Pameran yang Mengubah Cara Saya Melihat Diri Sendiri

Uuf

Hari sabtu pada tanggal 16 Agustus 2025, kami bersama teman-teman dapat undangan untuk menghadiri sebuah pameran galeri internasional yang diselenggarakan oleh Kak Yati bersama tim nya. Dalam perjalanan kami sangat terburu- buru, karena pameran ini dimulai ketika kita sudah datang. Kita semua yang ada di mobil panik, lihat jam kira- kira kurang berapa menit lagi akan tiba di lokasi.

Masih di perjalanan kita mendapatkan message dari Kak Yati, “sudah sampai mana?”. Teman kami Fuji yang menjawab pesanitu, “Kita semua bentar lagi sampai”. Sudah lah sampai di titik lokasi yang tertera di grabcar, tapi drivernya bingung karena masuk ke dalam dengan jalan nya yang sempit. Akhirnya kita bilang ke driver nya, “iya..benar ini lokasinya’, ya sudah akhirnya, kita semua yang ada di mobil turun.

Setelah itu, Kita semua yang naik di mobil pertama tiba di lokasi terlebih dahulu, ketimbang rombongan mobil ke dua, alhasil kita tunggu mereka semua supaya bisa masuk ke dalam bersama- bersama. Tibalah mobil kedua di lokasi, kita sudah pada kumpul semua, memutuskan untuk masuk ke dalam. Baru melihat luarnya saja saya sudah dipenuhi dengan rasa keheranan dan kagum.

Dan masih tidak menyangka bakal menghadiri sebuah pameran galeri international tersebut. Sebelumnya menghadiri acara seperti ini hanya sebuah khayalan saja, tapi Allah dengan seksama telah memberikan jalan, sehingga bisa menghadiri secara nyata. Kesan pertama yang saya rasakan ketika sampai di dalam, adalah rasa takjub, heran dengan indahnya pemandangan sebuah lukisan dengan berbagai macam gaya nan estetik. Ketika di dalam mulut dan hati tidak henti-hentinya untuk memuji. Setelah sudah melihat dan membaca sekilas, kita semua dikumpulkan untuk mendengarkan sepatah dua patah dari Kak Yati secara langsung.

Kita semua serentak fokus untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kak Yati, ada kesan yang saya ingat-ingat sampai pulang yaitu “ mengapa kebanyakan yang dilukis seorang perempuan?, karena seorang perempuan harus bisa berdaya”. Selesai sudah sesi refleksi, dilanjutkan dengan sesi foto bersama untuk kita semua para audiens yang hadir. Setelah selesai, ada yang ngobrol dengan Kak Yati, ada yang melihat lukisan secara sendiri, ada juga yang ngobrol antara audiens satu dengan yang lainnya.

Saya sendiri memutuskan untuk menepi sendiri untuk lebih fokus dalam mengamati sebuah lukisan yang sangat indah nan cantik ini. Satu persatu saya pandangi sambil berpikir, kok bisa ya, bisa melukis seperti ini. Akhirnya saya tersadar, oh ya… saya sendiri, memutuskan untuk bergabung lagi bersama teman-teman.

Dalam perjalanan saya menuju ketaman-teman, tibalah datang seorang perempuan muda nan cantik yang nampak elegan serta ramah, menghampiri saya. Ia tersenyum dengan ramah dan hangat, tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun dari saya, yang diiringi dengan menatap lukisan secara bergantian. Lalu ia mulailah percakapan itu dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat fasih dan lembut.

“Hello, what’s your name? Where are you from? Are you here on holiday or studying?”. “In your opinion, which painting here is the most impressive, the most beautiful, the most touching? Choose one”. Tanyakan kepada saya.

Saya merasa pede saja, karena bagian awal dari beberapa pertanyaan saya bisa menjawab dengan fasih. Namun mendengar pertanyaan selanjutnya, jantung saya terasa mau lepas, yang awalnya diselimuti oleh rasa kehangatan yang sangat mendalam, seketika digantikan oleh rasa panik yang menusuk. Saya masih pede sedikit dan berlagak bisa, sampai-sampai minta mengulangi pertanyaannya, namun realitas berkata lain, saya masih belum bisa mengerti.

Tetapi di situ saya tidak merasa putus asa sama sekali, walaupun diselimuti oleh rasa kepanikan. Saya berusaha untuk meyakinkan diri dengan ngomong di dalam hati “jangan sampai memalukan diri sendiri”. dengan hal itu aku tutupi menggunakan kecerdasan saya, yakni dengan melihat gerak anggota tubuhnya dan menepis rasa panik tersebut. Dari situ saya paham, ternyata dia menanyakan tentang lukisan, “menurutmu lukisan yang paling indah yang bagian mana dan tunjukkan ke aku”.

Setelah selesai menjawab pertanyaannya, perasaan saya campur aduk antara senang dan pengen nangis, karena lama untuk menjawab pertanyaan dari dia. Dari situ tumbuh lah sebuah penyesalan yang sangat mendalam bagi saya. Seni yang seharusnya memberikan jalan utama bagi pintu gerbang, namun adanya peristiwa ketidakmampuan saya dalam bahasa inggris, telah menutup gerbang dan kesempatan itu. Saya juga menyadari bahwa bahasa inggris bukan hanya alat untuk bepergian saja, tetapi sebuah kunci untuk membuka pemahaman budaya, serta koneksi intelektual.

Selama ini saya beranggapan bahwa dengan kemampuan membaca dan mendengar saja itu sudah cukup, tetapi dengan momentum tersebut telah membuktikan kepada saya bahwa kemampuan berbicara adalah esensi dari sebuah interaksi. Setelah itu, saya hanya bisa menghabiskan waktu dengan perasaan campur aduk. Walaupun melihat lukisan-lukisan yang indah, tetapi pikiran saya tidak bisa berbohong dari sebuah percakapan yang gagal itu.

Saya datang ke luar negeri untuk mencari sebuah pengalaman yang global dan multikultural, justru saya menaruh sekat tersendiri, yaitu kurangnya diri ini dalam melafalkan keterampilan berbahasa. Nilai yang paling terbesar dari pengalaman ini, bukan terletak pada sebuah lukisan yang indah nan menawan, melainkan terhadap tamparan dari realitas yang saya terima dan rasakan.

Dari sana, saya mulai bersemangat untuk belajar Bahasa Inggris, bukan hanya sekedar untuk lulus dalam ujian, tetapi saya jadikan sebagai tujuan utama untuk diri, sehingga tidak bisa terisolasi lagi ketika saya berada di tengah interaksi global. Saya juga merasa yakin bahwa saya akan kembali ke galeri pameran internasional yang ada di berbagai negara maupun dunia. Untuk mengungkapkan dengan percaya diri bahwa saya sudah pandai dan fasih dalam berbahasa inggris.

Dengan demikian “Kisah dibalik karya seni ada sebuah tamparan” ini, sekarang telah menjadi kisah saya sendiri. Dan saya yakin sebuah tamparan ini untuk menjadikan sebuah misi pribadi dalam sebuah perjuangan saya untuk menembus jalan kegelapan dalam ketidakmampuan berbahasa, sampai mampu menuju puncak cahaya penguasaan dalam berkomunikasi.