Kalis Mardiasih Bekali Mahasantri Keterampilan Menulis Storytelling

Kalis

SUPI.id –  Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina menggelar Workshop Penulisan bertajuk “Writing For Healing: A Storytelling Workshop on Santri Mental Health” pada Minggu 12 April 2026 di Ruang Konveergensi ISIF Cirebon.

Kegiatan ini bertujuan memberikan ruang pembelajaran sekaligus refleksi bagi para santri untuk menjadikan menulis sebagai sarana penyembuhan dan penguatan kesehatan mental.

Kegiatan tersebut menghadirkan Kalis Mardiasih, penulis dan aktivis perempuan Muslim Indonesia, sebagai pemateri utama.

Acara berlangsung dalam dua sesi, yakni “Writing Masterclass” pada pukul 13.30-15.00 WIB, serta dilanjut dengan “Coaching Session” pada malam hari pukul 20.00-21-30 WIB.

Stotytelling sebagai Ruang Healing dan Membangun Empati 

Dalam sesi Writing Masterclass, Kalis Mardiasih menyampaikan langkah-langkah mengawali sebuah tulisan, menyusun ide dengan cepat, serta memahami teknik penulisan storytelling agar cerita yang dibuat dapat tersampaikan dengan kuat dan menyentuh pembaca.

Lebih lanjut, para peserta diajak melakukan latihan menulis narasi storytelling yang jujur, serta membangun sudut pandang yang empatik terhadap pengalaman diri maupun orang lain.

Pada Sesi Coaching, peserta mendapat kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam, sekaligus memperoleh masukan langsung dari pemateri. Proses ini dinilai membantu peserta untuk lebih percaya diri dalam menuangkan pengalaman dan emosi ke dalam tulisan yang terstruktur.

Pada sesi penutupan, Kalis Mardiasih memberikan apresiasi kepada para peserta karena mampu menemukan ide hanya dalam waktu lima menit dan menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat.

“Kalian keren-keren banget. Dalam lima menit sudah mendapat ide dan bisa selesai menulis dalam waktu singkat.” Ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyematkan pujian khusus kepada para santri yang dinilai berani membuka diri melalui tulisan storytelling, meskipun hal tersebut tidak selalu mudah dilakukan.

“Kalian itu keren lho, karena berani membuka diri lewat tulisan. Tidak semua orang bisa jujur pada dirinya sendiri,” kata Kalis.

Tahu Apa yang Ditulis adalah Kunci

Dalam pernyataan penutup, Kalis menegaskan bahwa inti menulis adalah memahami dengan jelas apa yang ingin disampaikan, karena hal itu menentukan arah tulisan.

“Inti dari menulis itu sebenarnya sederhana yaitu tahu apa yang ingin ditulis,” tegasnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina, Nyai Nurul Bahrul Ulum, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada satu sesi saja, tetapi dapat terus berlanjut sebagai program yang berkesinambungan.

Ia berharap santri dapat terus mengembangkan tradisi kepenulisan yang memiliki perspektif dan nilai yang berpihak pada keadilan.

“Semoga kegiatan ini tidak hanya berhenti di sesi ini saja, tetapi bisa berkelanjutan. Harapannya tulisan santri punya perspektif SUPI-nya,” tutup Nurul.[]