Pada Sabtu, 09 Agustus 2025 kami diajak berkunjung pada kegiatan yang diadakan SIS Forum Malaysia. Saat itu workshop anak muda, atau jika di Malaysia workshop itu disebut dengan Bengkel. Ruang dialog yang mempertemukan anak muda, seniman, artis, dan aktivis dalam suasana yang sangat hangat dan membawa energi baru yang powerfull.
Pertama kali saat melangkah masuk ke ruangan, mata saya tertuju pada tempelan-tempelan kertas warna warni yang menarik di tembok. Banyak sekali coretan gambar, salah satunya yang saya lihat adalah sebuah kertas perkenalan diri dari para peserta, bukan dalam bentuk tulisan panjang seperti biasanya, akan tetapi melalui gambar. Gambar yang membuat simbol-simbol kecil yang penuh makna atas dirinya sendiri. Ruang ini menandakan bukan hanya menjadi workshop biasa, akan tetapi menjadi ruang untuk memproses pikiran kreatif para pesertanya. Meja-meja di ruangan pun dipenuhi dengan spidol, sticky notes, dan lainnya.
Pertemuan dengan Ka Yati dan Kekuatan Seni sebagai Suara
Setelah forum selesai, saya dan teman-teman diberi kesempatan untuk berdialog langsung dengan peserta pada workshop tersebut, ini menjadi kesempatan yang sangat luar biasa. Hal yang tidak disangka adalah ketika mendapat kesempatan untuk berbincang santai dengan salah satu perempuan keren dari SIS Forum Malaysia, Yaitu Ka Norhayati Kaprawi. Norhayati Kaprawi atau yang biasa disapa hangat dengan panggilan Ka Yati. Ka Yati ini merupakan perempuan asal Malaysia yang mempunyai fokus pada isu perempuan. Melalui senilah fokus isunya ini tersalurkan.
Momen singkat itu justru membuka percakapan yang lebih dari sekedar obrolan biasa, ini menjadi awal menuju pemahaman baru tentang pengalaman ka Yati yang terhubung langsung dengan keberaniannya untuk menyuarakan isu-isu perempuan melalui seni. Media yang digunakan untuk menyuarakan diantaranya adalah film, lukisan, dan animasi.
Kesan pertamaku pada kak Yati adalah Ka Yati sosok yang hangat dan reflektif. Dalam pertemuan pertamanya mampu membuat lawan bicaranya merasa didengar dan dihargai. Ka Yati berbicara pelan, tetapi kalimatnya sangat penuh makna.
Ka Yati mulai bercerita tentang karya-karyanya. Dengan antusias yang tetap lembut, ia menunjukkan beberapa film yang pernah ia buat. Film-film yang merekam pengalaman perempuan, dan masih banyak lagi. Ia juga membuka akun YouTube miliknya, memperlihatkan bagaimana ia membagikan film, animasi, dan dokumenter singkat sebagai media untuk mengedukasi masyarakat luas. Tidak hanya itu, Ka Yati juga menunjukkan akun Instagramnya, yang berisi sketsa, potongan karyanya, dan dokumentasi proses kreatif yang selama ini ia lakukan.
Saat ka Yati memperlihatkan karya-karyanya itu, saya pun spontan bertanya. “Buku Animasi yang di meja depan itu karya Ka Yati ya?”. Ia tersenyum, lalu menjelaskannya, “Oh bukan, itu karya Faizati”. Saat ingin memperkenalkan karya Ka Faizati, ternyata orangnya sudah pulang. Saya pun mengapresiasi buku tersebut, sangat keren dan menyukai buku itu, terutama karena saya suka menggambar. Sebelum berbincang dengan Ka Yati memang saya sudah sempat membuka bukunya dan membacanya sedikit.
Kemudian setelah itu, Ka Yati tiba-tiba mengambil buku yang sejak tadi saya lirik. Dengan sangat ringan ia berkata, “Ambil saja, nanti saya yang bayar”. Saya sempat terdiam dan terharu oleh ketulusannya itu. Buku itu sebenarnya sedang dijual dalam forum tersebut, tetapi ia memberikannya begitu saja. Momen kecil ini bahkan bukan sekedar memberi hadiah, ini jauh lebih besar dan bermakna daripada sekedar memberi buku, ada rasa dimana saya merasa dihargai, didukung, dan diakui dalam minat saya terhadap seni gambar.
Dari obrolan itu, saya diberikan buku yang berjudul “Menghayun Buaian, Menggoncang Dunia”, karya Faizati. Di kutip dari halaman website eksentrika.com
Faizati Mohd Ali is a lawyer by profession and draws cartoons in her free time. She posts most of her work on social media platforms through her page ‘By Faizati’ since 2018.
Faizati Mohd Ali adalah seorang pengacara dan menggambar kartun di waktu luangnya. Ia mengunggah sebagian besar karyanya di media sosial melalui halaman “By Faizati” sejak tahun 2018.
Buku ini berisi tentang kumpulan kartun feminis yang mengangkat isu perempuan, pengalaman hidup, dan pergulatan perempuan dalam ruang-ruang sosial yang seringkali membatasi.
Saat membaca judul buku itu sendiri terasa kuat. “Menghayun Buaian, Menggoncang Dunia”. Dari judul ini menggambarkan bahwa kekuatan perempuan dimulai dari hal-hal yang mungkin terlihat sangat sederhana. Seperti mengasuh, merawat, menjaga, padahal jika diterjemahkan dalam kesadaran yang ada pada masyarakat sosial, ini menjadi sesuatu yang tidak adil. Menghayun buaian ini menjadi simbol yang sangat bermakna, yaitu simbol kelembutan, sedangkan menggoncang dunia ini menjadi simbol keberanian. Keduanya ini jika diamati, dua hal yang sama-sama terlihat bertentangan, ternyata kedunya bisa saling berdampingan.
Saat saya membuka halaman-halamannya, saya merasakan energi yang sangat luar biasa. Penuh warna, simbol, dan penuh suara. Kartun-kartun di dalam buku ini bukan hanya sekedar lucu, atau menarik secara visualnya saja. Tetapi, jika diamati lebih dalam, ini menyimpan banyak sekali kritik sosial yang sangat hebat. Hal ini menjadi refleksi bagaimana perempuan seringkali dianggap dalam masyarakat bahwa perempuan ini berjuang atas dirinya sendiri, identitasnya dan juga keberadaannya sebagai perempuan.
Refleksi Diri: Perempuan, Seni, dan Keberanian Bersuara
Dari titik inilah, saya merasa bahwa obrolan singkat bersama ka Yati ini membuka pemahaman saya tentang kekuatan dalam dunia visual. Bahwa dari sebuah gambar, sekecil apapun gambarnya, sesederhana apapun gambarnya, itu bisa menjadi ruang atas perjuangan. Melalui film, animasi, gambar bisa menjadi salah satu protes, bentuk harapan, bentuk kasih sayang, dan juga bisa menjadi bentuk doa. Dari garis yang sederhana, warna-warna yang terlihat santai darui gambar, ternyata menyimpan begitu banyak pengalaman, luka, trauma, hingga keberanian yang seringkali sulit jika diungkapkan lewat kata. Dan justru dari sinilah, melalui karya visual ini bekerja dengan caranya sendiri, dengan cara-cara yang membawa pesan didalamnya. Hal ini dapat menyentuh pembaca tanpa adanya kendala bahasa.
Saya mulai merenungkan, mulai sedikit demi sedikit berfikir tentang minat saya sendiri terhadap gambar, film, seni, dan hal-hal yang berkaitan dengan visual yang selama ini hanya saya anggap sebagai hobi kecil saja. Obrolan bersama Ka Yati membawa saya pada ruang baru dalam diri saya. Bahwa minat yang kita punya itu tidak akan berdiri sendiri, dan kreativitas yang kita miliki itu tidak seharusnya dibatasi oleh pikiran kita sendiri. Semuanya bisa dilakukan jika kita punya kemauan, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Selaras juga dengan apa yang dikatakan ka Yati di halaman website yatikaprawai.com mengatakan bahwa “Ia kerana sebenarnya, kita manusia ni punya banyak kebolehan dan bakat. Kita juga meminati banyak perkara. Pemikiran dan daya kreativiti kita sebagai manusia juga sangatlah luas. Cuma kita sendiri yang suka membataskannya. Tidak perlu mengkotakkan pemikiran dan bakat kita sendiri. Jadi, asalkan kita minat dan nak berusaha, boleh saja menceburi banyak bidang dan buat pelbagai perkara”.
Dari Ka Yati dan Ka Faizati, saya belajar bahwa menjadi seorang perempuan berati memberi ruang bagi diri sendiri unbtuk terus tumbuh, bertanya, dan bersuara. Keduanya menunjukkan bahwa keberanian perempuan itu tidak selalu hadir dalam bentuk keras, bahkan lewat goresan tipis melalu ilustrasi, adegan film yang original, atau simbol-simbol yang mengkritik adanya ketidakadilan lewat buku sekalipun. Pelajaran itu menjadi sangat berharga bagi saya, apapun minatnya, jika mempunya keresahan, seorang perempuan pun bisa bersuara, perempuan punya hak penuh untuk bersuara.
Apalagi sebagai seorang santri perempuan, saya tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi ilmu, akhlaq, dan pemahaman agama. Bahwa menjadi santri perempuan itu bukan berarti diam, bukan berarti harus selalu tunduk patuh tanpa adanya ruang berekspresi. Justru sebaliknya, ilmu yang saya pelajarilah seharusnya menjadi titik untuk bisa menyuarakan keadilan, cinta kasih, dan kemanusiaan, sebagaimana juga yang diajarkan oleh Islam.
Jika Ka Yati dan Ka Faizati menyuarakan perjuangannya lewat seni, maka saya juga harus bisa menyuarakannya lewat apa yang saya minati, seperti gambar, tulisan, dan refleksi yang tumbuh dari perjalanan saya.
Keduanya mengajarkan juga bahwa pengalaman perempuan ini bukan untuk dibungkam, akan tetapi pengalaman perempuan inilah yang seharusnya disuarakan. []




