Menghidupkan Merdeka dari Ruang-Ruang Kecil Perempuan Migran 

Fuji

Perjalanan berharga itu dimulai pada 23 Juli 2025, ketika pelaksanaan Praktik Islamologi Terapan (PIT) Internasional resmi dimulai. Pelaksanaan ini merupakan salah satu ciri khas di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.  Berbeda dengan KKN pada umumnya, PIT justru mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengajar, akan tetapi belajar bersama di masyarakat, dengan melihatnya, merasakan, berkontribusi terhadap perubahan sosial. 

Dari situlah perjalanan ini menjadi titik awal hingga pada Minggu, 17 Agustus 2025, saya dan teman-teman PIT Internasional mendapatkan kesempatan yang sangat luar biasa dan sangat berharga ketika kami diajak oleh Bu Mimin Mintarsih, selaku ketua PCI Muslimat NU Malaysia untuk menghadiri perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Ranting Taman Datuk Rojali Ampang, Malaysia. 

Di tengah panasnya udara Malaysia, suasana itu justru sangat hangat dipenuhi dengan tawa, semangat, dan rasa kebersamaan dari wajah para perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berkumpul untuk merayakan kemerdekaan ala mereka sendiri. Hal ini tidak menjadi penghalang ketika mereka berada di tanah rantau yang jauh dari Indonesia, tetapi semangatnya tetap terasa.

17 Agustus ini menjadi momentum berharga bagi perempuan migran untuk merayakan HUT RI ke-80. Kegiatan ini diawali dengan lantunan marhabanan yang diiringi oleh kompang atau biasa disebut hadroh. Suasananya hangat, suara kompang yang khas mengingatjan pada kampung halaman tercinta.  Setelah itu, acara dilanjut dengan pemotongan tumpeng dan sesi makan bersama. Kebersamaan semakin terasa ketika lomba dimulai. Berbagai lomba yang  diadakan, mulai dari lomba balap kelereng, makan kerupuk, joget kursi, hingga lomba sederhana lainnya. Tidak ada hadiah yang besar, tetapi acara ini dipenuhi dengan rasa tawa dan kegembiraan yang terlihat para perempuan hebat ini. Hal ini menjadi simbol betapa semangatnya mereka menghidupkan makna kemerdekaan, meski di tahan rantau dan jauh dari Indonesia. 

Setelah berbagai lomba selesai, acara ditutup dengan momen yang tidak kalah seru dengan lomba, yaitu sesi berbagi hadiah atau gift sharing. Setiap orang itu membawa kado sederhana dengan isian bebas, lalu dikumpulkan dan dibagikan secara acak. Hadiah-hadiah itu berpindah dari tangan ke tangan sambil diiringi lagu-lagu Indonesia dan tawa, suasana ini menjadi penuh hangat dan kebahagiaan.  

Di balik wajah-wajah keceriaan perempuan migrann itu, tersimpan banyak sekali perjuangan yang sudah banyak mereka lalui. Banyak yang bertahun-tahun merantau, meninggalkan keluarga dan jauh dari anak demi kehidupan yang lebih baik. Semangat mereka sangat luar biasa tidak pernah berhenti. Lewat kegiatan seperti inilah para perempuan migran menemukan kembali rumah untuk mereka merasa hidup dihargai.

Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi hari kemerdekaan menjadi lebih hidup dalam semua kebersamaan itu. Tidak hanya seru-seruan lewat lomba, joget-joget, dan kegiatan seperti ini memberikan ruang aman bagi para perempuan migran untuk lebih leluasa berekspresi, tertawa, dan memberikan semangat satu sama lain. 

Muslimat Ranting Taman Datuk Rojali Ampang Malaysia lebih dari sekedar komunitas, tetapi juga menjadi keluarga, ruang aman, ruang untuk berbagi cerita, saling mendukung, dan belajar bersama untuk memaknai kemerdekaan dengan caranya sendiri. 

Kemerdekaan bagi mereka bukan hanya memiliki makna mereka yang berada di tanah air, tetapi juga memiliki makna bahwa mereka yang jauh, mereka yang tinggal di tanah rantau, berjuang di luar negeri. Perayaan sederhana di tanah rantau menjadi hal yang patut disyukuri dan menjadi pengingat bahwa sebuah nasionalisme tidak selalu diwujudkan dengan cara upacara, akan tetapi dengan kepedulian, mempunyai rasa empati terhadap sesama manusia, dan saling memberi semangat. 

Dari ruang-ruang kecil seperti inilah, rasa cinta terhadap tanah air tumbuh lebih kuat, dari para perempuan yang jauh dari tanah kelahirannya, namun hatinya tetap berada pada Indonesia. 

Momen sederhana di Ranting Datuk Rojali menunjukkan bahwa kemerdekaan itu tidak diukur dari perayaan tahunan yang mewah, akan tetapi dari perayaan sederhana di tanah rantau inilah yang menjadi makna kemerdekaan bagi perempuan migran.