Membangun Ruang Aman Perempuan ala Marina Mahathir

Rinrin

Saat menjalani Praktik Islamologi Terapan (PIT) Internasional di Malaysia, saya menghadiri undangan pameran “Woman In Print: A Pressing Matter,” sebuah pameran yang diinisiasi oleh Kak Yati Kaprawi sebagai salah satu rangkaian yang digunakan untuk memperluas partisipasi perempuan dalam seni. Pameran ini dihadiri para aktivisme, seniman yang bertemu dalam satu ruangan. 

Pada momen itulah, aku bertemu dengan Marina Mahathir, sosok yang selama ini hanya ku kenal lewat tulisan, dan reputasinya dalam advokasi hak-hak perempuan. Meskipun bukan dalam percakapan panjang, hanya sapaan singkat di tengah keramaian. Pertemuan itu membuat saya memikirkan ulang mengapa Marina Mahathir begitu berpengaruh dalam wacana perempuan di Malaysia. 

Marina Mahathir dikenal luas sebagai penulis, aktivis yang paling berpengaruh dalam isu perempuan di Malaysia. Beliau merupakan putri sulung dari mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohammad. 

Gagasan yang sangat populer bagi Marina Mahathir adalah suaranya terhadap isu HIV/AIDS. Di Malaysia pada tahun 1990-an, HIV bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu moralitas. Orang-orang hidup dalam ketakutan, stigma begitu tebal, dan penderita kerap dikucilkan seolah-olah mereka sudah kehilangan hak untuk dihormati. Keterlibatannya dalam isu ini juga memperlihatkan pemikiran Marina mengenai keberpihakannya pada mereka yang paling rentan termasuk perempuan. Dengan ini, Marina memilih langkah selama lebih dari tiga dekade, ia terlibat dalam advokasi HIV/AIDS. 

Selain itu, salah satu ciri khas lain mengenai gagasan Marina adalah kemauannya untuk mengkritik kecenderungan “arabisasi budaya” di Malaysia, trend yang menganggap apapun yang tampak Arab sebagai lebih Islami, meskipun hal itu tidak memiliki akar dalam tradisi lokal atau bahkan tidak relevan dengan nilai-nilai Islam. Namun baginya, arabisasi bukan masalah estetika (pakaian atau gaya hidup), tetapi persoalan bagaimana masyarakat perlahan-lahan kehilangan kemampuan membedakan antara ajaran agama dan budaya. 

Karena itu, bagi Marina Mahathir, kritik terhadap arabisasi dan berbagai perbedaan ajaran dan budaya bukanlah sekedar perdebatan intelektual belaka, tetapi menjadi bagian dari kegelisahaan melihat bagaimana perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak. 

Dari kegelisahan itulah Marina Mahathir berupaya membangun ruang- ruang aman bagi perempuan untuk bersuara, bergerak, dan memahami diri mereka di tengah perubahan sosial dan politik di Malaysia. Mulai dari mendirikan organisasi Sisters in Islam (SIS) Forum, hingga platform Zafigo. 

Sebagai salah satu pendiri Sisters in Islam (SIS) Forum, Marina Mahathir menempatkan dirinya dalam garis terdepan pembacaan keagamaan yang lebih adil bagi perempuan. SIS Forum lahir dari kegelisahan sederhana, misalnya: mengapa ajaran yang seharusnya membawa rahmat justru kerap dipakai untuk membungkam perempuan? 

Misalnya, SIS Forum berkali-kali mendampingi perempuan yang tidak diberi hak untuk berbicara, misalnya ketika suami mengajukan talak sepihak atau ketika korban KDRT disuruh “bersabar” dengan alasan agama. Di sini, SIS Forum menantang narasi keagamaan yang memaksa perempuan diam, dan menegaskan bahwa keadilan adalah prinsip Islam. 

Berkaca dari fenomena itu, SIS Forum menjadi ruang yang menyediakan dua hal penting yaitu pengetahuan dan keberanian. Di ruang ini, perempuan belajar membaca ayat-ayat tentang keluarga, hingga tubuh melalui perspektif yang lebih adil, tidak hanya sekedar menerima tafsir yang diberikan. 

Dalam SIS Forum ini, mereka menantang tafsir-tafsir diskriminatif dengan metodologi yang logis, dengan berbasis kajian. mereka juga membuka pintu bagi perempuan muslim untuk mengajukan pertanyaan yang sering kali dianggap tabu, misal mengenai tentang hak, tubuh, pilihan hidup, hingga relasi kuasa dalam keluarga. 

Kontribusi Marina dalam SIS bukan sebagai tokoh publik yang memberikan visibilitas, tetapi juga sebagai suara yang secara konsisten menegaskan bahwa kritik terhadap tafsir patrikal bukanlah penolakan terhadap Islam, melainkan usaha mengembalikan nilai-nilai keadilan yang menjadi inti ajarannya. 

Jika SIS Forum menawarkan ruang aman dalam ranah wacana dan tafsir, Marina Mahathir juga seorang perempuan yang mendirikan Zafigo, sebuah platform dan majalah perjalanan online untuk perempuan. Zafigo meluaskannya ke ranah mobilisasi ruang bagi perempuan, menginspirasi dan memberdayakan perempuan agar dapat melakukan perjalanan secara mandiri. 

Zafigo lahir dari observasi sederhana Marina mengenai banyaknya perempuan Asia yang ingin melakukan perjalanan mandiri, tetapi informasi yang tersedia mengenai keamanan, risiko, hingga bias gender dalam perjalanan perempuan yang masih sangat terbatas. Perjalanan perempuan tak luput dengan istilah “jangan jauh-jauh sendirian”, “harus ditemani”, atau narasi-narasi yang selalu membatasi gerak perempuan. 

Dengan Zafigo, Marina membalikan narasi tersebut. Platform ini memuat panduan, pengalaman, dan percakapan antar perempuan yang membuka perspektif bahwa perempuan bukan sekadar objek yang harus dilindungi, tetapi subjek yang punya hak untuk bergerak, menjelajah, melalui pengalaman mereka sendiri. 

Ruang aman yang dibangun Zafigo tidak hanya berhenti pada “tips perjalanan.” Platform ini menjadi komunitas berjejaring secara global di mana perempuan bisa saling memvalidasi pengalaman mereka, membicarakan resiko secara jujur, dan merayakan kebebasan dalam batas realitas. 

Jadi, SIS Forum dan Zafigo memiliki tujuan yang sama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Di sinilah, Marina Mahathir memiliki peran penting dalam upaya menciptakan ruang aman bagi perempuan.  

Marina Mahathir melihat persoalan perempuan bukan semata-mata soal hukum dan moral, tetapi juga masalah berpikir, bergerak, dan bersuara tanpa rasa takut. Dalam SIS Forum, ia mendorong perempuan untuk memasuki ruang teologi yang selama ini didominasi laki-laki. Sedangkan dalam Zafigo, ia memberikan ruang di mana perempuan dapat saling belajar dan merayakan diri mereka dengan pengalaman mereka sebagai acuan dan keberhasilan. 

Keduanya lahir dari kepekaan yang sama, bahwa perempuan sering dipaksa menyesuaikan diri dengan batas-batas yang diciptakan oleh tradisi, dan moralitas yang sempit. Marina Mahathir tidak sekedar mengkritik batas-batas itu, tetapi ia menyediakan alternatif untuk bisa memberdayakan perempuan. 

 Dengan cara itulah, Marina Mahathir memperlihatkan bahwa membangun ruang aman bukan sekadar melindungi, tetapi mengembalikan perempuan kepada kapasitas penuh mereka yaitu berpikir, bergerak, dan menyuarakan diri tanpa rasa takut. 

Ketika kembali mengingat pameran “Women In Print,” saya menyadari bahwa esensi dari karya-karya yang ditampilkan sejalan dengan apa yang diperjuangkan. Pertemuan singkat itu, justru membuat saya semakin yakin terhadap komitmennya dalam membangun ruang aman bagi perempuan. Upayanya melalui SIS maupun Zafigo lahir dari kepekaan yang sama, melihat bahwa perempuan membutuhkan ruang yang aman, jujur, dan saling menguatkan.