Budaya Belajar, Sistem, dan Humanisme: Refleksi Kunjungan Akademik ke National University of Singapore

Rinrin

Dulu, nama National University of Singapore (NUS) hanya sebatas informasi yang lewat di percakapan. Pertama kali mendengar kampus ini adalah ketika lagi boomingnya game show edukatif yang diadakan oleh Ruangguru yaitu Clash of Champions (COC) Batch 1 yang mana, salah satu peserta yang populer merupakan perwakilan dari Kampus NUS. 

Yang paling menarik dari NUS adalah reputasinya yang sangat besar. Menurut, catatan My Education Republic QS World University Rankings 2026 baru saja menempatkan NUS di posisi 1 di Asia dan 8 di dunia. Data itu membuat saya kagum, tetapi juga membuat saya bertanya, apakah reputasi sebesar itu dapat saya rasakan langsung ketika suatu hari berada di kampus tersebut?

Bahkan ketika Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sempat menyinggung kemungkinan kami berkunjung ke NUS, imajinasi saya masih samar mungkin karena tidak ingin terlalu berharap. Karena itu, ketika kesempatan benar-benar datang, saya tidak bisa menunda kesempatan berharga itu. 

Kunjungan ini merupakan perjalanan akademik yang disusun jauh sebelum keberangkatan. Kesempatan ini hadir dari rangkaian kegiatan program PIT. Saat kami mendapatkan jadwal mengunjungi NUS, akhirnya saya bisa melihat langsung universitas yang sedang berada di puncak Asia menurut QS Rankings. 

Perbedaan kualitas yang selama ini dibicarakan orang benar-benar ketara ketika disaksikan sendiri. Apa sebenarnya yang membuat sebuah universitas ini dianggap terbaik? fasilitasnya? atau bahkan budayanya?

Begitu memasuki kawasan kampus, kesan pertama yang muncul bukan hanya kemewahan atau kemegahan, melainkan isi di dalamnya. Yang paling menarik perhatian adalah, ketika melihat bangunan-bangunannya  yang dirancang dengan fungsi, kenyamanan, dan efektivitas. Ditambah sambutan hangat dari Nur Diyana, seorang pustakawan perempuan di NUS, yang memiliki kharisma tersendiri. Kami diajak berbincang sebentar sebelum akhirnya diarahkan ke perpustakaan yang terletak di lantai 3. 

Hal pertama yang membuat saya berhenti sejenak ialah ketika pertama kali memasuki Central Library utama NUS yang berada di Kent Ridge, saya merasa seperti memasuki zona (hening), yang mana di tengah keramaian orang yang ada, tidak ada sedikitpun suara yang keluar, saya melihat semua mahasiswa di sana sibuk dengan versinya masing-masing, ada yang sendirian, ada juga yang berkelompok, tanpa mengeluarkan suara sekecil pun, bahkan tidak ada keramaian berlebihan yang mengganggu fokus. 

Ruangan itu menyambut dengan keheningan yang sama sekali tidak kaku, hening dalam artian hidup, hening yang terasa seperti energi yang mengalir dan bukan hening yang memaksa, membuat kita ingin ikut duduk, membuka buku, dan menjadi bagian dari mereka. 

Tidak hanya berhenti di sana, saya juga dibuat terpukau ketika melihat kebersihan lingkungan dan ritme orang-orang yang berjalan dengan tenang namun berorientasi tujuan.  Di moment itu, saya benar-benar merasakan perbedaan belajar yang selama ini saya dengar tetapi belum pernah saya alami secara langsung. 

Setelah menikmati suasana perpustakaan, kami diarahkan menuju sebuah ruangan untuk berdiskusi dengan Diyana. Saya berpikir diskusinya akan kaku tetapi justru sebaliknya mereka menyambut kami dengan antusias mengajak kami duduk dengan penuh keramahan, seolah kami bukan tamu dari negara lain tetapi sesama pembelajar yang dihargai. 

Sosok yang paling menonjol adalah Diyana, percakapan yang sudah bertahun-tahun mengelola berbagai layanan di central library. Cara beliau menjelaskan sangat runtut mulai dari bagaimana perpustakaan beroperasi sehari-hari bagaimana layanan digital di rancang, sampai bagaimana mahasiswa mengakses jurnal internasional melalui sistem terpadu NUS. Setiap poinnya tersusun jelas dan logis seolah ia sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum kami datang.

Diyana juga menerangkan bagaimana sistem katalog online dibangun agar mahasiswa tidak hanya menemukan buku yang dicari, tetapi juga menemukan literatur terkait yang bisa memperkaya riset mereka ia juga menjelaskan bagaimana pemilihan koleksi dilakukan melalui kombinasi riset kebutuhan, analisis perilaku membaca mahasiswa dan kerjasama dengan berbagai fakultas untuk memastikan koleksi telepon dengan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Namun, puncak perjalanan hadir setelah diskusi berakhir. Ketika kami hendak menutup pertemuan perhatian saya tertarik pada sosok perempuan yang duduk di bagian belakang. Beliau adalah Prof Noor Aisha Abdul Rahman. Beliau menyapa kami dengan senyum teduh, senyum yang tidak hanya ramah tetapi juga menenangkan seolah menyambut kami sebagai tamu yang sudah lama dinanti. 

Saat beliau mulai berbicara ada sesuatu yang langsung terasa berbeda titik cara beliau menyampaikan gagasan begitu jernih, tidak menggurui sama sekali, meskipun jelas sekali wawasannya sangat luas. Beliau memberi ruang bagi kami untuk bertanya, dan setiap pertanyaan dijawab dengan kesabaran yang besar dan memastikan kami untuk benar-benar mengerti bukan hanya sekedar mendapatkan jawaban. 

Profesor Aisha juga sempat menceritakan sedikit tentang perjalanan akademiknya bagaimana ia menampakan dunia pendidikan di Singapura bagaimana ia melihat perubahan lanskap riset di wilayah Asia, dan bagaimana NUS membangun budaya kolaborasi lintas disiplin yang menjadi salah satu kekuatan utama mereka.

Ada sesuatu yang berbeda dari beliau yaitu keramahannya tidak dibuat-buat, dan cara beliau mendengarkan membuat kami merasa dihargai. Beliau juga menceritakan sedikit tentang perjalanan akademiknya, sebagai salah satu dosen di NUS ia menjelaskan bagaimana dunia pendidikan di Singapura bergerak dan bagaimana lingkungan NUS mendorong kolaborasi lintas disiplin. 

Dalam setiap kalimatnya, saya bisa merasakan bahwa keunggulan NUS tidak hanya berasal dari sistem dan fasilitas tetapi juga dari manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. 

Di akhir pertemuan beliau memberikan sebuah buku. Kemudian, kami pun akhirnya berfoto bersama menandakan bahwa kami pernah berada di tempat yang mempertemukan rasa syukur, kekaguman, dan semangat belajar dalam satu waktu yang sama. 

Momen di perpustakaan NUS mulai dari mengikuti diskusi dan bertemu dengan Prof. Aisha menjadi highlight yang begitu terang dalam ingatan saya. Ini membuat saya semakin sadar bahwa keunggulan sebuah universitas tidak dibangun oleh bangunan dan peringkat saja tetapi oleh orang-orang di dalamnya. 

Melalui kunjungan ini, saya mengerti bahwa keunggulan NUS lahir dari pola pikir yang konsisten menghargai pengetahuan, merawat proses, dan menempatkan manusia sebagai pusat. Pertemuan dengan Diyana dan Prof. Aisha menunjukan bagaimana kualitas itu hidup dalam praktik sehari-hari. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh struktur, tetapi oleh manusia yang ada di dalamnya.