Kelas Berdinding Papan, Melahirkan Juara Masa Depan

Nanang

Seringkali problematika Pekerja Migran Indonesia (PMI) dibahas ramai melalui lisan maupun dari layar kaca, mulai dari rakyat jelata sampai orang tertinggi di negara. Akan tetapi, pernahkah kita berfikir bahwa dibalik itu terdapat ruang-ruang belajar berbilik papan menjadi saksi bisu atas perjuangan anak-anak mereka dalam memperoleh hak pendidikannya? Melalui ruang inilah mereka meraih pendidikan dengan semangat dan gembira walau menghadapi segala keterbatasan. Kondisi ini tidak mencegah mereka untuk terus berkembang dan melahirkan prestasi yang melimpah.

Pendidikan di Tengah Keterbatasan

Ruang belajar anak-anak PMI di Malaysia jauh dari kata layak, penuh keterbatasan dan kekhawatiran. Ruang kelas di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5 (SBSM 5) misalnya, memanfaatkan bangunan rumah warga yang disewa olehnya, berisi bilik-bilik kamar sempit, kelas lesehan tanpa kursi, serta meja belajar kecil berbahan plastik menjadi harapan anak-anak migran untuk bisa meraih masa depan mereka melalui pendidikan.

Keprihatinan ini bertambah ketika penulis melihat dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran mereka di kelas, tepatnya di ruang kelas 4. Ruang kelas yang sempit dan volume anak yang sangat banyak membuat suasana pembelajaran kurang kondusif, terbatas ruang gerak, dan kurang optimal. Bahkan, dengan ruang yang sangat sempit memaksa anak-anak yang duduk di bagian belakang menulis sambil berdiri supaya mereka bisa melihat tulisan yang ada di papan tulis.

Kondisi seperti ini tentunya berbanding jauh dengan ruang kelas sekolah formal pada umumnya. Setiap kelas didesain rapi dari kelas 1 hingga 6, dengan dinding kokoh berbahan beton serta kursi belajar dan meja tulis yang nyaman turut mendukung pembelajaran anak-anak. Kendati demikian, dengan segala keterbatasan SBSM 5 tetap memberikan ruang pendidikan terbaik bagi anak-anak migran dengan penuh semangat dan tekad kuat dalam menepis segala keterbatasan dan ketidakmungkinan ini. Lembaga ini menjadi sekolah alternatif bagi anak-anak migran yang tidak bisa mengakses pendidikan formal, faktor utamanya karena status mereka yang undocumented.

SBSM 5: Pendidikan Alternatif bagi Anak-anak PMI Undocumented

SBSM 5 merupakan sekolah non-formal setara paket-A bagi anak-anak PMI yang tidak memiliki akses ke sekolah formal di Malaysia. Eksistensi lembaga ini sangat esensial sebagai solusi untuk ribuan anak-anak migran Indonesia yang terancam kehilangan haknya dalam pendidikan karena status undocumented mereka.

Materi pembelajaran di SBSM 5 sangat beragam, mulai dari Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Seni Budaya dan Keterampilan, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Arab, Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain itu, SBSM ini juga membiasakan  ritual keagamaan seperti shalat dhuha dan hajat, serta sholat dzuhur dan ashar berjamaah. Semua itu dilakukan tiada lain sebagai ikhtiar lahir batin antara pengajar dan anak-anak supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat lagi berkah.

Kegiatan pembelajaran ini dilakukan dengan sederhana dan penuh keterbatasan. Namun, semuanya dilakukan dengan optimal dan dijaga kualitas pendidikannya melalui dedikasi para pengajar SBSM 5 yang umumnya sebagai PMI, memastikan anak-anak PMI mendapatkan hak pendidikan sebagaimana mestinya, rasa kemanusiaan dan kepedulian mereka memberi tanda bahwa nilai-nilai luhur pancasila tetap tertanam kuat meski mereka berada di negeri orang.

Prestasi di tengah kesederhanaan

Menariknya, dari keterbatasan fasilitas ini tidak menghalangi anak-anak untuk menoreh prestasi. Seperti yang telah diceritakan oleh Mimin Mintarsih, pengelola SBSM 5. Bahwa sebagian besar anak-anak yang telah lulus dan melanjutkan pendidikannya di Indonesia mampu bersaing bahkan menorehkan prestasi-prestasi gemilang. Misalnya, mereka umumnya mendapat peringkat 1 di daerahnya masing-masing seperti di Madura, Padang, Lamongan, dan Lumajang. Selain itu, mereka juga aktif menjadi pengurus organisasi internal sekolah seperti Organisasi Siswa (OSIS). Bahkan, banyak lulusan SBSM 5 memperoleh beasiswa-beasiswa di Indonesia, salah satunya beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Semua ini membuktikan bahwasanya, selain berprestasi, anak-anak juga mudah beradaptasi, bersosialisasi, dan memiliki kepercayaan tinggi walau dari latar belakang yang berbeda dengan teman sebayanya, dari luar negeri dan di luar sistem formal.

Kisah nyata anak dari keluarga Kristina selalu menjadi topik utama SBSM 5. Awal mulanya, mereka selalu diremehkan oleh tetangga dekatnya karena menyekolahkan anaknya di sanggar ini. Namun, keluarga Kristina menjawab cemoohan itu dengan prestasi gemilang. Saat melanjutkan sekolah menengah di Indonesia, anaknya diterima  di salah satu SMP favorit di Padang. Keluarga ini memberi bukti nyata bahwa keberhasilan pendidikan seseorang justru berasal dari semangat dan kemauan mereka dalam belajar, tidak terbatas dalam ruang belajar yang serba lengkap dan mewah seperti sekolah formal pada umumnya.

Makna Pendidikan Sejati

Melalui kisah kisah anak-anak SBSM 5, memberi kita pelajaran bahwa esensi pendidikan dan makna prestasi seorang anak tidak selalu diukur dengan kemegahan infrastruktur sekolah atau fasilitas yang memadai. Pendidikan sejati justru lahir dari kemauan untuk belajar dan keberpihakan seluruh elemen masyarakat dalam memberi ruang bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan tanpa syarat.

Kelas berbilik papan nan sempit mungkin terlihat jauh dari kata layak untuk menjadi ruang belajar yang nyaman dan kondusif. Bagi mereka, tempat ini menjadi ruang untuk tumbuh, membangkitkan rasa percaya diri dan menoreh prestasi untuk bekal masa depan. Keterbatasan ini tidak menjadikan mereka lemah, mereka berusaha menjadikannya sebagai titik berangkat untuk diri dan bangsa menuju perubahan yang lebih baik.