Pada tanggal 21 Agustus 2025, saya dan teman-teman satu angkatan di kampus berkunjung ke National University of Singapore (NUS), salah satu kampus paling bergengsi di Asia bahkan di dunia. Tepatnya di NUS Library, kami ditemani Kak Diana seorang pustakawan NUS.
Pada sesi awal kita dikenalkan dengan banyaknya arsip, manuskrip, hingga rekaman etnografi yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Indonesia, semua itu terdokumentasi, terkumpul dan terkoleksi oleh NUS. Menariknya, dalam pengenalan itu Kak Diana dan beberapa akademisi Singapura banyak membahas tentang koleksi sejarah Bugis-Makassar, salah satu etnis besar di Indonesia.
Mereka mengenal suku Bugis sebagai pelaut tangguh yang sangat mendominasi jalur perdagangan laut, mulai dari Sulawesi hingga Malaka dan Singapura. Lebih dari itu, mereka juga menyoroti suatu fakta menarik yang bahkan sama sekali banyak dari kita belum mengenal hal itu selama berada di tanah air kita. Mereka membahas 5 gender suku bugis yang telah menjadi warisan kearifan lokal Indonesia yang telah hidup berabad-abad lalu.
Pertemuan awal dengan Kak Diana dan para akademis Singapura ini membuat saya tertegun. Pasalnya, mereka seakan-akan paling mengetahui akan budaya kita, sedangkan kita sendiri seperti menutup mata dan telinga akan warisan berharga itu. Mereka menganggap fakta unik ini sebagai khazanah budaya yang sangat penting. Fenomena ini memberi pandangan bagi saya bahwa mereka lebih menghormati akan warisan budaya lokal Indonesia dan menaruh perhatian besar pada warisan Bugis ini dibandingkan kita sebagai pemilik warisan tersebut, sungguh sangat malu dan memprihatinkan.
Mari kita mengenal siapa orang Bugis itu!
Bugis, merupakan salah satu suku yang berada di Sulawesi Selatan. Mereka dikenal dunia sebagai pelaut tangguh nan pemberani, mengarungi Laut Jawa, Selat Malaka, sampai Australia Utara dengan menggunakan kapal tradisional mereka, yaitu Pinisi. Pinisi ini menjadi saksi bisu kecerdasan maritim Nusantara dari dulu hingga kini.
Selain terkenal akan keahlian berdagang dalam jalur laut, mereka juga pandai dalam beradaptasi, membangun jaringan antar wilayah yang mereka singgahi, dan juga memberi pengaruh ekonomi dan sosial di setiap pusat pelabuhan Asia Tenggara. Sehingga tidak heran jika kita melihat Johor, Malaka, dan juga Singapura terpengaruh akan kehadiran orang-orang Bugis.
Seperti di Singapura contohnya, saya melewati tempat yang bernama Bugis Junction dan Kampong Bugis, konon katanya dinamakan Bugis karena sebelumnya tempat tersebut pernah diduduki oleh orang-orang Bugis. Penyematan nama Bugis itu merupakan penghormatan atas kejayaan mereka di Singapura.
Warisan sejarah orang-orang Bugis yang sangat melimpah dan juga struktur sosial mereka yang sangat dinamis menjadikannya sebagai salah satu kajian paling penting dalam antropologi dunia, khususnya dalam persoalan gender.
Kita mungkin memahami gender hanya sebatas sifat atau perilaku yang terbentuk karena adat dan kebiasaan masyarakat setempat baik bagi laki-laki maupun perempuan atau singkatnya disebut konstruksi sosial. Sebagian yang lain memahami gender sebagai jenis kelamin yang biner, yaitu terbatas laki-laki dan perempuan saja. Terkadang, jika terdengar selain dari 2 jenis itu dianggap tabu bahkan sesat. Tetapi jika kita melihat ke belakang pada 600 tahun lalu, sebelum studi gender berkembang di dunia Barat, orang-orang Bugis memiliki pemahaman gender lebih dari itu, mereka memahami gender sebagai sesuatu yang bersifat sosial, spiritual, dan kultural.
Berdasarkan kosmologi Bugis, mereka memiliki 5 jenis gender yang eksistensinya sebagai penjaga harmoni sosial dan keseimbangan spiritual masyarakat mereka. Setiap gender dalam keyakinan orang-orang Bugis punya peranan yang berbeda, antara lain:
Pertama, Oroane. Oroane ini dikenal sebagai laki-laki pada umumnya yang terkenal memiliki sifat maskulin, sebagai pelindung dan pencari nafkah keluarga.
Kedua, Makkunrai. Makkunrai juga dikenal sebagai perempuan pada umumnya yang memiliki sifat feminin, mereka dipandang kedudukannya lebih tinggi dalam keluarga karena sebagai simbol martabat keluarga mereka. Keduanya ini, baik Oroane dan Makkunrai tidak memiliki penjelasan lebih karena dipahami dengan konsep laki-laki dan perempuan pada umumnya. Secara fisik sebagai laki-laki dan perempuan serta bersikap layaknya laki-laki dan perempuan.
Ketiga, Calalai. Calalai dikenal sebagai seorang perempuan yang memiliki sifat maskulin, mereka mengambil peran sosial yang secara umum dilakukan oleh laki-laki, seperti pandai besi, pencari nafkah hingga sering keluar rumah pada malam hari yang masih menjadi hal tabu dilakukan perempuan. Adapun calalai ini sebagai cerminan kekuatan serta kemandirian pria Bugis.
Keempat, Calabai. Calabai adalah jenis gender yang terlahir sebagai laki-laki yang memiliki sifat feminin, layaknya perempuan pada umumnya. Mereka biasa menjadi pusat perhatian saat ada acara pernikahan suku Bugis. Perannya sebagai penentu tanggal pernikahan, pendekor tenda, dan juga sebagai tata rias busana pengantin. Calalai dan calabai ini secara garis besar memiliki peran yang secara umum terbalik.
Kelima, jenis gender yang terakhir ini mencakup keempat gender sebelumnya, gender ini bernama Bissu. Mereka dianggap melampaui gender yang lain atau bisa dikatakan derajatnya lebih tinggi. Secara adat, mereka tidak boleh terlalu menonjolkan sifat maskulin atau feminin, keduanya harus seimbang.
Bissu dianggap suci oleh orang-orang Bugis, sehingga mereka dipercaya memimpin acara spiritual dan adat, menjadi tabib (sanro, kajangeng, samaritu), pelantik dan pendamping raja (paddanreng arung), penyetuju setiap kebijakan dan keputusan raja seperti perang, perawat dan penjaga pusaka kerajaan (‘Arajang), peramal masa depan (to boto), dan sebagai penolak bala dan penyakit (mattola’ bala).
Tetapi, dari peranan Bissu yang sangat terhormat ini, tidak mencegah mereka dari perlakuan kejahatan. Pada tahun 1950-an sejarah kelam mereka dimulai bagi mereka. Para Bissu mengalami pembantaian yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar dari kelompok Darul Islam (DI)/Tentara Islam Indonesia (TII) di Sulawesi Selatan. Kelompok ini menganggap ritual dan peran Bissu sebagai praktik musyrik yang perlu dimurnikan.
Para Bissu dibunuh karena dianggap melanggar kodrat dan tidak mau bertobat, perlengkapan upacara adat mereka juga dihancurkan. Masa kelam itu masih berlanjut pada awal rezim Orde Baru tahun 1966. Pemerintah melakukan Operasi Toba (Operasi Taubat), memaksa para Bissu untuk menjadi laki-laki selayaknya. Para Bissu banyak yang dibunuh, hanya sedikit dari mereka yang selamat karena bersembunyi dan dilindungi masyarakat setempat. Hingga kini, Bissu hidup dengan penuh perjuangan mempertahankan eksistensi mereka dari tekanan modernitas dan kelompok intoleran.
Bukan hanya Bissu saja, keempat jenis gender lainnya juga mengalami tekanan besar melalui modernisasi, konservatisme keagamaan dan stigma sosial. Kegiatan adat dan spiritual mereka perlahan menghilang. Sedangkan, bagi pusat studi budaya dunia, seperti Singapura hal ini dipandang sebagai warisan intelektual yang sangat penting dan perlu dikaji terus menerus. Kontribusi sejarah peradaban suku Bugis sangat dihargai bagi dunia, tetapi di tanah air mereka sendiri mereka diabaikan bahkan dibantai atas nama pemurnian agama.
Kelima jenis gender suku Bugis ini banyak memberi kita pelajaran. Mereka telah memberi contoh kepada dunia dimana dari banyaknya keragaman manusia tidak menjadikan mereka berpecah belah apalagi saling memusuhi, mereka menyediakan ruang bagi keragaman agar supaya saling memberi manfaat dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Mereka hidup damai dan harmoni karena mengakui keragaman, serta terbuka dan toleran terhadap sesama.
Sehingga, kita yang hidup pada masa kini jangan sampai lupa akan sejarah peradaban suku Bugis, dari kisah-kisah peradaban mereka kita bisa mengambil pelajaran yang positif. Seharusnya kita malu jika negara lain sangat tertarik, memahami dan banyak belajar dari sejarah ini, sedangkan kita sendiri sebagai pemilik sejarah tidak tahu menahu akan sejarah 5 gender suku Bugis ini yang menjadi warisan berharga bagi Indonesia, bahkan dunia.




