT Pesantren: Membangun Ulang Ruang Aman bagi Kesehatan Mental Santri

Kesehatan Mental

SUPI.id – Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina lewat program MERAWAT (Mental Health, Equility, and Reliational Wellbeing Transformation) Pesantren, menggelar kegiatan Workshop Penyusunan Modul Pelatihan Kesehatan Mental bagi Santri di Ruang Konvergensi ISIF Cirebon pada Sabtu 11 April 2026.

Di tengah meningkatnya trend seputar kesehatan mental, workshop ini hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menyusun modul pelatihan kesehatan mental santri yang kontekstual, partisipatif, dan aplikatif berbasis nilai-nilai KUPI.

Kegiatan ini menghadrikan dua narasumber utama yakni Bani Bacan Hacantya Yudanagara, Psikolog dan Ahli Kesehatan Mental serta Nur Rofiah, Anggota Majelis Musyawarah KUPI, dan turut difasilitatori oleh K.H Marzuki Wahid, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina.

Selain itu, kegiatan ini diikuti oleh sejumlah peserta yang terdiri dari pengasuh pondok pesantren, mahasantri, musyrif, dan representatif dari PeaceGen, serta beberapa peserta dari jaringan KUPI.

Dalam sesi pembuka, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina, Nyai Nurul Bahrul Ulum menyampaikan bahwa terbentuknya program MERAWAT Pesantren ini, lahir dari keresahan dan pengalaman hidup yang ia dapatkan dari pesantren.

“Saya punya kesadaran bahwa kesehatan mental itu dibutuhkan, terutama ketika menghadapi teman-teman mahasantri,” ucap Nyai Nurul.

Lebih lanjut, ia menceritakan temuannya ketika melakukan kunjungan ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Hasil temuannya dari sekitar 3000 santri, 2500 diantaranya pernah mengalami berbagai macam bentuk kekerasan yang dianggap lumrah bahkan dinormalisasi.

Berangkat dari pengalaman dan kegelisahan atas data yang ia temukan, Nyai Nurul bersama K.H Marzuki wahid kemudian mengagas sebuah sistem tentang bagaimana merawat mental di pesantren sebagai sebuah instutusi pendidikan yang aman dan sehat baik fisik maupun secara mental.

“Saya dan Abi (Marzuki Wahid) sebagai pengasuh, kami berupaya untuk menciptakan sistem kesehatan mental di pesantren,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Nyai Nurul menegaskan bahwa sistem kesehatan mental yang tengah dibangun di pesantren ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia dirancang dengan menggunakan perspektif Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), sebuah pendekatan yang menempatkan pengalaman kemanusiaan—termasuk pengalaman perempuan—sebagai pijakan utama dalam merumuskan sistem yang adil dan inklusif.

“Saya berharap lebih jauh bahwa hasil dari program ini, dapat menjadi prototype yang dapat diterapkan di berbagai pesantren, dengan KUPI sebagai gerakan yang dapat mendesimenasikan prototype ini,” tutupnya.[]