Menurut data dari Badan Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) jumlah penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) tahun 2024 sekitar 297.434 Penempatan. Dari besarnya angka tersebut, menunjukkan bahwa banyaknya jumlah warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. Dengan demikian banyaknya keluarga yang ikut merantau, termasuk anak-anak yang ikut tumbuh dan berkembang jauh dari tanah air.
Malaysia adalah salah satu negara yang menjadi tujuan utama Pekerja Migran Indonesia, baik dari sektor formal maupun informal. Kondisi seperti inilah yang membuat anak-anak PMI ikut terdampak. Anak-anak PMI terpaksa harus tumbuh dan menjalani masa kanak-kanaknya di Malaysia. Anak-anak PMI hidup dalam lingkungan yang beragam budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Selain itu, minimnya akses pendidikan yang berbasis kebangsaan Indonesia menjadi tantangan yang cukup rumit dalam pembentukan identitas mereka sebagai warga negara Indonesia.
Situasi tersebut saya temui ketika saya belajar bersama anak-anak PMI di salah satu sanggar belajar di Malaysia. Sanggar belajar ini didirikan untuk anak-anak PMI di Malaysia. Sanggar ini didirikan sebagai ruang aman dan ruang belajar alternatif. Sanggar belajar ini hadir dengan tujuan agar anank-anak PMI dapat mengakses pendidikan dasar. Karena mereka tidak bisa bersekolah di lembaga formal. Selain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, sanggar juga bertujuan agar anak-anak PMI ini tidak kehilangan identitas dan budaya asal mereka yaitu bangsa Indonesia.
Sanggar ini tidaka hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum saja seperti membaca, menulis, berhitung, akan tetapi sanggar ini menjadi ruang untuk mengajarkan mereka arti dari nilai-nila kebangsaan. Saat saya belajar bersama anak-anak PMI di sanggar, saya menemukan bahwa pengenalan budaya Indonesia lewat lagu-lagu daerah menjadi salah satu media yang menarik dan penting dalam proses pembelajaran mereka untuk mengenali Indonesia.
Pada awal pertemuan, saya mendapat kesempatan untuk mengajar mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Sebelum belajar, saya mencoba untuk braisntroming bersama anak-anak, lagu-lagu daerah apa saja yang sudah mereka ketahui. Ternyata tidak banyak, hanya beberapa saja yang mereka ketahui, itupun lagu-lagu yang memang familiar. Lagu-lagu tersebut pun hanya mereka hafal saja, tanpa mengetahui makna dari lirik-liriknya.
Pada saat itu, saya mencoba mengenalkan lagu daerah dari tanah kelahiranku, lagu Warung Pojok yang berasal dari daerah Cirebon. Respon pertama saat saya kenalkan lagu itu kepada anak-anak adalah mereka menunjukkan rasa penasaran, rasa keingintahuan. Lebih lagi, ketika saya mencoba menuliskan lirik, anak-anak sudah langsung menanyakan, “Bu, itu bahasa Jawa ya?”, mereka sangat sangat kritis menanyakan kata demi katanya. Pertanyaan sederhana itu menunjukkan bahwa antusiasme mereka terhadap bahasa dan budaya yang menurutnya asing, namun bagi mereka adalah sesuatu yang sangat menarik.
Setelah saya menuliskan lagu Warung Pojok, saya mencoba menyanyikan lagu tersebut, dengan nada yang khas Cirebon yang sederhana dan mudah diikuti. Anak-anak awalnya mendengarkan dengan seksama, lalu perlahan mengikuti dan menirukan potongan-potongan lirik yang mereka ingat. Suasana kelas menjadi lebih hidup, terasa lebih hangat. Beberapa anak tersenyum, tertawa kecil, dan mencoba mengulang bahsa yang menurutnya terdengar aneh. Mereka sangat menikmati proses belajar saat berlangsung dengan menyenangkan.
Mata pelajaran ini tidak berhenti pada momen dimana satu kelas menyanyi bersama. Kemudian saya menjelaskan sedikit makna dari lirik tersebut dengan bahsa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Anak-anak selalu menyela pembahasan saya, bukan berartib mereka tidak menegerti sopan santun, tetapi sikap mereka kembali menunjukan rasa keingintahuannya dengan menanyakan arti kata dalam lirik lagu tersebut, asal dari lagu, penggunaan bahasa, serta dimana letak daerah tersebut. Dari satu laagu daerah sederhana, percakapan tersebut berkembang menjadi diskusi menarik tentang Cirebon, bahasa daerah, dan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
Momen kecil dan hangat tersebut menjadi pengalaman reflektif yang sangat penting dan berharga bagi saya. Lagu Warung Pojok tidak hanya menjadi media hiburan, akan tetapi menjadi ruang untuk berdialog terkait identitas kebangsaan. Anak-anak PMI mulai mengetahui, menyadari bahwa Indonesia ini terdiri dari banyaj daerah dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Dengan hal ini, lagu daerah menjadi jembatan untuk anak-anak PMI lebih mengenal Indonesia secara lebih dekat.
Pengalaman di sanggar ini menunjukkan bahwa penanaman nasionalisme pada anak-anak PMI ini tidakj harus dilakukan dengan cara-cara kaku, dan keras. Nasionalisme ini bisa tumbuh melalui pengalaman belajar yang cukup menyenangkan, tidak tegang, namun sangat bermakna. Melalui lagu-lagu daerah, dengan lirik yang sederhana, irama yang mudah diingat, ini juga bisa menjadi salah satu media untuk membangun ketertarikan anak-anak pada budaya Indonesia.
Bagi anak-anak PMI, yang tumbuh di luar negeri, yang hanya mengenal Indonesia lewat media sosial saja, kini lagu daerah menjadi media yang sangat berharga. Melalui lagu-lagu daerah ini, anak-anak bisa mengenal beragamnya bahsa daerah, cerita-cerita yang ada dalam lagu tersebut, maknda dari lirik tersebut, serta nilaia-nilai yang terkandung dalam kearifan budaya lokal. Lagu daerah sangat membantu bagi anak-anak untuk merasakan bahwa Indonesia itu bagian dari diri mereka, meskipun memang mereka hidup jauh darj Indonesia, tanah air yang mereka cintai.
Dalam hal ini, keberadaan sanggar juga menjadi sangat penting dalam menumbuhkan jiwa nasionalaisme anak-anak PMI. Sanggar tidak hanya berperan untuk keterbatasan mereka mengakses pendidikan formal, tetapi sanggar sangat berperan penting untuk menjadi ruang pelestarian budaya, pelestarian kebangsaan. Melalu pendekatan budaya lewat lagu-lagu daerah, sanggar bisa menghadirkan pendidikan yang menyeluruh yang mencakup sosial, budaya, dan kebangsaan.
Tentu saja, untuk memperjuangnkan ini banyak sekali tantangan yang dihadapi. Keterbatasan materi pembelajaran, tenaga pendidik dari lintas daerah ini sangatc mempengaruhi dengan apa yang akan mereka sampaikan kepada anak-anak, waktu belajar yang terlalu singkat pun seringkali dihadapi.
Oleh karena itu, untuk membangun nasionalisme anak-anak Pekerja Migran Indonesia menjadi tugas bagi kita semua, menjadi tanggung jawab bersama. Lagu-lagu daerah bisa menjadi salah satu media sederhana untuk menanamkan rasa cinta kepada tanah air dan menjadi kebanggan budaya, dan warisan Indonesia. Anak-anak Pekerja Migran Indonesiua bisa tetap mengenal, mencintai, dan menajdi bagian dari bangsa Indonesia, meskipun mereka tumbuh, berkembangb, dan berproses di perantauan, Malaysia.




