Dunia akademik terus memainkan perannya dalam bidang pengetahuan sehingga nantinya dapat diproduksi menjadi sebuah data. Hal ini tentu berkaitan erat bagaimana transformasi pengetahuan berbasis digital dengan membutuhkannya seorang pustakawan sebagai salah satu penggerak arsip data tersebut.
Namun masih menjadi catatan, ada sebuah ketimpangan gender terhadap produksi pengetahuan berikut akses yang amat terbatas bahkan tidak terinformasi sama sekali. Dimana disebabkan oleh stereotip yang dilekatkan oleh masyarakat kepada perempuan, entah itu dengan sebutan kurang akal karena katanya lebih mengedepankan perasaan daripada logika sehingga mereka dicap cacat dalam berpikir, termasuk perannya hanya dianggap di ranah domestik saja.
Disinilah pustakawan menjadi aktor kunci literasi dalam memberdayakan produksi-produksi pengetahuan yang adil gender serta bagaimana menunjukkan kapasitasnya dalam mendobrak arsip pengetahuan yang bias gender. Dan kini tengah hadir figur perempuan penjaga literasi global bernama Nur Diyana seorang pustakawan di kampus besar dengan peringkat terbaik sedunia serta nomor satu di Asia yaitu NUS (National University of Singapore).
Profil Nur Diyana
Diyana merupakan seorang pengajar literasi informasi di Perpustakaan NUS (National University of Singapore), dengan latar belakang pendidikan sebagai Sarjana (Hons) dalam Studi Melayu dari Universitas Nasional Singapura dan gelar Magister (MSc) dalam Studi Informasi dari Universitas Teknologi Nanyang, selain itu ia menjabat sebagai Ketua Matriks Pengembangan Koleksi dan Pendidikan di NUS.
Atas bidang informasi yang ditekuninya, Diyana memainkan perannya untuk terus berkontribusi dalam dunia akademis sehingga ia turut memastikan peradaban terus berjalan tanpa hambatan informasi yang disebabkan oleh ketidaktahuannya, sehingga kini memiliki fokus peran yang dijalankan olehnya.
Pertama, mengembangkan koleksi. Sebagai ketua dari Matriks Pengembangan Koleksi dan Pendidikan, ia berperan sejauh mana koleksi itu terus berkembang serta relevan agar memenuhi kebutuhan dalam aktivitas pembelajaran di seluruh fakultas NUS sehingga mewajibkannya riset dengan jangkauan yang lebih luas.
Kedua, memimpin pendidikan informasi digital. Di tengah keterbatasan informasi para akademis maupun peneliti, Diyana berupaya memastikan seberapa jauh mereka terinformasi atas koleksi tersebut sehingga sampai kepadanya. Hal ini ia upayakan melalui pelatihan literasi digital dengan membuka ruang-ruang diskusi baik secara online maupun offline.
Serupa ketika kami mahasantriwa SUPI (Sarjana Ulama Perempuan InPUBLISHsia) melakukan visit ke library NUS, menjelaskan secara gamblang bagaimana akses informasi digital ini dapat dicapai dengan mudah. Lebih jauh lagi dipaparkan atas koleksi-koleksi manuskrip yang telah di digitalkan sehingga dapat diakses secara bersamaan oleh khalayak umum.
Ketiga, pendampingan riset. Di tengah kesenjangan kalangan peneliti maupun mahasiswa, dimana terkadang mereka tidak cukup memadai dalam menekuni sumber ilmiah yang valid serta relevan bahkan sukar atas akses koleksi-koleksi yang didapatkan. Terlebih dari itu, keterbatasannya dalam mengarsipkan data-data dan arus globalisasi yang menekankan bertransformasi pada jejak digital.
Oleh karenanya, atas permasalahan yang kompleks terhadap kajian diatas diperlukannya pendamping dalam melakukan riset termasuk bagaimana mengelola data tersebut. Disinilah peran Diyana muncul dengan segala potensi di bidang informasi yang dimilikinya, agar para peneliti maupun mahasiswa dapat melaksanakannya dengan kapasitas yang berkualitas.
Keempat, menciptakan ruang dan struktur informasi yang adil gender. Sebagai pustakawan perempuan yang memiliki sensitivitas terhadap cara pandang patriarki yang mengakar kuat di lembaga pendidikan, ia menyadari bahwasannya ada ketimpangan informasi terhadap perempuan sehingga mereka tidak terinformasi atas sumber-sumber pengetahuan yang kini telah menyebar luas.
Terlebih dari itu, Diyana tersadar atas ketidakadilan gender dalam struktur pengetahuan melalui sumber arsip. Dengan begitu, ia berkomitmen menciptakan ruang yang adil gender dalam bidang yang ditekuninya, karena sejatinya baik perempuan maupun laki-laki mempunyai hak yang sama termasuk akses informasi serta struktur dalam bidang sumber pengetahuan ini.
Keterlibatan Diyana dalam Isu Gender dan Pengetahuan
Di tengah ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, baik itu suaranya tidak didengar serta pengalaman yang diabaikan menjadikan Diyana berempati besar dengan turut menciptakan ruang keadilan gender melalui bidang yang ditekuninya.
Ia berkomitmen bagaimana arsip informasi harus representatif serta berkeadilan dengan memproduksi koleksi-koleksi yang bermuatan keberpihakan terhadap perempuan, sumber pembelajaran yang diproduksi oleh perempuan, dan menciptakan program literasi yang mencerminkan keadilan.
Diyana juga menegaskan, bahwa isu keadilan gender tidak berhenti atas cara pandang saja, tetapi menjadi bagian penting dalam pengintegrasian ekosistem pengetahuan yang ia geluti saat ini.
Dampak menjadi Seorang Pustakawan Perempuan
Tidak hanya sebatas kerja profesional saja, menjadi pustakawan perempuan membuka sayap baru baginya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dengan mengangkat suara-suara perempuan yang telah diskriminasi sejak lama, dan menyebarluaskan cara pandang yang lebih adil terhadap perempuan.
Lebih jauh lagi, ia tengah mendobrak stereotip negatif yang di lekatkan oleh masyarakat terhadap perempuan yakni bagaimana perannya di ranah publik serta keterlibatannya sebagai salah satu aktor kunci dalam sumber pengetahuan global. Ini menjadi bukti bahwa perempuan tidak dapat dibatasi dengan ruang domestik saja, melainkan dapat melampaui hingga kancah global dengan potensi yang dimilikinya.
Hal diatas mengingatkan Diyana pada sebuah teori yang dikembangkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, bahwasannya identitas ganda di dalam dirinya sebagai perempuan Islam-Melayu bagian dari kelompok subaltern. Tetapi dengan keberadaannya di ranah kepustakawanan menjadikan dirinya mendapatkan ruang untuk terus bersuara atas keresahan-keresahan yang selalu berpihak pada kelompok dominan.
Dengan penuh kesadaran, baru-baru ini Diyana juga merancang sebuah program bernama Decolonial Dialogues dengan salah satu sesi nya yang membahas tentang “Perempuan Melayu Biadab?: Reframing Mala Women Beyond Colonial Narratives”, dari ruang diskusi ini menarik mahasiswa untuk mengkaji lebih dalam terhadap nilai-nilai keadilan, baik dalam riset maupun pengalaman hidup dalam kesehariannya.
Tantangan Diyana menjadi Pustakawan Perempuan
Tidak mudah baginya dalam menjalankan profesinya sebagai pustakawan dengan identitas gendernya, ia mengalami stereotip bahwa pekerjaannya hanya sebatas menyusun buku saja, padahal faktanya ia tengah menjadi aktor global dalam sumber informasi pengetahuan.
Dirinya juga sempat mengalami atas ruang lingkupnya yang bias gender walaupun relatif kecil, sehingga berpandangan terhadapnya perempuan tidak pantas menjadi pemimpin dalam ranah teknologi informasi.
Justru dari tantangan-tantangan ini menggugah semangat baru untuk terus memperbarui kompetensinya serta belajar giat lagi agar bertumbuh lebih baik, karena ia percaya potensi seseorang tidak dapat dibatasi oleh identitas gendernya tetapi sejauh mana ia memang mampu dalam bidang yang ditekuninya.
Atas kerja-kerja peradaban Diyana menjadi catatan bagi kita semua, bahwa perempuan dapat berperan aktif di ranah publik dengan segala potensi yang dimilikinya, bahkan dapat memberikan pengaruh besar dalam bidang literasi dan riset dengan jangkauan lintas negara. Termasuk bagaimana ia tengah berkontribusi dalam jangka panjang dengan memperkaya literatur-literatur yang dibutuhkan dalam dunia akademik.
Melalui peran Diyana sebagai pustakawan perempuan di ranah global, menunjukkan bahwasannya perempuan dapat berkontribusi aksi dalam kemajuan dunia dalam bidang pendidikan. Peran ia sebagai ketua Matriks Pengembangan Koleksi dan Pendidikan perlu disoroti karena tengah mendobrak konstruksi masyarakat atas narasi bahwa perempuan tidak pantas menjadi pemimpin.
Tak kalah penting juga dari perannya dapat meninjau bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama seperti laki-laki, baik itu atas akses informasi digital, kepemimpinan, dan ruang-ruang peradaban di ranah global.




