Tentu saja banyak hal membekas selama masa PIT PAR Internasional di Malaysia, namun jika diharuskan memilih maka cerita yang kutuliskan kali ini, adalah sesuatu yang berhasil membuatku berefleksi panjang, setelah hampir sebulan penuh mengajar di sana. Ialah gaya kritis anak-anak dan cara pendisiplinan yang masih memakai rotan.
Dua hal ini, bagi diriku yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Indonesia, terasa sangat kontras. Di sini, rotan bukan hanya tabu, bahkan sedikit saja guru melakukan tindakan yang dianggap kekerasan karena bisa berujung ancaman hukum. Ya mungkin dalam konteks zaman dulu penggunaan rotan atau tindakan kekerasan adalah hal normal dilakukan, tapi bagiku yang tidak pernah mengalami ini terasa tabu, apalagi jika mengingat gaya belajar dengan menggunakan kekerasan apa pun bentuknya sudah keras di larang. Bahkan kadang, segala alasan yang digunakan guru meski untuk kebaikan siswa selam dijalani dengan kekerasan maka yang salah adalah gurunya, bahkan banyak yang terancam pidana atau minimal di pecat tidak hormat.
Tetapi di sana, rotan hadir sebagai bagian dari budaya, bukan teror kekerasan. Dan yang lebih mengejutkan, justru dari ruang belajar yang seperti ini lahir anak-anak yang hangat, berani, dan sangat kritis.
Sambutan Hangat
Hari itu akan kuingat, pertama aku mengajar masih jet lag, pundak sakit menggendong tas berat, mata perih karena kurang tidur sirna begitu saja ketika anak-anak menyambut kami dengan sorakan, tawa, dan pelukan. Mereka mencium tangan, menyapa walau pertama kali bertemu, dan menunjukkan kasih sayang dengan cara yang hangat, tulus tanpa malu.
Mungkin akunya yang tidak terbiasa. Kehangatan mereka terasa begitu tulus dan ada sesuatu yang jarang kutemukan dalam banyak ruang pendidikan formal di Indonesia. Hal ini berjalan dari pertama kali datang sampai detik kami pulang, sangat terasa berat meninggalkan mereka. Setiap hari kami sering dipeluknya, tiba-tiba ikut bersandar, mengjak kami mengobrol lama, memuji cantik dan tampan sering juga.
Kedekatan emosional ini tentu tak terlahir begitu saja ada pola yang terus terulang, bukan pada KKN kami saja mungkin pada setiap mahasiswa yang mengajar di sana. Mengamati dan menganalisis jauh, apa yang membuat anak sanggar lebih mudah terikat emosional. Seperti yang disampaikan pendirinya Mimin Mintarsih, menurutnya hal ini terjadi karena mereka kurang mendapat kasih sayang dalam keluarga karena rata-rata keluarga mereka sibuk bekerja.
Rotan Sebagai Simbol Disiplin Kultural
Metode mengajar yang masih menggunakan rotan tak kalah menarik perhatianku. Rotan digunakan sebagai media pendisiplinan gar mereka nurut dan tidak berisik. Di sana, anak-anak luar biasa gaduh, sangat tidak kondusif dan bisa mengganggu kelas lain. Teriakan saja tidak akan cukup mereka tidak akan menggubris. Awalnya aku merasa penggunaan rotan itu berlebihan, menilai ini sebagai kekerasan.
Khawatir sekali anak-anak menjadi takut, selain itu metode guru yang masih ada yang memukul langsung menjadi keresahanku juga. Gelisah sangat, tapi di satu sisi tidak ada cara lain untuk membuat mereka diam mungkin untuk beberapa detik.
Kita bisa melihatnya sebagai bentuk kekerasan dan mungkin banyak pula yang menyayangkan. Tak adil rasanya jika menghakimi dari susut pandang kita saja, sebuah fakta mengejutkan dibalik alasan penggunaan rotan cukup membuatku mengerti lebih dalam.
Sanggar itu berada dekat dengan pemukiman warga, terdiri dari 2 lantai dengan total hampir 179 anak. Mereka jelas sangat berisik dan gaduh mengingat di rumahnya tak mungkin ada ruang pertemuan dengan teman dan tak bebas seperti di sanggar. Maka tak heran Sanggar menjadi ruang mereka berekspresi dengan bebas. Hal ini, jika tidak dikontrol akan mengganggu kenyamanan warga sekitar. Terbukti, beberapa warga suka mengeluh terganggu dengan kehadiran anak-anak. Lebih parah dari ini ialah adad warga yang mengadu ke kepolisian setempat sehingga pernah rumah Mimin Mintarsih didatangi langsung oleh mereka.
Kekhawatiran lebih jauh ketika pengaduan disampaikan ke lembaga lain selain polisi, karena otomatis sanggar ini akan diselidiki dan kemungkinan bisa ditutup. Mengingat sanggar juga tak punya kekuatan hukum dan menjadikannya sangat rentan. Maka, usaha paling memungkinkan adalah dengan menertibkan anak agar tidak mengganggu kenyamanan warga. Kalau tidak berhasil dengan metode ramah ya gunakan rotan.
Rotan menjadi simbol disiplin, bukan intimidasi. Tegurannya sebagai pengingat bahwa ada aturan yang perlu ditegakkan. Mungkin dalam konteks Indonesia hari ini, rotan sudah hampir lenyap dari sekolah dan dianggap tidak manusiawi dan berpotensi kekerasan. Namun di sanggar rotan dibutuhkan sebagai upaya agar sanggar bisa tetap memenuhi kebutuhan pendidikan anak migran tanpa banyak khawatir akan diberhentikan.
Anak-anak yang Kritis dan mental Berani
Rotan mungkin cukup menarik dibahas, tapi gaya kritis dan keberanian mereka tak kalah menarik perhatian. Ketika sehelai rambutku terlihat, mereka spontan berkata, “Bu, auratnya terlihat.” Ketika aku salah menulis, mereka langsung mengoreksi. Saat diberi kesempatan, mereka berebut maju untuk menjawab. Tak peduli dulu salah sebenarnya mereka suka ketika maju ke depan dan mencoba. Mereka tidak malu mengakui ketidaktahuan. Mereka teliti, peka, dan sangat responsif.
Ini membuatku bertanya: Mengapa dengan fasilitas yang sangat terbatas, kelas seadanya, dan interaksi keluarga yang tidak terlalu intens, masih menggunakan rotan sebagai pendisiplinan mereka justru tumbuh menjadi subjek pendidikan yang aktif, bukan pasif?
Dalam teori Paulo Freire, pendidikan ideal bukanlah ruang tempat murid duduk diam menerima pengetahuan seperti menabung uang di bank model yang ia sebut banking system of education. Bagi Freire, pendidikan harus menjadi praktik pembebasan yang memungkinkan peserta didik membangun kesadaran kritis (critical consciousness) terhadap dirinya, orang lain, dan dunia sekitarnya.
Mereka berani menyanggah, bukan karena kurang ajar tetapi karena tak perlu segan dan malu jika tak sesuai dengan apa yang mereka pahami. Mereka berani bertanya, bukan karena ingin mencari perhatian tetapi karena rasa ingin tahu mereka yang tinggi. Mereka menjadikan guru sebagai mitra berpikir, bukan sebagai figur otoritas yang tidak boleh dipertanyakan.
Refleksi Diri
Ketika berinteraksi dengan anak-anak di sanggar, aku langsung menyadari perbedaan signifikan antara pengalaman belajar mereka dan pengalamanku sendiri ketika tumbuh dalam sistem pendidikan Indonesia. Dalam pengalamanku, ruang kelas lebih diwarnai rasa takut salah, takut bertanya, dan kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian guru. Atmosfernya formal; guru ditempatkan sebagai otoritas tunggal, sementara murid diposisikan sebagai penerima pasif.
Pola itu tidak hanya membentuk cara belajar, tetapi juga cara berpikir. Ketidakberanian bersuara terasa seperti norma. Kontrasnya sangat jelas ketika aku mengajar di sanggar. Anak-anak di sana memperlihatkan karakter yang hampir berlawanan. Mereka aktif berbicara, vokal, percaya diri, dan memiliki keberanian moral untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau mengoreksi guru. Mereka tidak menunggu diarahkan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat.
Yang menarik, semua ini tumbuh dalam konteks pendidikan yang fasilitasnya terbatas dan masih menggunakan pendekatan disiplin tradisional, termasuk rotan. Namun meskipun pendekatan pendisiplinannya konservatif, keberanian justru berkembang kuat. Anak-anak diposisikan sebagai individu yang suaranya penting sebuah kondisi yang seharusnya diterapkan. Ini menjadi pengingat bagiku sebagai orang yang sedang menimba pengetahuan dalam dunia pendidikan, agar menempatkan dan melatih murid menjadi jiwa yang aktif dan kritis.
Dari sanggar itu aku belajar bahwa efektivitas pendidikan tidak hanya terletak pada kelengkapan sarana, melainkan pada budaya belajar yang dibangun. Bukan pada bangku atau gedungnya, tetapi pada interaksi antara guru dan murid. Bukan pada bentuk disiplin yang digunakan, tetapi pada nilai yang mendasari proses belajar. Ruang kelas yang sederhana pun dapat menghasilkan anak-anak yang kritis dan vokal jika mereka diberi ruang untuk menjadi subjek pendidikan. Anak-anak migran tak menjadikan keterbatasan tempat untuk diam, tapi tetap menemukan kebebasan diri menjadikannya tempat bermain sekaligus penanaman moral dan mental dibalik segala kerentanan yang ada.




