SUPI.id — Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina menggelar diskusi bertajuk “Santri untuk Dunia” di halaman Rumah Joglo pada Minggu, 12 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, Annisa Fitria dan Hanifah Haris, yang berbagi pengalaman personal sekaligus refleksi tentang keberanian, identitas, dan pengembangan diri santri di tengah dinamika dunia yang semakin terbuka.
Dalam pemaparannya, Annisa Fitria mengisahkan latar belakang keluarganya yang kental dengan budaya patriarki, di mana perempuan dibatasi ruang geraknya dan diarahkan untuk berfokus pada ranah domestik. Ia juga menuturkan pengalaman culture shock saat keluar dari lingkungan yang selama ini membentuk nilai-nilai keislamannya.
Menurut Annisa, perjumpaan dengan realitas yang beragam justru memperluas cara pandangnya. Ia menekankan bahwa pengalaman di luar zona nyaman menjadi ruang penting untuk membentuk perspektif yang lebih terbuka.
Ia juga menyoroti pentingnya identitas diri sebagai sumber kekuatan untuk bertahan. Bagi Annisa, identitas sebagai muslim tidak semata dipahami secara simbolik, melainkan sebagai bagian dari kemanusiaan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa kepercayaan diri tidak hadir secara instan, tetapi perlu dilatih melalui pengalaman dan keberanian mengambil langkah.
Sementara itu, Hanifah Haris berbagi pengalaman yang tidak jauh berbeda. Sejak kecil, ia hidup dalam lingkungan yang menuntut kepatuhan pada nilai-nilai keislaman yang ketat. Namun, ia menemukan ruang kebebasan setelah menjalani kehidupan berkeluarga.
Hanifah menceritakan perjalanannya menempuh pendidikan tinggi saat telah memiliki empat anak, sekaligus aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Keterlibatannya di organisasi tersebut, menurutnya, menjadi pintu masuk untuk membangun jejaring dan mengembangkan kapasitas diri.
Dalam diskusi tersebut, Hanifah menekankan tiga aspek utama dalam membangun profesionalitas, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude). Ia menegaskan bahwa ketiganya harus berjalan beriringan, dengan sikap sebagai faktor penentu dalam menentukan posisi seseorang.
Kedua narasumber sama-sama menekankan pentingnya keberanian untuk memulai tanpa harus menunggu kesiapan yang sempurna. Mereka mendorong para santri untuk terus mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, serta berani keluar dari lingkungan yang tidak mendukung perkembangan diri.
Diskusi ini ditutup dengan pesan reflektif bagi generasi muda untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang melemahkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri, sebagaimana ditekankan para narasumber, merupakan hasil dari proses panjang yang dilatih dan diasah secara terus-menerus.[]




