Digitalisasi Manuskrip dari Indonesia untuk Dunia

Siti Robiah

Siapa yang tak mengenal National University of Singapore (NUS)? Salah satu kampus top di Singapore dan merupakan kampus terbaik di Asia yang masuk jajaran top campus secara global. Dalam peringkat terbaru QS World University Rankings (2026), NUS bahkan menduduki peringkat ke-8 dunia dan tetap menjadi universitas nomor 1 di Asia.

Tentunya sangat excited saat kami memasuki area kampus, rasanya sangat luar biasa, NUS yang sejujurnya hanya kudengar dari sosial media sekarang tak disangka aku datangi juga. Rasa kagum semakin bertambah  bukan  karena arsitektur, kebersihan, atau hanya karena ini kampusnya Sandy COC, tapi rasa kagum  semakin menggebu ketika menyadari betapa susah dan sukar bisa masuk ke sini. Kampus ini sudah dikenal dengan orang-orang cerdas di atas rata-rata; rasanya itu sudah cukup membuatku merasa kecil kadang. Tapi hari ini, kesempatan besar datang bukan hanya berkunjung, tapi beruntungnya kami diberikan akses sesi diskusi di perpustakaan bersama dengan Kak Diana.

Kak Diana pertama kali bertemu dengannya,  penuh semangat menyambut kami, mengenalkan diri dan menyapa dengan ramah. Kak Diana perempuan berhijab dengan pakaiannya yang panjang, mungkin kita sering menyebutnya syar’i jika di Indonesia. Cukup kontras saat di Singapura, bukan karena tak ada yang berhijab, tapi mungkin gaya berpakaian Kak Diana cukup berbeda apalagi di Singapura. Sepanjang kudatang ke sini, bisa kusadari memang dominan wajah Chinese sedikit wajah Melayu dan tentu saja tak banyak yang berhijab. Kak Diana datang dengan berbeda dengan pakaiannya—ahh senang pasti melihatnya. Kami dibawanya dengan langkah cepat, wajahnya tegas tak ramah senyum tapi entahlah tetap terasa hangat dan ramah.

Tak bisa bohong, senyum sumringahku  di setiap langkah dari pertama datang ke sini dan sekarang sedang berkeliling di NUS. Kami memasuki perpustakaan dan sungguh interiornya sangat cozy dan nyaman—kujamin siapa yang tak betah di sini.

Kami masuk ruangan yang memang butuh akses khusus jadi tak sembarang orang bisa bebas berkunjung. Kami menuju lantai atas, kulupa nomor berapa, tak lewat tangga tapi lewat lift saja. Hatiku hanya bergumam seperti di drama Korea yang sering kulihat, kenapa setiap dimensi dan unsur di Singapura, dari fasilitas sampai ke orangnya, terasa semuanya sangat berkualitas. Melihat mahasiswanya, sudah bergumam banyak, “Ohhh inikah potret manusia yang gila belajar dan IQ di atas rata-rata itu,” tuturku dalam hati.

Sampailah di lantai yang kita tuju. Memasuki lantai ini, tak ada habisnya lagi dibuat terkesima dengan koleksi kuno dari berbagai peninggalan masa lalu yang dipamerkan epic di lantai ini. Kami terus menelusuri ruangan hingga akhirnya sampai di ujung. Masih ada beberapa mahasiswa kulihat di sudut ruangan, tapi sudah terlihat beberapa kursi disusun khusus untuk diskusi dan yup benar saja di sana kami akan berdiskusi. Senyap, hening—benar-benar tak ada suara, tak ada yang mengobrol. Hanya terdengar gesekan buku yang dibuka dan kursi bergeser; selebihnya memang benar-benar hening. Bukan tanpa alasan pula pemilihan tempat di ujung sini, ialah  untuk menjaga kenyamanan pengunjung lain agar mereka tak merasa terganggu dengan kehadiran kita semua.

Pengalaman berkunjung ke NUS telah memberikan rasa nasionalisme lebih besar terhadap kekayaan sejarah Indonesia. Memang tak dipungkiri, sejak kedatangan ke Singapura pikiran ini terus membandingkan dengan negeri sendiri—bukan karena tak cinta, justru bukti cintaku. “Kapan ya kita bisa sama seperti Singapura?” Diskusi bersama Kak Diana bukan malah menggugurkan, tapi menambah cinta tanah air,  Kak Diana telah berhasil menyadarkan lewat  cerita tentang digitalisasi manuskrip yang selama ini sudah berjalan termasuk koleksinya dari Indonesia.

Kak Diana yang memang seorang pustakawan di sini menggambarkan kekayaan koleksi NUS yang memiliki sekitar 3 juta buku fisikal, e-journals yang jumlahnya sekitar 100 ribu judul. Jika e-books, sekitar dua tahun lalu sudah sekitar 1 juta dan sekarang mungkin sudah 1,5 juta judul online dan akademik, jelas Kak Diana.

Dalam diskusi ini, kami juga ditemani Profesor Aisyah, salah satu profesor hebat yang ada di sini. Kurang beruntung apalagi bukan? Tidak hanya berkunjung, tapi ini benar-benar diberikan akses dan fasilitas pengetahuan super eksklusif.

 

Sejarah Tentang Keterkaitan Singapura, Malaysia, dan Indonesia


Sebelum masuk ke sesi diskusi tentang digitalisasi manuskrip yang menjadi koleksi di sana, Kak Diana terlebih dahulu membawa kami menelusuri sejarah dan keterkaitan antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Hal ini penting disampaikan karena pada dasarnya kita memang memiliki banyak keterikatan. Manuskrip, jika diambil pengertiannya, berasal dari bahasa Latin manu (tangan) dan scriptum (tertulis). Menurut Siti Baroroh Baried (sering ditulis Barried), seorang tokoh akademis dan filolog senior di Indonesia, manuskrip bukan sekadar tulisan tangan, melainkan benda budaya fisik yang menjadi wadah bagi ide, sejarah, sastra, atau pengetahuan masa lalu.

Tentang koleksi Indonesia, Diana berkata, “Karena kami di Singapura dan sejarah kami erat dengan Malaysia, maka koleksi kami memang lebih banyak tentang Singapura dan Malaysia. Koleksi tentang Indonesia ada, tapi tidak sekuat koleksi di universitas-universitas di Indonesia.” Diana menuturkan bahwa jika menginginkan studi serius tentang Indonesia, maka tempat terbaik tentu tetap di Indonesia. Disebutkan pula bahwa kolaborasi aktif terus dijalin oleh NUS Library dengan berbagai perpustakaan di Indonesia. Jika terdapat pelajar NUS yang melakukan riset tentang Indonesia, maka perpustakaan-perpustakaan terkait akan dihubungi sehingga mahasiswa NUS yang sedang melakukan penelitian dapat melakukan akses riset dengan lebih lancar.

Manuskrip yang diceritakan Diana sebagai pengantar mengingatkan kembali tentang kekayaan intelektual Indonesia. Secara pribadi, ini menjadi pengetahuan yang luar biasa sekaligus tamparan bagi diri sendiri—bahwa aku justru disadarkan tentang pentingnya menjaga kekayaan negeri melalui orang lain yang notabene bukan warga Indonesia. Diskusi ini juga mengingatkan bahwa kita punya tanggung jawab untuk tahu dan memelihara warisan budaya negeri sendiri.

Diana mulai bercerita tentang pelbagai manuskrip tentang Indonesia, misalnya koleksi tentang Jawa yang jumlahnya sangat banyak. Ia menuturkan bahwa ketika para peneliti baru datang ke sini untuk membuat riset tentang East Indies, jurnal-jurnal awal yang muncul bernama Journal of the Royal Asiatic Society. Jika membaca judulnya, nampaknya seperti jurnal sains, tetapi sebenarnya mereka tidak hanya menulis tentang natural science, melainkan juga menyelipkan kajian sastra, budaya, dan karya-karya lain. Misalnya, syair-syair Raja Ali Haji atau Syair Nushabullah yang diterbitkan kembali melalui jurnal-jurnal tersebut.

Oleh karena itu, Diana menekankan pentingnya sikap kritis dalam meneliti setiap koleksi. “Jadi, kita harus ingat, walaupun nama koleksinya seperti itu, kita tidak akan tahu isi sebenarnya kalau tidak mendalaminya. Jangan sampai terpinggirkan. Kalau kita mau buat riset, kita harus masuk dan memahami: apa sejarah koleksi itu, bagaimana proses penerbitannya, dan siapa penulisnya. Ada orang yang sebenarnya ahli sastra, tapi dulu karyanya diterbitkan dalam jurnal sains. Jadi, jangan hanya terpaku pada judul luarannya,” jelasnya.

Penjelasan Diana sangat masuk akal. Dengan banyaknya koleksi yang dimiliki NUS, jika tidak diteliti dengan baik, kita mungkin tidak akan tahu bahwa di balik jurnal sains itu terselip berbagai naskah kuno berupa sastra dan lainnya yang telah dituliskan oleh para pendahulu kita. Diana juga bercerita tentang inisiatif kolaborasi terbaru NUS dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, khususnya tentang manuskrip Bugis-Makassar. Program ini telah membawanya untuk mendalami dan melakukan digitalisasi terhadap salah satu manuskrip kuno yang ada di Makassar.

Saat itu, Diana bersama timnya sedang membuat program tentang manuskrip Champa. Setelah itu, seorang profesor mengatakan bahwa ia memiliki kontak dengan sebuah keluarga pedagang dari Sulawesi yang dulunya berdagang di Singapura. Ternyata keluarga itu keturunan raja—namanya Daeng Padupa. Mereka masih menyimpan manuskrip keluarga, dan kemudian bertanya apakah manuskrip tersebut boleh diserahkan kepada NUS. NUS menerima, tetapi dengan syarat bahwa manuskrip itu harus dipulihara dan dikonservasi. Jadi, meskipun manuskrip itu didonasi, mereka tetap memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaganya.

Proses Digitalisasi Manuskrip

Rasa penasaranku semakin tinggi. Kenapa harus ke NUS, apakah negeri sendiri tidak mampu melakukan itu? Muncul juga rasa penasaran tentang seperti apa sebenarnya proses digitalisasinya. Tapi kubiarkan pertanyaan itu sambil terus mendengarkan Kak Diana yang sejak tadi bercerita dengan semangat tinggi.

 Diana kemudian melanjutkan pengalaman unik ketika menerima sebuah manuskrip yang didonasikan. 

“Jadi mereka datang, bila diberikan kepada kami, terus jatuh semua. Satu-satunya surat itu sudah pecah. Jadi kami harus conserve. Bunyi ceritanya memang seperti, oh baik hati orang ini mahu mendonasi kepada kita. Tapi realitinya, kami harus membiayai kos konservasi itu—$100,000. Seluruh prosesnya. RM100,000 hanya untuk konservasi, dan itu belum termasuk kos digitalisasi serta kos untuk penterjemahan. Ya, tapi ada pembayar pakar yang bisa menanganinya. Jadi, manuskrip ini sekarang berada di sini,” jelasnya sambil menunjukkan koleksi. 

Mendengar penjelasannya cukup memberikan gambaran bahwa ada proses panjang yang telah dilakukan, dan aku sadar—pantas harus ke Singapura; mungkin negeriku belum cukup dana untuk melakukan itu semua. Menurut Diana, banyak manuskrip itu ditulis dalam Bugis Lontara, tetapi ada juga yang menggunakan Jawi, bahasa Arab, dan bahasa Inggeris. “Ini menunjukkan bahawa penulis manuskrip ini sebenarnya sangat kosmopolitan.

Dia sudah mengenal dunia luar, tidak hanya Sulawesi. Dia seorang pedagang yang banyak berhubungan dengan orang-orang dari berbagai tempat,” tambahnya. Namun, proses penterjemahan manuskrip tidak selalu mudah. Aku kembali tertegun ternyata dana besar pun belum cukup menjadi jaminan, karena ada kendala besar lain yang dihadapi. Diana bercerita bahwa menurutnya di Universitas Indonesia itu mungkin agak konservatif orang-orangnya. Jadi ketika melihat ada kata-kata yang mereka anggap seperti mantra, mereka bilang tidak ingin menerjemahkan. Padahal sebenarnya itu ditulis dalam Jawi, dalam bahasa Melayu lama. “Saya sendiri bisa baca dan terjemahkan, dan itu jelas bukan mantra. Hanya doa-doa, seperti ‘Ya Waliullah, Ya Habibullah’, memberi salam kepada Rasulullah dan para sahabat,” tuturnya. Tapi karena mereka tidak mengenal, mereka salah tafsir. Ada juga yang bilang, oh ini manuskrip Syiah. Padahal bukan. Jadi memang kita harus cari translator yang lebih terbuka untuk menterjemahkan. Karena itu, Diana menegaskan bahwa mendapatkan manuskrip bukan berarti langsung bisa mengakses isinya untuk riset. “It’s not easy. Dapat manuskrip itu tak semestinya langsung kita boleh akses kontennya. Ada seluruh jaringan dan sistem yang harus dibangun: siapa yang akan menterjemahkan, bagaimana cara menterjemahkan, bahkan orientasi intelektual dan tradisi si penerjemah juga berpengaruh.”

Lebih lanjut, ia menyinggung soal tantangan bahasa. “Bugis Lontara tahun 1883 itu sangat berbeza dengan bahasa Bugis hari ini. Jadi, kita harus cari orang yang betul-betul faham cara orang dahulu menulis. Misalnya dalam manuskrip ini ada penjelasan tentang cara pembuatan kapal. Kita semua tahu kapal Bugis memang terkenal boleh berlayar jauh. Nah, dalam manuskrip ini dijelaskan bagaimana kapal itu dibangun, tetapi banyak istilah lama yang sudah tidak dipakai hari ini.” Untuk mengatasinya, NUS pergi langsung ke pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi. Mereka pergi ke Bulukumba, ke beberapa pusat pembuatan kapal yang terkenal. Diana memberi penjelasan, “Kami tanyakan ke para pembuat kapal sekarang, tapi mereka tak tahu istilah itu. Lalu mereka tanya kepada orang yang lebih tua. Akhirnya ada seorang pakar yang bilang, ‘Oh, nenekmu dulu memang menyebut cara buat kapal ini dengan istilah itu. Sekarang kita menyebutnya dengan kata lain.’”

 Perjalanan panjang ini banyak mempertemukan Diana dengan kesultanan Bugis yang masih ada sampai hari ini: dari Luwuk, dari Bone, dan beberapa yang lain. Mereka bertemu dengan para daeng, para keturunan bangsawan, dan dari merekalah mereka mendapatkan informasi tambahan. Menurutnya, manuskrip ini bukan hanya teks mati, tetapi bisa dihubungkan kembali dengan memori lisan dan tradisi yang hidup sampai saat ini. 

 

Penjelasan Manuskrip dari Kerajaan Goa sampai ke Daeng Padupa

Pengalaman tak kalah menarik bagi Diana terjadi saat mempelajari manuskrip dari Kerajaan Goa. Ia melakukan wawancara langsung dengan salah satu keturunan bangsawan yang kini menjadi pemangku adat, dan uniknya, pemangku adat tersebut adalah seorang perempuan. “It was very interesting,” jelas Diana, “sebab jarang kita lihat seorang perempuan menjadi sultanah atau pemangku adat, kebanyakan laki-laki.” Cerita Diana mengingatkanku pada hikayat-hikayat pemimpin di Nusantara. Setidaknya ada empat pemimpin perempuan Nusantara yang kuingat: Sultanah Safiatuddin Syah (1641–1675) yang memimpin Aceh dengan stabil dan mendukung kemajuan ilmu; Tribhuwana Tunggadewi (1328–1350) dari Majapahit yang menjadi tokoh penting dalam mengangkat Gajah Mada dan memulai perluasan kekuasaan; Ratu Suhita (1429–1447) yang menata kembali Majapahit setelah masa konflik; serta Ratu Shima (abad ke-7) dari Kalingga yang terkenal dengan hukum anti-korupsi yang keras sehingga kerajaannya dihormati dan tertib. Untuk kesekian kalinya, kita tidak kekurangan sumber daya kepemimpinan perempuan; para pendahulu kita telah melanglangbuana dalam kesuksesan di kursi kepemimpinan. Sungguh ini spirit yang harus dimiliki setiap generasi.

Dalam salah satu wawancaranya, muncul pertanyaan apakah pelayaran yang disebutkan dalam manuskrip itu memang mungkin sampai ke Singapura. Sebab dalam teks disebutkan, “saya belayar ke Pulau Ujung.” Pulau Ujung sendiri banyak tempatnya; asal ada kata “ujung,” sudah bisa disebut Pulau Ujung. Namun jika dilihat dari konteks arah, ia berlayar ke barat. Dari situ muncul hipotesis bahwa Pulau Ujung yang dimaksud bisa jadi adalah Singapura, sebab Singapura sendiri dulu sering disebut sebagai Pulau Ujung. Manuskrip itu juga menyinggung kisah Daeng Padupa yang disebut menikah dengan Hajjah Fatimah, seorang tokoh penting dalam sejarah Singapura. “Hajjah Fatimah ini dalam naratif selalu disebut menikah dengan seorang anak raja Bugis. Tapi siapa nama raja itu, siapa istrinya, dan bagaimana kisahnya tidak jelas. Sekarang dengan manuskrip ini kita bisa tahu lebih banyak. Ada nama anaknya, nama istrinya, dan detail lainnya,” terang Diana. Hal ini memperkaya pemahaman tentang sejarah, bukan hanya Indonesia, tetapi juga Singapura.

Manuskrip Daeng Padupa merupakan salah satu naskah Bugis–Makassar abad ke-19 yang memperlihatkan jejak intelektual dan mobilitas maritim masyarakat Bugis pada masa lalu. Ditulis dengan aksara Bugis–Makassar dan memuat campuran bahasa Bugis, Melayu, unsur Arab, hingga istilah Inggris, manuskrip ini merekam dinamika perdagangan, perjalanan, serta interaksi lintas budaya yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan kawasan lain di Asia Tenggara, termasuk wilayah yang kini menjadi Singapura. Terakhir, Diana menunjukkan salah satu manuskrip langka yang tersimpan di perpustakaan: Manuskrip Khamisah Arempung ke Pari-Pari, yaitu manuskrip tentang pembuatan keris yang berasal dari sekitar tahun 1600-an. File digitalnya sangat besar sehingga butuh waktu lama untuk dimuat. Manuskrip ini menjadi contoh bagaimana koleksi NUS tidak hanya berisi teks agama dan politik, tetapi juga mencakup warisan budaya material Nusantara.

Kolaborasi NUS bersama universitas-universitas di Indonesia dalam mendigitalkan dan menerjemahkan naskah turut mendorong Rektor Institut Studi Islam Fahmina yang saat itu hadir untuk ikut menjalin kerja sama. Marzuki merasa Cirebon memiliki potensi besar dan ada kebutuhan mendesak demi kepentingan masyarakat. Bukan tanpa alasan—ISIF juga pernah membersamai proses penemuan manuskrip. “Menurut saya sayang sekali ya kalau itu tidak dipublish, kami coba lacak dan coba kami lihat lagi,” ungkapnya. Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon sendiri pernah melaksanakan workshop restorasi naskah kuno di Keraton Cirebon pada tahun 2012 sebagai bentuk kepedulian kampus terhadap pelestarian manuskrip lokal. Kegiatan yang digelar bersama Manassa, PSBM Cirebon, dan Universitas Leipzig Jerman ini menjadi upaya nyata untuk merawat warisan intelektual daerah, sekaligus mendorong mahasiswa serta peneliti agar semakin dekat dengan tradisi pernaskahan yang merupakan bagian penting dari sejarah budaya Cirebon. Usulan ini disambut baik oleh Kak Diana; ia berharap bisa menjalin kerja sama dan membuat MoU dengan ISIF sebagai upaya bersama menjaga warisan budaya Nusantara

Manuskrip bukan sekadar peninggalan kuno yang cukup dikagumi, tetapi menyimpan berbagai dimensi luar biasa yang bisa terus kita pelajari. Digitalisasi menjadi langkah strategis dalam upaya perawatan dan pemeliharaan setiap manuskrip, sehingga generasi bangsa tetap terhubung dengan kekayaan sejarah yang telah diwariskan nenek moyang kita.