Tudung tidak Menunjukkan Kesalehan Seseorang: Sebuah Karya Kak Yati

Uuf

Hari Sabtu, 9 Agustus 2025, proses belajar mengajar di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia (SBSM) telah libur. Maka, kami memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan kunjungan ke berbagai jejaring komunitas yang dikenali oleh Bu Nurul. Bu Nurul merupakan pengasuh pesantren kami di Cirebon, sekaligus menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Selama di Malaysia, kami ditemani oleh beliau kurang lebih selama 30 hari.

Pada hari itu, kami semua berkunjung ke salah satu komunitas, yaitu Sister in Islam (SIS). Saya sendiri merasa sangat bangga, kagum, dan terpesona bisa dipertemukan dengan sosok orang-orang hebat, cerdas, serta peduli terhadap kaum yang tertindas. Momentum tersebut tentu tidak bisa dilupakan, terlebih kami semua disambut dengan hangat dan penuh ketulusan.

Saya masih merasa tidak yakin bisa mengunjungi komunitas ini. Dulu, saya hanya bisa melihatnya melalui Instagram, tetapi kini dapat bertemu secara langsung. Wajar jika saya merasa demikian, karena saya berasal dari desa di pelosok, di mana akses transportasi umum masih terbatas. Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini.

Setelah berbincang ringan sekaligus perkenalan, acara pun segera dimulai dan dipandu oleh Kak Yati. Dalam sesi tersebut, kami diajak menonton dan menikmati sebuah film dokumenter karya Kak Yati yang berjudul “Aku Siapa”.

Dimulailah film tersebut. Isinya membahas sejarah pemakaian tudung serta menjawab berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat Malaysia. Apa sebenarnya makna tudung? Mengapa kesalehan seorang perempuan sering diukur dari tudung? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pintu awal pembahasan.

Perlu diketahui, tudung adalah jilbab atau kerudung yang dikenakan di atas kepala untuk menutupi rambut, leher, dan dada, sementara wajah tetap terlihat. Istilah tudung sendiri digunakan di berbagai negara Muslim dengan sebutan yang berbeda-beda.

Di Iran disebut chador, di India dan Pakistan disebut pardeh, di Libya disebut milayat, di Irak disebut abaya, di Turki disebut çarşaf, di Indonesia dikenal sebagai jilbab atau kerudung (hijab), sedangkan di negara-negara Arab-Afrika disebut hijab. Semua istilah tersebut merujuk pada penutup kepala.

Jika dimaknai lebih luas, penutup kepala tidak hanya dikenakan oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki. Namun, mengapa saat ini pemakaian tudung justru dijadikan ukuran kesalehan seseorang?

Tudung dalam Pandangan Sejarah

Tudung merupakan bagian dari peradaban yang telah dikenal sejak ratusan tahun sebelum Islam hadir. Penggunaannya sudah ada sejak peradaban Sumeria di Mesopotamia (Irak tenggara) sekitar 5.000 SM. Pada masa itu, perempuan elit mengenakan kerudung sebagai simbol kehormatan dan status sosial tinggi. Tradisi berhijab juga ditemukan dalam masyarakat Assyria kuno, jauh sebelum Islam lahir.

Jika melihat kembali ke tahun 1970-an, gaya memakai tudung masih sangat sederhana, hanya berupa kain panjang yang diletakkan di atas kepala. Bahkan, sebagian rambut dan leher masih terlihat. Apakah mereka tidak taat beragama? Justru sebaliknya, mereka adalah perempuan-perempuan yang taat.

Realitas sosial juga menunjukkan bahwa tidak sedikit perempuan yang tidak memakai tudung, tetapi memiliki kesalehan yang tinggi. Bahkan, pada masa lalu, para ibu dan istri tokoh masyarakat hanya mengenakan kerudung sederhana dengan sebagian rambut dan leher tetap terbuka.

Dalam masyarakat Yunani pada abad ke-12 atau ke-13, penggunaan tudung juga menjadi bagian dari tradisi, di mana perempuan menutup wajah dengan ujung selendang atau jilbab khusus berbahan tertentu yang indah.

Seiring perkembangan zaman, berbagai aspek kehidupan mengalami perubahan, termasuk dalam penggunaan tudung. Tudung kini hadir dalam beragam bentuk, gaya, dan model, bahkan menjadi bagian dari tren fashion. Perubahan ini menunjukkan bahwa fashion dapat menjadi sarana ekspresi diri bagi setiap individu.

Di tengah berbagai perdebatan tersebut, Kak Yati dalam filmnya melakukan wawancara dengan berbagai tokoh, baik tokoh agama laki-laki maupun perempuan, serta masyarakat dari generasi sebelumnya, untuk mendapatkan berbagai perspektif.

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa memakai tudung bukanlah ukuran kesalehan seseorang. Kesalehan justru tercermin dari bagaimana seseorang mengendalikan hati dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, bukan dari apa yang dikenakan.

Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur’an dan Hadis:
“Sesungguhnya yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Serta sabda Nabi:
“Allah tidak melihat rupa dan tubuhmu, tetapi melihat hati dan amal perbuatanmu.”

Dengan demikian, film ini mengajarkan agar kita tidak menilai seseorang hanya dari apakah ia memakai tudung atau tidak. Penilaian seharusnya didasarkan pada perilaku dan akhlaknya.

Oleh karena itu, kita tidak perlu ikut-ikutan mengomentari penampilan orang lain, apalagi menghakimi pilihan berpakaian mereka. Lebih baik kita fokus pada diri sendiri untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, memperbaiki perilaku, serta lebih peka terhadap mereka yang tertindas.