Menginjakkan kaki di Malaysia sebagai seorang Mahasiswa Indonesia yang akan mengabdi kepada masyarakat, tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Ngapain jauh-jauh ngabdi ke Malaysia? Masyarakat mana yang kamu maksud? Di Indonesia lebih banyak masalah, ngapain jauh-jauh ke Malaysia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang menemani perjalanan pengabdian di Malaysia.
Pengabdian ini membawa saya untuk melihat realitas yang terjadi pada masyarakat Indonesia di Malaysia. Salah satunya adalah sulitnya akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia. Akses ini sulit didapatkan, karena status kewarganegaraan dari anak-anak yang tidak memiliki dokumen resmi atau undocumented. Banyaknya pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menikah tidak secara resmi, menyebabkan mereka melahirkan anak-anak tidak dengan status kewarganegaraan yang jelas.
Tidak adanya status kewarganegaraan atau undocumented, membuat posisi anak-anak PMI menjadi rentan. Berbagai akses tertutup, salah satunya dalam segi pendidikan mereka tidak diterima oleh sekolah di Malaysia maupun Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Anak-anak yang tidak memiliki dokumen kelahiran resmi, tidak diterima di sekolah-sekolah tersebut. Selain itu, mereka juga rentan diamankan kepolisian atau lembaga hukum Malaysia.
Nyai Mimin Mintarsih menjadi perempuan yang pertama kali menyadari realitas tersebut. Dalam beberapa pertemuan pengajian bersama dengan Muslimat NU, ia melihat anak-anak yang ternyata tidak mendapatkan akses pendidikan, tidak belajar dan bahkan tidak bersekolah. Hal tersebut menimbulkan keresahan tersendiri bagi Nyai Mimin Mintarsih. Sebagai ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia, ia mengambil inisiatif untuk menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak PMI. Bersama dengan perempuan-perempuan Muslimat lainnya, ia melahirkan Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5 (SBSM).
Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5
Nyai Mimin Mintarsih merupakan perempuan asal Cirebon yang telah hidup di Malaysia sejak tahun 1992. Bersama suaminya Kiai Liling Sibron Milisi, sejak tahun 2000-an ia membentuk tempat-tempat belajar agama bagi anak-anak di Malaysia. Dari inisiatif ini, Nyai Mimin Mintarsih perlahan menyadari permasalahan yang lebih kompleks. Melihat anak-anak PMI yang tidak bersekolah dan tidak dapat mengakses pendidikan.
Nyai Mimin Mintarsih bersama dengan Muslimat NU melakukan banyak strategi dan negosiasi untuk mewujudkan sebuah komunitas belajar dengan basis kurikulum dari Indonesia. Pada tahun 2019, tekad itu terwujud dengan hadirnya Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5 yang diresmikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). SBSM ini menjadi sekolah informal dibawah Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).
Sanggar Bimbingan SUngai Mulia 5 merupakan sanggar pertama di Semenanjung Malaysia. Sebelum pada akhirnya banyak bermunculan sanggar baru disana. Melihat SBSM 5 sebagai sebuah sekolah, tentu akan sangat berbeda dengan sekolah-sekolah formal di Indonesia. Para murid tidak memiliki baju resmi yang dipakai setiap harinya, mereka menggunakan baju kaos, gamis ataupun kemeja saat pergi ke sekolah. Bangunan yang digunakan pun merupakan rumah dua tingkat yang disewakan dengan beberapa ruangan. Ruangan-ruangan tersebut digunakan untuk tempat belajar anak-anak PMI.
Rumah dua tingkat itu diisi delapan kelas yang setara dengan sekolah dasar di Indonesia, dengan dua kelas tambahan yaitu kelas CALISTUNG (Membaca, Menulis dan Berhitung). Hingga bulan Agustus tahun 2025, tercatat ada 179 murid yang bersekolah di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5.
Muslimat NU Malaysia
Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5 lahir sebagai wujud kepedulian perempuan terhadap pendidikan. Nyai Mimin Mintarsih bersama dengan para perempuan di Muslimat NU telah membuktikan kontribusinya. Dengan mengambil peran dalam mewujudkan akses pendidikan bagi anak-anak PMI di Malaysia.
Para pendidik di lingkungan SBSM didominasi oleh anggota Muslimat NU, yang juga merupakan pekerja migran. Nyai Mimin Mintarsih dalam sebuah wawancara, mengungkapkan bahwa salah satu strategi yang dilakukannya adalah dengan mengaktifkan kembali divisi pendidikan, dalam struktur organisasi Muslimat NU Malaysia. Melalui divisi pendidikan ini, staf hingga pendidik diorganisir untuk dilibatkan di Sanggar.
Selama mengabdi SBSM ada satu hal yang memang dibutuhkan lebih dari skill menjadi seorang guru itu sendiri, hal itu adalah kepedulian. Para guru di SBSM lebih dari sekedar mengajar, bagi saya mereka juga mengasuh. Saya merasa bahwa di sanggar anak-anak menemukan ruang aman mereka. Rasa kepedulian para guru kepada anak-anak menjadikan Sanggar sebagai tempat perpanjangan dari rumah. Ditengah-tengah situasi yang rentan, mereka diberikan tempat untuk mendapatkan pengetahuan yang hangat.
Nyai Mimin Mintarsih sebagai pengelola utama sanggar memberikan para guru insentif secara profesional. Sehingga mereka juga bisa berdaya secara finansial sebagai seorang perempuan.
Transformasi Sosial
Kerja-kerja Nyai Mimin Mintarsih bersama dengan Muslimat NU mewujudkan sebuah transformasi sosial. Transformasi ini dilakukan langsung oleh para perempuan dalam komunitas pekerja migran Indonesia. Perempuan selama ini seringkali mendapatkan posisi domestik, yang membatasi mereka untuk ikut serta dalam kerja-kerja publik. Dalam hal ini, perempuan justru menunjukkan perannya di ruang publik. Nyai Mimin Mintarsih bersama dengan Muslimat NU Malaysia telah mendobrak stigma tersebut, dengan menjadi agen transformasi sosial.
Transformasi yang diwujudkan melalui solidaritas perempuan. Solidaritas yang berasal dari organisasi perempuan yaitu Muslimat NU, telah melahirkan komunitas belajar yang membuka akses pendidikan bagi anak-anak PMI. Mereka menjadi pendidik, pemimpin komunitas bahkan menjadi mediator komunitas migran dengan pihak pemerintah dalam membuka akses pendidikan anak-anak PMI. Pengabdian ini menjadi jalan bagi saya dalam melihat kerja-kerja perempuan-perempuan hebat di akar rumput yang membuka akses pendidikan bagi generasi masa depan. []




