Zainah Anwar dan Jejak Panjang Perjuangan Hak-Hak Perempuan

Siti Robiah

Aku berhasil membuktikan pepatah yang bilang, “kalau sudah rezeki memang tak kemana.” Meski tak sempat berkunjung ke kantor Musawah, takdir mempertemukan kami dengan pendiri Musawah sekaligus salah satu penggagas berdirinya Sisters in Islam (SIS), yaitu Zainah Anwar. Dalam dunia pergerakan keadilan perempuan, khususnya di Malaysia, namanya berada di garis depan. Ia dikenal karena suaranya yang kuat dalam membela hak-hak perempuan, terutama terkait hukum keluarga Islam dan isu ketidakadilan gender.

Di Indonesia, namanya juga sudah memiliki tempat tersendiri sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Hal ini terbukti ketika Zainah dilibatkan sebagai pembicara dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI I) yang diadakan di Cirebon.

Saat itu, kami hadir dalam satu pameran yang diselenggarakan oleh Kak Yati — seorang aktivis yang juga fokus pada perjuangan perempuan di Malaysia. Kak Yati mengadakan pameran tunggal berbagai karyanya dengan tema yang masih berkaitan dengan perjuangan perempuan. Sudah pasti, pengunjung pamerannya pun didominasi oleh orang-orang dan komunitas penggerak perempuan. Jujur, sebelumnya aku belum mengetahui secara mendalam siapa sebenarnya di balik gerakan progresif seperti Musawah atau SIS; aku hanya sebatas tahu tanpa mencari tahu lebih banyak.

Saat sedang menunggu giliran foto sambil melihat pameran, samar-samar terdengar panggilan, “Ayo, ada Zainah Anwar.” Awalnya pikiranku masih belum fokus, hingga kusadari bahwa beliaulah pendiri dan penggagas gerakan Musawah dan SIS. Sontak saja mataku tertuju padanya, dan aku segera menghampiri. Kami dikenalkan sebagai bagian dari Sarjana Ulama Perempuan Indonesia, yang masih terikat kuat dengan KUPI.

Zainah menyambut kami dengan antusias. Awalnya aku merasa sedikit menyesal karena tak ada waktu khusus untuk forum diskusi, tapi setidaknya pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk pertemuan atau bahkan forum di masa depan.

Karir Perjalanan Zainah Anwar

Zainah Anwar lahir di Johor pada tahun 1954, berasal dari keluarga yang cukup berpengaruh. Ia adalah putri Tan Sri Anwar Malek, yang pernah menjadi Setiausaha Sulit Dato’ Onn Jaafar, dan juga masih berkerabat dengan Mohamad Noah Omar. Sejak muda, Zainah tertarik pada dunia jurnalisme dan akhirnya bergabung dengan kelompok pelopor calon jurnalis di Institut Teknologi Mara pada tahun 1972.

Kariernya berkembang pesat ketika menjadi jurnalis di New Straits Times, sebelum melanjutkan studi S2 di Universitas Boston pada tahun 1978. Ia kemudian mengambil jurusan Hukum Internasional dan Diplomasi di Fletcher School of Law and Diplomacy, Universitas Tufts, hingga 1986.

Setelah kembali dari Amerika Serikat, Zainah bergabung dengan lembaga think tank Institute of Strategic and International Studies dari 1986 hingga 1991. Kemudian ia bekerja sebagai kepala program di divisi Urusan Politik Sekretariat Persemakmuran di London, di mana ia membangun jaringan global dan semakin matang secara politik. Ia kembali bergabung pada 1994–1996, lalu memilih bekerja lepas.

Pergerakan dan Pemikiran Zainah Anwar

Sebagai aktivis dan feminis Muslim Malaysia, Zainah dikenal sebagai salah satu pendiri Sisters in Islam dan Musawah, dua organisasi penting dalam perjuangan keadilan gender dalam Islam. Ia memimpin Sisters in Islam selama lebih dari dua dekade sebelum mengundurkan diri. Pengaruhnya diakui secara global, pada tahun 2013, Museum Perempuan Internasional menobatkannya sebagai salah satu dari sepuluh perempuan Muslim paling berpengaruh di dunia. Bersama Datin Paduka Marina Mahathir, ia juga pernah masuk dalam daftar “100 Wanita Dunia” yang memberi inspirasi besar dalam meningkatkan kehidupan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia.

Pencapaian yang diraih oleh Zainah Anwar tentulah tidak berangkat dari kisah sehari atau sebulan saja, tapi Zainah Anwar adalah pribadi kuat yang terbentuk oleh berbagai gemblengan luar biasa dalam hidupnya. Sikap kritismya sudah ditunjukkan sejak  di masa Sekolah. Dalam wawancara dengan The Star, ia bahkan mengatakan bahwa ia bukan terlahir sebagai pemimpin, tetapi terlahir sebagai pemberontak.

Dalam wawancaranya bersama The Star pada tahun 2008 ia mengatakan bahwa ia seringkali menanyakan hal-hal yang tidak bisa mereka jawab. Sebagai contoh dia sudah bertanya “mengapa (Stamford) Raffles dianggap sebagai pendiri Singapura padahal sudah ada orang yang tinggal di sana sebelumnya.”

Sikap kritis dan banyak bertanya ini bagi Zianah jelas sangat membantu, Dia menjadi pribadi yang tidak pernah takut. Dia menyadari bahwa dirinya tak suka aturan. Hal itu pula yang mendorong dia bercita-cita untuk menjadi Jurnalis ketika dia lulus.

Meskipun ia telah mengundurkan diri setelah lebih dari dua dekade memimpin Sisters in Islam, ia tetap berada di lingkaran inti organisasi sebagai anggota dewan direksi. Menurut data yang tercatat dalam laman Wikipedia tentang Zainah Anwar berdirinya SIS berawal pada 1987, saat Zainah bersama beberapa pengacara perempuan dan seorang jurnalis membentuk gerakan awal untuk mengkaji persoalan perempuan Muslim di pengadilan, yang kemudian pada 1990 resmi menjadi Sisters in Islam.

Fokus organisasi ini adalah menantang hukum dan kebijakan yang dibuat atas nama Islam tetapi mendiskriminasi perempuan, kemudian perlahan memperluas kerja mereka ke isu demokrasi, hak asasi manusia, dan konstitusionalisme.

Dalam wawancaranya , Zainah berkata:

“Seolah-olah dalam Islam, perempuan sama sekali tidak punya hak. Ada seorang perempuan bertanya, kalau rumahnya terbakar, apakah ia masih harus meminta izin suaminya untuk menyelamatkan diri? Perempuan bahkan tidak boleh memakai akal sehat demi menyelamatkan hidupnya sendiri. Ini tidak bisa menjadi Islam. Tuhan itu adil. Islam itu adil.”

Tentu saja hal ini membuatnya terkejut dan mendorong harus adanya kajian khusus yang melihat narasi agama secara lebih adil bagi laki-laki dan perempuan. Proses ini menjadi momen yang banyak membuka dan mencerahkan untuk melihat agama secara lebih adil dan setara tanpa ada pihak yang merasa terdiskriminasi.

Zainah Anwar mengingatkan kembali tentang nilai-nilai prinsip Islam yang mutlak dan universal. Jika Islam dan Tuhan itu Maha Adil dan rahmatan lil alamin, maka seharusnya tidak ada pihak yang didiskriminasi; setiap perlakuan yang melukai hak seseorang jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Sebagaimana ditegaskan oleh Fatema Mernissi, seorang cendekiawan Muslim Maroko yang terkenal dalam kajian gender dan Islam, diskriminasi terhadap perempuan bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri, melainkan muncul dari tafsir-tafsir patriarkal yang dibentuk oleh konteks sosial-politik tertentu. Mernissi menekankan bahwa sumber-sumber Islam—termasuk Al-Qur’an—sebenarnya menghadirkan nilai kesetaraan, tetapi penafsir laki-laki pada masa-masa awal sejarah Islam sering menafsirkan teks dengan kacamata budaya patriarki, sehingga menghasilkan aturan-aturan yang membatasi perempuan.

 Kritik dan Tantangan

Dalam kiprahnya, Zainah Anwar tak luput dari kritik. Ia kerap diserang karena dianggap tidak sesuai dengan citra “perempuan Melayu-Muslim yang baik,” dan statusnya sebagai perempuan lajang justru memperpanjang sorotan publik terhadap dirinya. Meski begitu, ia tetap teguh menghadapi tekanan dari lembaga-lembaga Islam resmi—mulai dari JAKIM (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) (JAKIM), berbagai badan keagamaan tingkat negara bagian, hingga Partai Islam Se-Malaysia (PAS)—yang menilai bahwa Sisters in Islam tidak memiliki kredensial keislaman formal yang memadai. Di tengah tekanan itu, beberapa mufti progresif tetap hadir dalam seminar-seminar SIS, menunjukkan bahwa pendekatan mereka yang inklusif tetap mendapat tempat di kalangan otoritas agama yang lebih terbuka.

Hingga hari ini, Sisters in Islam (SIS) masih menghadapi tantangan berat. Belum lama ini, organisasi ini berada di ambang pembubaran setelah mendapat tekanan dari Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah, serta Majlis Agama Islam Selangor (MAIS). Putusan pengadilan sempat menguatkan langkah pembubaran, namun keputusan terbaru menetapkan bahwa SIS hanya diwajibkan mengganti nama resminya menjadi SIS Forum. Dengan demikian, aktivitas advokasi mereka tetap dapat berjalan, dan perjuangan untuk membela hak perempuan Muslim bisa dilanjutkan tanpa terputus.

Refleksi dan Inspirasi

Dari obrolan bersama Kak Shirin, kehadiranku di forum SIS, hingga kesempatan mengikuti pameran memberikan arti yang sangat bermakna. Ini bukan hanya sekedar kunjungan tapi momen berharga untuk melihat banyaknya gerakan perjuangan.  Zainah Anwar adalah sosok luar biasa di balik banyak gerakan di Malaysia saat ini, bertemu langsung dengannya membuatku memahami pentingnya keberanian dalam menyampaikan suara selama itu untuk kepentingan umat dan maslahat. Di usianya yang ke-71, tak tampak sedikit pun guratan lelah semangat dan energinya justru menular.  Untuk bisa berada pada posisi setinggi itu jelas harus diiringi kekuatan mental dan Zainah telah membuktikannya. Kritik dan tantangan tidak membuatnya mundur fokusnya tetap satu memperjuangkan hak-hak perempuan dan membela  yang paling rentan.