Malaysia menjadi salah satu negara tujuan utama pilihan para pekerja migran asal Indonesia untuk memperjuangkan kehidupan mereka dan keluarganya. Tujuan mereka sangat sederhana, alih-alih bagi orang kaya yang ke luar negeri untuk rekreasi dan menenangkan diri. Para PMI hanya datang dengan harapan supaya mereka memiliki kecukupan rezeki yang lebih baik dari kampung halamannya. Mendapatkan upah yang layak supaya bisa menabung untuk kemudian hari. Orientasi yang terfokus hanya untuk mencari ma’isyah saja, perlahan berkembang dan muncul kesadaran positif baru yang bisa mengubah pandangan hidup dan masa depan mereka, yaitu berawal hanya dari ‘mencari uang’ hingga ‘mencari ilmu’.
Para PMI banyak menekuni pekerjaan yang beragam seperti konstruksi bangunan, pekerja perkebunan, penjual bakso, pelayan restoran, penjahit, penjaga kedai atau toko baju, sampai pekerjaan yang paling banyak diminati imigran yaitu Asisten Rumah Tangga (ART). Semua pekerjaan itu mungkin terlihat ringan dan banyak peluang apabila mereka berusaha mencari di tanah airnya, namun, ada kelebihan tersendiri bagi negara Malaysia yang tak dimiliki Indonesia pada umumnya, yaitu penerimaan pekerja yang mudah tanpa syarat dan upah yang layak bahkan lebih dari cukup. Tetapi, dari terbukanya peluang kerja di Malaysia, banyak juga sektor pekerjaan tanpa adanya kontrak kerja yang jelas sehingga terkadang para majikan mereka memutus pekerjaan tanpa alasan yang kuat, tidak adanya jaminan sosial dan kesehatan, bahkan jika mereka memiliki masalah dalam permit atau dokumen penting sebagai imigran, mereka akan selalu berhadapan dengan pengoperasian polisi dan imigrasi yang ketat dimanapun mereka berada.
Setiap waktu dan tenaga yang mereka miliki seluruhnya dikerahkan hanya untuk bekerja dan bekerja, dari mulai terbitnya fajar hingga orang-orang terlelap tidur untuk istirahat malam. Bertahun-tahun mereka terpaku hanya untuk bekerja. Sehingga, bagi mereka yang sudah berkeluarga, banyak sekali pendidikan anak-anak mereka terabaikan. Sebagian orang tua bahkan memandang remeh akan pendidikan itu, orientasi mereka hanyalah uang, anak lebih baik membantu orang tua dengan bekerja daripada duduk berlama-lama di ruang kelas bersama teman sebayanya untuk menerima haknya, yaitu pendidikan. Pandangan mereka sangat pragmatis, bekerja lebih baik dibanding sekolah yang sama sekali tidak bisa menjamin anak mereka sukses memiliki banyak uang, sementara waktu terus berjalan layaknya air mengalir tanpa tujuan dan kebutuhan hidup akan selalu ada dan bertambah tiap waktunya.
Di balik fenomena ini, hadir Sanggar Bimbingan Sekolah Malaysia (SBSM) 5 memberi secercah harapan untuk masa depan anak-anak migran, utamanya bagi mereka yang tidak memiliki dokumen resmi (undocumented) yang akibatnya mereka tidak bisa mengakses sekolah formal baik di Indonesia maupun Malaysia. Sekolah ini layaknya sekolah SD di Indonesia pada umumnya, yaitu memiliki ruang kelas untuk jenjang kelas 1 hingga 6, bedanya yaitu disini terdapat kelas khusus bagi anak-anak yang belum bisa baca, tulis dan menghitung (Calistung) dan fasilitas sekolah yang kurang memadai bahkan jauh dari kata layak, seperti ruang kelas yang sempit dan berdinding papan, serta meja kecil untuk belajar lesehan. Adapun fasilitas seperti ruang kelas, lapangan dan asrama merupakan hasil menyewa dari warga setempat. Tempat ini mungkin terlihat sederhana dan penuh keterbatasan, tapi disinilah awal mula perubahan besar mereka muncul.
Kehadiran SBSM 5 yang dikelola oleh Mimin Mintarsih, imigran asal Cirebon, memberi perubahan baik dan kesadaran penting bagi para PMI. Anak-anak mereka bisa membaca, menghitung, menulis, mengenal tanah airnya sendiri dan alam semesta yang lebih luas. Selain itu, mereka juga terlatih skill public speakingnya di hadapan orang banyak, memiliki banyak seni dan keterampilan seperti pencak silat, tari, tilawah, dan juga berprestasi baik di dalam maupun luar negeri. Orang tua mereka menyaksikan buah hati mereka tumbuh berkembang baik dan memberi kebanggaan positif bagi mereka melalui pendidikan di SBSM 5 ini.
Tidak semua orang tua langsung mempercayai SBSM 5 sebagai alternatif pendidikan anak mereka. Awal mula sanggar berdiri saja banyak juga orang tua yang skeptis. Alih-alih mereka menyekolahkan anak-anaknya di sana, mereka meremehkan keberadaan sanggar, merendahkan orang tua yang menyekolahkan anaknya di sana, acuh akan pendidikan anak dan memerintahkan anak-anak mereka untuk membantu perekonomian keluarganya melalui bekerja. Semua ini turut memberi keprihatinan bagi masa depan anak-anak pekerja migran. Kendati demikian, bagi mereka yang diremehkan karena menyekolahkan anaknya di sanggar, mereka tidak merespons itu dengan keburukan yang setimpal, tetapi waktu turut membuktikan bahwa para anak-anak yang lulus dari SBSM 5 ini menorehkan keberhasilan yang gemilang.
Banyak anak-anak migran melalui wasilah SBSM 5 berhasil melanjutkan sekolah menengahnya ke Indonesia dan Malaysia, serta mendapatkan prestasi di sekolah barunya, seperti menjadi juara kelas, masuk sekolah favorit yang hanya bisa diakses oleh anak-anak yang cerdas, berbakat dan berprestasi, menjadi pengurus Organisasi Siswa (OSIS), Juara olimpiade sains dan skill seperti taekwondo, serta menjadi panutan teman-teman mereka di sekolah barunya. Selain itu, mereka juga banyak yang mendapatkan beasiswa ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah) untuk melanjutkan studinya di sekolah menengah, dan melanjutkan ke perguruan tinggi melalui program ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi). Kisah-kisah keberhasilan anak-anak ini menyebar dari satu pekerja ke pekerja lain, dari rumah ke rumah lain. Sehingga, lambat laun para PMI memiliki kesadaran akan kebutuhan pendidikan bagi anak mereka, mereka tidak lagi memikirkan bahwa pendidikan itu beban dan tak bermanfaat, mereka memiliki pandangan baru bahwa dengan pendidikan akan memberi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Kesadaran akan butuhnya pendidikan yang tumbuh pada jiwa-jiwa PMI ini memberi bukti bahwa pendidikan bisa menjadi alat transformasi sosial melalui hadirnya SBSM 5. SBSM 5 memberi bukti langsung dari kehidupan anak-anak migran di luar maupun di dalam sekolah mereka. Dulunya, terdapat orang tua yang berpikir ‘lebih baik anak bekerja dibanding sekolah’, sekarang berbalik bangga dan semangat mengantarkan anaknya untuk sekolah. Mereka mulai memahami akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.
Apa yang dilakukan oleh SBSM 5 ini sejatinya merupakan implementasi dari amanat konstitusi bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, dari latar belakang dan dimanapun mereka berada. Semua pendidikan yang dijalankan oleh SBSM 5 bisa berjalan tentunya dengan dedikasi para guru, lembaga mitra dan juga Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia yang memberi jembatan pendidikan bagi anak-anak PMI, khususnya bagi mereka yang tidak bisa mengakses sekolah formal baik di Indonesia maupun Malaysia. Sanggar ini hadir menyelamatkan anak-anak migran yang hampir kehilangan masa depannya, menjadi ruang transformasi sosial bagi para PMI, menjadi ruang mereka melahirkan kesadaran baru. Kini orientasi mereka tidak melulu tentang uang, mereka kini sadar akan pentingnya ilmu bagi anak-anaknya. Supaya mereka bisa tumbuh dan belajar untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.




