Saat pertama kali mencari tahu mengenai Sharifah, saya bisa merasakan energi yang dipancarkan bahkan hanya melihatnya melalui gambar yang ada di website Rohingya Women Development Networking (RWDN). Sebagai warga negara Indonesia, yang seringkali dijadikan tempat Rohingya singgah. Saya sendiri sempat memiliki asumsi dan stigma negatif terhadap mereka. Hal ini tentunya terpengaruh dengan berbagai kontroversi dan isu yang tersebar di media. Sampai akhirnya saya bertemu dengan komunitas perempuan Rohingya di Malaysia.
Pertemuan ini yang membuat saya mencari tahu mengenai realitas yang sebenarnya terjadi terhadap masyarakat Rohingya, sehingga pada akhirnya saya bisa melihat mereka dengan perspektif yang lebih adil. Melansir dari website BBC Indonesia, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan Rohingya sebagai minoritas agama muslim dan bahasa yang berasal dari Myanmar Barat. Komunitas Rohingya menjadi salah satu minoritas yang paling didiskriminasi dan dipersekusi yang ada di dunia merupakan masyarakat yang mendapatkan berbagai diskriminasi hingga pembunuhan dari tempat asalnya sendiri.
Realitas diatas merupakan salah satu alasan dari banyaknya masyarakat Rohingya kabur dari Myanmar melalui jalur laut dan darat. Mereka mencoba bertahan dan menyelamatkan diri, pergi dari Myanmar tanpa tujuan kemana mereka akan pergi. Dunia yang begitu kejam terhadap mereka, kekerasan, stigma hingga diskriminasi dirasakan oleh komunitas Rohingya. Tidak terlepas dari para perempuan dan anak yang juga memiliki tanggungan yang berlapis.
Sharifah Shakirah menjadi salah satu dari banyaknya perempuan Rohingya yang mengalami diskriminasi. Pada umur 5 tahun ia tidak diberikan hak sebagai warga negara Myanmar, dan bahkan di diskriminasi. Genosida yang terjadi pada abad-21 membuat Sharifah yang masih berumur 5 tahun itu kabur bersama keluarganya. Yang paling menyedihkan menjadi seorang Rohingya adalah cara mereka bertahan hidup. Masyarakat Rohingya harus rela diperdagangkan hingga rela diselundupkan ke negara tetangga.
Shakirah masuk ke Malaysia sebagai anak kecil yang menggenggam harapan mendapatkan hak sebagai Rohingya dari Burma. Hak Selayaknya manusia yang memiliki tempat tinggal, rasa aman, pendidikan hingga diakui sebagai Rohingya yang juga manusia. Akan tetapi pada akhirnya, Shakira menyadari bahwa ia tinggal di Malaysia sebagai seorang pengungsi. Begitupun status kewarganegaraan yang ilegal, sangat berpengaruh terhadap kehidupan Shakirah. Yang menjadikan Sharifah seringkali tidak percaya diri, ketakutan bahkan dihakimi dan ditolak.
Sharifah Shakirah tumbuh sebagai perempuan yang memiliki tekad dan keberanian yang kuat. Keberanian itu pun membawanya mendapatkan kesempatan dan pengaruh besar terhadap komunitasnya. Pada Tahun 2012, Shakirah mewakili rakyat Rohingya untuk memperjuangkan hak-hak Rohingya. Ia terus mencoba berbagai advokasi dengan juga memberdayakan masyarakat Rohingya, agar diakui dan bisa kembali ke Myanmar sebagai tanah air mereka. Setiap proses advokasi tersebut membawanya pada inisiasi membuat komunitas Rohingya sebagai ruang aman yang bernama Rohingya Woman Development Networking (RWDN).
Rohingya Woman Development Networking (RWDN) adalah komunitas yang dibuat Shakirah sebagai safe space bagi para korban, terutama perempuan. Kepemimpinan Shakirah lahir dari pengalaman hidupnya yang penuh diskriminasi, kekerasan dan statelessness. Pengalamannya tersebut membawa Shakirah pada optimisme dan empati sebagai modal gerakan yang ia bangun pada tahun 2016. Membentuk RWDN sebagai tempat bertumbuh masyarakat Rohingya khususnya perempuan. Sebagaimana Shakirah, ia juga ingin memanfaatkan modal resiliensi yang dimiliki masyarakat rohingya sebagai modal bertumbuh, memiliki skill dan pengetahuan baru sehingga bisa bermanfaat untuk diri mereka dan orang lain.
Melansir dari website RWDN, komunitas ini berdiri dengan visi dan misi menciptakan komunitas masyarakat rohingya yang dapat berdaya melalui pendidikan, pelatihan, keterampilan hingga advokasi dengan berkolaborasi bersama dengan laki-laki dan perempuan.
Visi misi yang dimiliki RWDN ini benar tercurahkan saat saya melihat sendiri bagaimana mereka memberikan pendidikan kepada perempuan dengan melatih kemampuan membaca hingga berbahasa inggris. Selain itu RWDN juga melatih skill menjahit para perempuan agar mereka mandiri secara ekonomi. RWDN memulai komunitasnya dengan 30 perempuan. Hingga saat ini terhitung sudah melayani ribuan keluarga dan memiliki 100 pemimpin perempuan di komunitas yang memberdayakan komunitas lain untuk memperjuangkan hak-hak Rohingya.
“They tried their best to stop me from what I do… But I continued to work on social issues”
Dalam perjalanan kepemimpinan Shakirah membangun komunitas, tentu tidak terlepas dari berbagai stigma yang ia terima sebagai perempuan. Benar sekali, meskipun ia memperjuangkan hak-hak masyarakat Rohingya tetapi berbagai tekanan dan serangan justru juga datang dari lingkungannya sendiri. Shakirah dianggap ‘aib’ karena ia menyuarakan isu-isu sosial dan isu perempuan. Bahkan tidak sedikit yang memintanya untuk menikah saja, dibarengi juga dengan berbagai ancaman pelecehan. Meskipun begitu, Shakirah justru tidak berhenti dan terus melakukan banyak hal untuk komunitasnya.
Kepemimpinan Shakirah yang lahir dari pengalaman masyarakat terpinggirkan dan luka kolektif yang dialaminya ini menyuguhkan perspektif yang berbeda dalam konsep lahirnya seorang pemimpin. Dalam beberapa realitas, kepemimpinan seseorang lahir dari pendidikan yang tinggi hingga akses yang terbuka lebar. Berbeda dengan shakirah, pengalaman bertahan hidup, keberanian hingga empati sebagai modal utama dalam perjuangannya untuk melakukan transformasi sosial.
Membaca perjalanan hidup Shakirah hingga membangun komunitas RWDN, rasanya sangat kagum. Bagaimana ia menyediakan ruang aman yang memberdayakan perempuan-perempuan didalamnya, mengajarkan berbagai pengetahuan dan skill sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin komunitas baru yang empatik, resilien, transformasional serta bergerak di akar rumput.
Sharifah Shakirah telah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berasal dari masyarakat terpinggirkan mampu menunjukkan keberanian mereka. Keberanian untuk bertahan hidup, keberanian untuk berbeda dan bertumbuh dengan konsistensi menuju transformasi sosial. Shakirah juga tidak berjalan sendirian, ia berani membawa dan mempengaruhi masyarakat Rohingya di sekitarnya untuk bertumbuh dan berdaya.




