Studi Nusantara di Kampus Top Global NUS

Dalpa

National University of Singapore adalah kampus bergengsi di Asia. NUS juga menjadi kampus terbaik ke-8 di dunia, dan nomor 1 di asia. Kampus ini telah menjadi kampus impian, setidaknya untuk dikunjungi. Kesempatan itu benar-benar terjadi melalui program Global Islamic Perspective Journey (GIPJ) yang diadakan oleh SUPI. NUS menjadi salah satu tempat kunjungan kami di Singapura. 

Saat tiba di kampus, kami segera menuju Central Library NUS. Di Perpustakaan utama kampus itu, kami dipertemukan di sebuah ruangan perpustakaan dengan kak Diana seorang pustakawan NUS. Disana kami berbincang banyak hal mengenai manuskrip-manuskrip yang dimiliki NUS. Selain bertemu kak Diana, kami juga bertemu Profesor Aisha salah satu dosen NUS. 

Department Pengajian Melayu 

Prof. Aisha memperkenalkan dirinya sebagai seorang dosen dari Fakultas Seni dan Ilmu Sosial, Departemen Studi Melayu. Di Indonesia mungkin kami bisa menyebutnya sebagai jurusan kajian Melayu. Prof. Aisha juga menyampaikan departemen ini menjadi departemen yang paling kecil di dalam fakultasnya.

Mengenai sejarah, Prof. Aisha bercerita departemen ini punya sejarah yang cukup panjang. Didirikan sebelum kemerdekaan di bawah Universitas Singapura tahun 1950-an. Setelah Singapura terpisah dengan Malaysia, departemen ini diaktifkan kembali tahun 1967 dibawah NUS. Jabatan pertama departemen ini dipegang oleh Syed Hussein Alatas. Ia seorang politisi, akademisi dan intelektual yang sangat terkenal dalam bidang Sosiologi. Prof. Aisha sendiri memiliki hubungan langsung sebagai seorang murid dari Syed Hussein Alatas ini.

Adapun tradisi keilmuan yang dibangun di Department Malay Studies ini sangat luas cakupannya. Kajian-kajian di dalamnya meliputi sejarah, budaya, undang-undang, politik, antropologi, hukum hingga sejarah intelektual. Fokus penelitian dalam jurusan ini tidak terbatas dalam topik tertentu. Menurut Prof. Aisha Topik yang bisa digunakan sangat luas, bisa mencakup apa saja yang berkaitan dengan Nusantara. Menurut Prof. Aisha mahasiswa-mahasiswa di departemen ini kebanyakan penelitian ada dalam ruang lingkup agama dan politik.

“Sekarang kebanyakan penelitian mahasiswa kami berkisar pada agama dan politik. Bukan teologi, tapi lebih pada sosiologi agama, sejarah, juga hubungan antara politik dan agama. Ada juga yang meneliti gender, hukum, isu-isu sosial dan ekonomi seperti pendidikan. Selain itu kami mendorong kajian tentang sejarah intelektual tentang figur-figur berpengaruh, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Misalnya, tokoh seperti Syed Hussein Alatas atau Samad Said.”

Dari sini saya memahami bahwa meskipun Department Malay Studies sebagai departemen yang kecil di Fakultasnya, justru menyumbang keilmuan yang luas melalui berbagai kajian dan penelitian sejarah Nusantara yang luas.

 

Bahasa sebagai Pintu Akademik

Obrolan kami bergeser pada pembahasan mengenai kebijakan bahasa yang diberlakukan di kampus NUS. Saya menyadari Prof. Aisha membawa kami pada obrolan ini sebagai penekanan bagaimana peran bahasa sangat krusial di kampus tersebut. Untuk masuk program S2 atau S3 dalam departemen ini, skor bahasa inggris ini menjadi syarat utama.

Menariknya dalam departemen ini justru tesis atau esai boleh menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Namun, bahasa inggris menjadi bahasa yang sifatnya wajib digunakan dalam berbagai seleksi, administrasi hingga komunikasi akademik. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa bahasa inggris dapat bermanfaat untuk membuka peluang-peluang akademik dan pekerjaaan di masa depan. Saya menyadari bahwa penekanan yang disampaikan Prof. Aisha ini sebagai sebuah strategi resilience dalam sebuah sistem.

Percakapan kami bersama Prof. Aisha bergeser pada isu prestise universitas. Sebagai seorang dosen di universitas top Global, Prof. Aisha justru memiliki perspektif tersendiri dalam melihat NUS sebagai kampus nomor satu di Asia. Dalam sebuah studi pasca sarjana, baginya yang paling penting adalah siapa supervisor penelitian dan bagaimana ekosistem keilmuan kampus. Apalagi jika kajian yang dipilih adalah mengenai Indonesia. Lebih lanjut Prof. Aisha memberikan contoh dalam melihat Oxford, kampus ini memang prestisius. Akan tetapi jika kajian kita mengenai Indonesia, Australia memiliki lebih banyak ahli dibidang tersebut. 


“Tapi ranking itu hanya sebahagian. Yang paling penting dalam studi pascasarjana adalah supervisor. Siapa pembimbing yang akan mengarahkan penelitian. Kalau Oxford misalnya, memang prestisius. Tapi kalau bicara tentang expertise mengenai Indonesia, Australia bahkan lebih banyak pakar daripada Oxford. Jadi kalau ingin S3, yang dipikirkan bukan hanya nama universiti, tapi siapa nanti supervisornya.”

Pertemuan dengan Prof. Aisha tentu memberikan perspektif baru dalam melihat sebuah universitas. Menyadari bahwa ranking universitas memang penting, akan tetapi supervisor dan ekosistem lebih penting. Karena hal tersebut menjadi bagian yang menentukan berhasilnya penelitian seorang mahasiswa. Termasuk dalam mempertimbangkan manfaat penelitian bagi konteks Indonesia khususnya, maupun dalam konteks global.

Hati saya sangat bahagia sekali, saat mendengar setiap penjelasan yang disampaikan oleh Prof. Aisha, khususnya mengenai NUS. Sebagai seorang akademisi, Prof Aisha memiliki penilaian sendiri dalam melihat prestise sebuah kampus. Menekankan aspek disiplin dalam bahasa, kerja intelektual dan berfokus pada isu yang nyata menunjukkan bahwa ia sosok yang realistis dan memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dari pengetahuan yang dihasilkan. 

Sepertinya memang dalam berbagai proses mencari pengetahuan yang sedang kita jalani, perlu sekali kita menjawab pertanyaan yang cukup mendasar akan tetapi sangat penting. Yaitu pertanyaan mengenai kebermanfaatan suatu ilmu itu diperuntukkan untuk siapa dan dalam kepentingan apa. Karena sejatinya sebagai manusia kita punya tanggung jawab untuk bermanfaat bagi orang lain, salah satunya melalui berbagai keilmuan yang kita miliki.