Tepat bulan Agustus 2025 lalu SIS Forum Malaysia menggelar acara workshop selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 8-10, bertepatan di Hotel Indigo Kuala Lumpur yang melibatkan beberapa seniman, aktivis, serta artis semenanjung Malaysia, termasuk kami mahasantriwa SUPI (Sarjana Ulama Perempuan Indonesia) yang sedang melaksanakan visit di beberapa lembaga yang ada di Malaysia.
Workshop bertemakan “Artists and Activists : Toward a Just Society”, dilatarbelakangi sejauh mana acara ini dapat menjadi ruang alternatif untuk mendiskusikan berbagai bentuk ketidakadilan gender, sebagai strategi dalam memperluas advokasi, dan meretas narasi patriarki yang masih mengakar kuat di masyarakat.
Tujuan dari workshop ini tentu untuk menyamakan atas cara pandang yang lebih adil bagi siapapun baik itu kepada laki-laki dan perempuan, serta sinergi dalam memperkuat ruang-ruang keadilan melalui media kreatif yang menjadi fokus para seniman, aktivis, dan artis semenanjung Malaysia.
Peran SIS Forum Malaysia
Sebagai lembaga yang fokus menyuarakan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, SIS Forum Malaysia terus mengupayakan berbagai hal agar keadilan itu dapat terwujudkan. Hal ini serupa dengan misi nya yakni untuk terus mempromosikan prinsip-prinsip kesetaraan gender, keadilan, kebebasan dan martabat dalam Islam dan memberdayakan perempuan untuk menjadi pendukung perubahan. Dengan begitu, setidaknya ada tiga poin yang diperankan oleh SIS Forum Malaysia melalui workshop ini.
Pertama, menyediakan ruang diskusi dan pembelajaran. Melalui workshop ini, SIS Forum Malaysia menjadi fasilitator bagi teman-teman seniman, aktivis, maupun artist termasuk mahasantriwa SUPI dengan membuka ruang dialog yang interaktif. Terlebih dari itu dikuatkan terkait Women Voices Matter, karena ini menjadi hal yang krusial bagaimana suara-suara perempuan sering kali tidak didengar bahkan dibungkam sekalipun.
Kedua, memperluas perspektif kesetaraan gender melalui media kreatif. Di kalangan masyarakat isu kesetaraan gender ini masih dianggap tabu bahkan menyalahi aturan yang ada, dengan itu melalui media kreatif seperti film atau bentuk visual lainnya menjadi alternatif lain untuk memperluas perspektif gender, karena pesan yang ditampilkan dalam bentuk ini mudah dicerna.
Ketiga, mengintegrasikan nilai-nilai keadilan dalam produksi karya seni. Keadilan tidak berhenti di sebuah pemahaman saja, ada kalanya harus terintegrasi dalam sebuah karya agar nilai-nilai keadilan itu terus tumbuh dan tersirat maknanya bagi siapapun yang membuatnya begitu pula yang menikmatinya.
Bentuk Kolaborasi SIS dengan seniman, aktris, dan aktivis
Acara ini menjadi wadah kolaborasi yang epik, karena dengan pengetahuan keadilan gender dan media kreatif yang beragam dapat menghasilkan suatu karya berkualitas dikemas dengan keunikannya masing-masing. Dengan itu, hal ini menjadi catatan bagaimana kolaborasi dengan latar belakang berbeda ini terus digaungkan atas potensi kreatif yang dimilikinya.
Bentuk dari kolaborasi ini dapat berupa creative writing, dimana penulis dapat menuangkan ide serta gagasan secara bebas, sehingga di dalamnya bisa memasukan nilai-nilai keadilan sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan yang terus melekat di dalam lingkungan masyarakat.
Selain itu, memproduksi film pendek maupun dokumenter dapat menjadi kolaborasi alternatif lainnya dengan catatan harus mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh perempuan bahkan menyoroti bagaimana ketidakadilan itu nyata dirasakan, sehingga dapat menarik pesan yang lebih emosional bagi penonton.
Lebih lanjut, media sastra bergambar seperti komik dan lainnya bisa menjadi acuan untuk bersinergi dalam mengkritik ketidakadilan gender lewat visual serta isi makna didalamnya agar mudah dipahami oleh publik.
Dampak Workshop Keadilan Gender
Workshop yang digelar tidak hanya sebatas kegiatan saja melainkan seberapa besar atas dampaknya ketika perjumpaan ini telah selesai dan menjadi angin segar untuk menciptakan ruang-ruang keadilan di berbagai tempat manapun termasuk dalam ruang media kreatif.
Menciptakan narasi baru tentang perempuan yang selama ini mereka terdiskriminasi atas tafsiran-tafsiran manusia yang tidak berkeadilan adalah dampak awal bagi pegiat yang terlibat dalam perjumpaan ini. Menjadikannya agar konsisten dan menyebarluaskan konten-konten yang bernarasi ramah terhadap perempuan.
Begitupun menjadi dorongan tersendiri untuk melakukan perubahan sosial melalui karya-karya populer lainnya yang telah mengakar kuat di dalam jiwa kreatifnya dan terus mengembangkannya agar transformasi itu nyata adanya.
Lalu dengan banyaknya pegiat yang terlibat dalam acara ini menjadi langkah awal dalam membangun jejaring para artis-aktivis serta pelajar seperti kami sebagai mahasantriwa SUPI yang lebih luas lagi, guna menciptakan ruang-ruang kerjasama yang berkelanjutan.
Dari ruang perjumpaan ini kita melihat bahwa seni dapat menjadi salah satu alat advokasi untuk mengusungkan perubahan-perubahan sosial, dimana membentuk alam sadar seseorang dengan perspektif baru atas segala macam kreatifitas yang ditampilkan. Terlebih dalam segi emosionalnya sehingga memicu percakapan antara panca indera dan batinnya yang tak terungkapkan.
Seni pun dapat meretas patriarki atas norma-norma sosial yang telah mengakar kuat di khalayak masyarakat saat ini, pepatah mengatakan “satu gambar bernilai seribu kata” dan ini fakta adanya bagaimana dari film, foto, komik, maupun media visual lainnya bisa berkomunikasi secara langsung tanpa menjelaskan lewat kata, serta membangkitkan emosional yang kuat terhadapnya.
Apalagi dalam beberapa penelitian mengungkapkan bahwa seni menjadi alternatif yang paling efektif dalam menyuarakan suatu pesan, termasuk bagaimana seseorang mudah mencernanya bahkan menindaklanjuti atas isu-isu tersebut daripada disajikan dalam bentuk tulisan.
Dengan demikian, SIS Forum Malaysia menjadi fasilitator perubahan bagi para aktivis, artist, serta kami selaku pelajar dari SUPI (Sarjana Ulama Perempuan Indonesia) yang satu-satunya pegiat lintas negara. Ini menjadi jembatan nyata bagaimana SIS menghubungkan industri kreatif untuk terus menyuarakan isu keadilan gender agar terwujudnya ruang-ruang yang lebih adil.
Hal serupa, bagaimana SIS memberikan penguatan atas kapasitas terkait keadilan gender kepada para peserta terutama artist yang dia berperan dalam dunia kreativitas, sehingga menguatkan bagaimana mereka untuk terus berkarya dengan cara pola pikir yang adil serta lebih progresif dan ramah terhadap perempuan. Terlebih penting bahwasannya SIS secara langsung membangun ekosistem kreatif yang berpihak pada nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan ramah terhadap perempuan.
Harapannya, semoga dari perjumpaan ini semakin banyak kolaborasi-kolaborasi epik yang terus diciptakan sehingga dapat melahirkan sebuah karya baru bermuatan nilai-nilai keadilan gender, lebih luas lagi bagaimana karya ini dapat menjadi alat maupun pemicu dialog generasi selanjutnya. Termasuk membentuk ruang aman bagi siapapun, sekalipun ia kreator yang seringkali mengalami penindasan atas konten-konten yang menurut beberapa pihak tidak sejalan, bahkan terbatas atas ruang ekspresinya.
Pada akhirnya, setiap kreativitas maupun perjumpaan diatas menjadi pengingat kepada kita semua bagaimana menjadi pendengar atas pengalaman-pengalaman perempuan yang seringkali dibungkam bahkan disingkirkan, disinilah perubahan dimulai, perlahan namun pasti.[]




