Siapa yang Disebut Melayu?

Fikri

Salah satu destinasi kunjungan kami di Singapura selanjutnya adalah Merlion Park, taman ikonik di Singapura yang berlokasi di tepi Marina Bay, terkenal karena menjadi rumah bagi patung Merlion yang legendaris. Namun, sebelum memasuki kawasan Merlion Park, kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di area Singapore River atau sungai Singapura, di sana kami beristirahat sambil berdialog dengan kak Imran Thaib, seorang aktivis lintas iman dari Singapura. Ia dikenal karena partisipasinya dalam dialog dan kegiatan yang mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Meskipun ia seorang aktivis lintas iman, namun pengetahuannya tentang sejarah tidak dapat diragukan.

Dalam sesi dialog ini, kak imran banyak berbicara tentang sejarah, salah satunya adalah sejarah Singapore River, sungai kecil yang sangat bersejarah di Singapura ini mengalir dari kawasan tengah ke laut. Sungai ini juga berperan penting dalam sejarah awal Singapura sebagai pusat perdagangan yang kini menjadi tujuan wisata populer. Sejak dahulu, awal abad ke-19, Singapore River memiliki peran vital dalam menghidupkan kota pelabuhan ini, ” pada masa lampau, kapal-kapal besar akan berlabuh di muara, lalu barang-barangnya dipindahkan ke perahu-perahu kecil dan dibawa masuk ke sungai ini “, ucap kak imran. Lebih lanjut, Kak imran menceritakan bahwa dahulu di tepian sungai ini merupakan tempat tinggal warga asli Singapura, “Kawasan sepanjang sungai dulunya dihuni oleh orang laut, masyarakat adat yang hidup di perahu-perahu. Mereka adalah komunitas asli Singapura, yang kehidupannya sangat bergantung pada laut”.

Sejak abad ke-19, Singapore River selain jadi jalur perdagangan, Singapore River juga berfungsi sebagai ruang pertemuan berbagai etnis yang datang membawa berbagai kepentingan seperti, berdagang, berpetualang, atau menyebarkan ajaran ajaran tertentu. Ditepian sungai, para pedagang yang berasal dari berbagai budaya dan etnis saling berinteraksi dalam hal jual beli. Aktivitas bongkar muat barang, negosiasi dagang, dan lalu-lintas perahu menjadikan sungai ini ajang percampuran ragam etnis.

Selain kak imran yang bercerita tentang Singapore River, Pak Idris ( salah satu teman kak imran ) menceritakan bagaimana sejarah kedatangan British ke Singapura, yaitu memiliki kepentingan strategis, mereka ingin menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara. Sir Stamford Raffles ( tokoh paling berjasa di Singapura ) mendarat di Singapura dan melihat potensi besar pulau kecil ini sebagai pelabuhan bebas yang dapat menandingi dominasi Belanda. Dengan memanfaatkan posisi Singapura yang berada di persimpangan jalur pelayaran internasional.

Lebih lanjut, pak idris juga menceritakan kategorisasi etnis Melayu yang dilakukan oleh British untuk memudahkan administratif, ” Ketika British datang dan mulai mengontrol wilayah ini, mereka memerlukan cara yang mudah untuk administrasi. Maka semua orang yang berasal dari Jawa, Bawean, Bugis, Madura, Rembang, Cirebon, dikategorikan sebagai Melayu”.

Dalam hal ini, saya ingin menulis sebuah artikel dengan judul ” Sejarah Singapore River dan Kategorisasi Etnis Melayu oleh British “, hasil kunjungan ke Singapura dan berdialog dengan beberapa tokoh di sana.

Seperti yang telah disinggung di awal, sejak dahulu Singapore River tumbuh menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai komunitas yang datang dari seluruh asia. Di sepanjang sungai inilah etnis Melayu dan Bugis memiliki peranan penting sebagai pelaut, yang mana perahu-perahu mereka membawa hasil bumi, rempah-rempah, serta barang kerajinan dari wilayah Nusantara. Sedangkan komunitas Tionghoa mengisi kawasan ini dengan membuka rumah toko, gudang, dan layanan jasa bagi para pedagang yang singgah, dan pedagang yang berasal dari etnis lainnya. Di sinilah Singapore River menjadi lebih dari sekadar jalur perdagangan, ia menjadi ruang aktivitas pencampuran sosial dan budaya, tempat transaksi ekonomi berlangsung berdampingan dengan pertukaran bahasa dan tradisi.

Setelah sedikit mengupas mengenai sejarah dan peran Singapore River, kali ini saya akan membahas tentang kategorisasi etnis Melayu oleh British. Dalam sesi dialog ini, pak idris  menuturkan bahwa British melakukan kategorisasi etnis untuk memudahkan administrasi, konsep ini berangkat dari cara pandang kolonial bahwa masyarakat pribumi dan migran kolonial harus dikelompokkan secara tegas agar lebih mudah diarahkan, diatur, dan diprediksi perilakunya. Semua orang yang berasal dari Jawa, Bawean, Bugis, Madura, Rembang, Cirebon, dikategorikan sebagai “Melayu.” Jadi, di sinilah muncul definisi Melayu yang lebih luas. Ada definisi politik, ada definisi etnis.

Jika dalam definisi politik, pak idris menjelaskan, ” misalnya dalam negara-bangsa Malaysia, “Melayu” haruslah berbahasa Melayu, berbudaya Melayu, dan Muslim. Jadi ada unsur agama yang dimasukkan. Padahal dalam sejarahnya, Melayu tidak selalu identik dengan Islam. Dulu ada Melayu yang Buddha, ada Melayu yang Hindu. Bahkan kini masih ada orang Melayu yang berpindah ke agama lain. Tetapi menurut konstitusi Malaysia, jika tidak Muslim, maka ia tidak lagi dianggap Melayu.

Berbeda dari definisi politik yang kaku, definisi etnis tentang Melayu jauh lebih fleksibel. Dalam dialognya, kak imran menuturkan bahwa Definisi etnis lebih cair. Dulu, orang Arab yang datang ke Nusantara menikah dengan orang setempat, berbahasa Melayu, berpakaian dengan sarung, dan hidup seperti masyarakat setempat. Mereka tidak menyebut diri sebagai Arab, tetapi “Jawi.” Identitas Jawi adalah identitas kosmopolitan, yang menghubungkan budaya lokal dengan dunia Islam yang lebih luas.

” Kini situasinya berbeda. Di Malaysia, menjadi Melayu memiliki privilege. Ada kepentingan politik, karena Melayu adalah etnis dominan dan berkuasa. Tetapi di Singapura, Melayu adalah minoritas. Jadi orang tidak merasa perlu menempelkan diri pada identitas Melayu. Justru sebagian memilih menegaskan identitas Arab atau identitas etnis lain”, ucap pak idris.

Pak idris memaknai Melayu sebagai identitas yang bersifat cair, terbuka, dan terbentuk melalui proses percampuran budaya, bukan semata-mata keturunan, ” Kalau di sini, rasanya memang sengaja dipisah-pisahkan. Mereka tanya saya, ‘Kamu bangsa apa?’ Saya jawab, kakek saya sebelah ibu dari Hadramaut, sebelah bapak dari Surati India. Bahkan keluarga saya ada yang pakai nama Surati. Tapi saya bilang, sejak zaman bapak saya, kami sudah jadi Melayu. Mereka tak faham konsep itu. Bahawa seseorang boleh ‘jadi Melayu’. Kalau orang Cina mempraktikkan adat budaya Melayu dan masuk Islam, dia disebut bukan hanya masuk Islam, tapi masuk Melayu. Dia sudah dimelayukan. Jadi Melayu di Singapura itu begitulah, hasil percampuran.”

Singapore River bukan hanya sekadar aliran air yang membelah kota, tetapi peninggalan sejarah yang membentuk keberagaman di Singapura sejak masa kolonial. Aktivitas perdagangan yang padat membuat sungai ini menjadi cerita awal bagi keragaman etnis dan budaya.

Konsep kategorisasi etnis yang diberlakukan oleh British tidak berakhir bersama runtuhnya kolonialisme, ia justru meninggalkan jejak yang membentuk cara masyarakat Singapura memahami identitas diri mereka hingga saat ini. Dengan memaksa identitas yang pada dasarnya fleksibel jadi etnis yang kaku. Akibatnya, masyarakat Singapura tumbuh dalam struktur sosial yang tidak sepenuhnya mereka bentuk sendiri, melainkan hasil dari kategorisasi etnis yang dilakukan oleh British.