Di suku Melayu, terdapat sebuah cerita rakyat tentang seorang pemuda yang diberikan keistimewaan sebagai panglima dengan watak yang berani dan gagah perkasa, bernama Badang.
Badang merupakan seorang pemuda dari Melayu, ia berasal dari Sungai Batu Pahat–yang sekarang letaknya di Johor, Malaysia. Badang merupakan putra tunggal dari kedua orang tua petani miskin. Ketika Badang muda, ia bekerja menjadi buruh kasar pada petani kaya yang dikenal sebagai orang kaya yaitu Nira Sura, yang ia tempati letak rumahnya sekarang ada di Indonesia bernama Salung atau Saluang di Aceh, Sumatera. Dulu Badang seorang yang terkecil dan terlemah di komunitasnya. Tugasnya mereka merupakan membersihkan semak-semak untuk membuka lahan baru agar dapat ditanami.
Badang kecil adalah seorang budak. Ia bahkan tidak dibayar dengan cukup dari hasil kerjanya, yang ia dapatkan hanya berupa beberapa genggam beras pada setiap harinya. Karena tidak mencukupi untuk memuaskan rasa laparnya, Badang mengandalkan kemampuannya dalam menangkap ikan dengan menggunakan perangkap untuk ia makan setiap malam dan ia akan mengumpulkan pada setiap pagi. Suatu pagi Badang mendapati perangkap yang berisi ikan hasil tangkapannya beberapa hari kemarin kosong, dan hanya menyisakan tulangnya saja. Hal membuat Badang curiga bahwa ada seseorang yang telah mengambil hasil tangkapannya, saat ia tertidur lelap.
Situasi ini membuat Badang marah karena ikan hasil tangkapannya hilang dicuri. Teman-temannya pun banyak yang menertawakan nasib Badang. Badang menduga hal ini merupakan perbuatan binatang buas, sehingga Badang mempersenjatai dirinya dengan tongkat dan Badang pun bersembunyi di semak-semak hutan untuk melihat dan menangkap pelaku pencuri ikan tangkapannya, saat ia tertidur. Pada saat tertidur, Badang bermimpi mengangkat perahu dan batu besar lalu melemparkannya ke udara. Dalam mimpinya, batu itu mendarat di tepi sungai. Ia juga bermimpi bahwa dirinya menjadi sangat kaya dan tinggal di istana dengan didampingi oleh banyak pelayan disisinya.
Kedua orang tua Badang beserta adik laki-lakinya juga mengenakan pakaian yang serba mewah serta tinggal bersama Badang. Ia juga bermimpi kalau ia memakan sesuatu yang keluar dari mulut makhluk halus yang sangat besar dan menyeramkan. Pada bagian mimpi itu, membuat Badang terbangun dari tidurnya karena ia ketakutan. Saat pagi, Badang tidak melihat apa pun kecuali makhluk halus seperti yang ada di dalam mimpinya. Makhluk halus itu memiliki sepasang tanduk yang di kepalanya, taring yang sangat runcing, dan rambut yang gimbal.
Pada saat itu, dalam cahaya yang sangat minim, matanya mulai bersinar berwarna merah bak binatang buas seperti melihat mangsanya. Setelah melihat makhluk halus itu memakan hasil tangkapannya, makhluk halus itu tertidur. Saat makhluk tersebut tertidur pulas, Badang marah dan mengalahkan rasa takut. Perlahan-lahan ia mendekati makhluk tersebut dan memakai jaring kosong untuk mengikat rambut makhluk tersebut ke sebuah batu besar. Badang melihat makhluk itu seperti monster pendek dengan rambut putih panjang, matanya memancarkan cahaya merah dan memiliki jenggot yang menjuntai sampai pinggang. Badang berlari ke arah monster itu.
Ternyata, monster tersebut takut kepada Badang. Monster itu memohon ampun serta minta dibebaskan oleh Badang. Makhluk tersebut berjanji akan memenuhi permintaan Badang jika dibebaskan. Kemudian, Badang memertimbangkan permintaannya. Setelah ia mempertimbangkan, ia meminta kepada makhluk tersebut agar dirinya bisa menghilang. Namun, Badang menyadari bahwa itu akan mengundang bahaya baginya. Ia berpikir kembali, bahwa ia juga menginginkan kekayaan, tetapi ia tahu bahwa semua yang dimilikinya adalah milik majikannya. Di sisi lain, ia lebih memilih kekuatan agar tidak merasa lelah saat ia bekerja.
Makhluk halus tersebut menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kekuatan itu, ia harus memakan muntahan apa yang makhluk itu muntahkan. Kemudian makhluk itu memuntahkan semua ikan yang pernah dimakannya. Lalu Badang pun mengikuti perintah makhluk halus itu untuk memakan muntahannya. Secara perlahan-lahan, makhluk itu pun mengeluarkan dua batu permata merah menyala yang dikenal sebagai batu Geliga untuk ditelan oleh Badang. Ternyata apa yang dikatakan oleh makhluk tersebut benar-benar manjur seperti apa yang dijanjikan pada Badang, sekarang Badang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.
Pada saat Badang keluar, ia menguji kekuatannya dengan menebang pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Nira Sura pun bertanya kepada Badang, kenapa sebagian besar hutan bisa ditebang secepat itu. Akhirnya Badang menceritakan semua yang ia alami pada Nira Sura. Ia pun berterima kasih kepada Badang karena telah setia terhadapnya, hingga memutuskan untuk membebaskan Badang dari perbudakan dengan syarat agar Badang tidak menyombongkan dirinya karena kekuatan yang dimiliki Badang serta selalu memanfaatkannya untuk menolong orang lain yang sedang butuh bantuan.
Pada akhirnya, Badang bebas dari perbudakan. Kini, ia bekerja di beberapa orang sebelum ia berangkat ke Pemerintahan Singapura. Pada suatu ketika, saat Badang berada di tempat tinggal barunya, Badang melihat ada sekitar lima puluh orang sedang berusaha mendorong sebuah perahu berat ke air. Ia pun menawarkan jasanya, namun orang-orang menolaknya dengan berkata bahwa tidak ada seorang yang terlalu kecil untuk berkontribusi.
Raja Paduka Seri Rana Wikrama kemudian mengutus tiga ratus orang untuk membantu mendorong perahu itu. Tetapi usaha tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali. Melihat Badang ditolak, Sang Raja kemudian memberikan Badang kesempatan untuk mendorong perahu itu sendiri. Semua yang hadir terkejut menyaksikan Badang yang bertubuh kecil itu mampu mendorong perahu setelah kekuatan dari orang tidak berhasil. Setelah melihat kemampuan Badang, ia kemudian diundang ke Istana oleh Seri Rana Wikrama dan diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan di era Pemerintahan Kerajaan Temasik ke- 3 pada tahun 1362-1375 (Kerajaan Temasik adalah nama wilayah kerajaan kuno yang sekarang menjadi Singapura).
Badang seringkali dipanggil untuk memberi bantuan dalam berbagai macam situasi. Suatu ketika, Sang Raja memintanya untuk membawa daun kuras yang lezat dari Kuala Sayong di Sumatera, Sehingga Badang berangkat sendirian melalui perahunya. Namun, ketika ia memanjat pohon kuras, salah satu cabangnya patah dan Badang pun terjatuh, hingga kepalanya menghantam batu. Ia kaget, bahwa dirinya tidak terluka sama sekali, malah batu itu terbelah dan berubah menjadi dua bagian. Kini, batu tersebut diingat sebagai nama Batu Belah.
Seiring berjalannya waktu, Badang semakin dikenal di wilayah-wilayah tetangga. Karena Badang terkenal atas kekuatan baru yang dimilikinya, seorang Raja dari India ingin menguji kekuatan Badang untuk melawan jawaranya, yaitu Nadi Bijaya. Prajurit dari India tersebut berlayar dan tiba di Kepulauan Melayu dan disambut oleh Raja setempat yang memberikan tantangan. Seri Rana Wikrama dengan senang hati menerima tantangan tersebut dan setuju berpartisipasi. Sesuai dengan peraturan dari Raja India, pihak yang kalah harus memberikan kapal kargo kepada yang menang. Badang dan Nadi Bijaya kemudian bertanding dalam berbagai kompetisi kekuatan dan gulat, tetapi hasilnya selalu serupa; Badang sebagai pemenang.
Akhirnya, Nadi Bijaya mengusulkan agar pemenang ditentukan dari siapa yang bisa mengangkat batu besar yang ada di depan Istana. Nadi kemudian berhasil mengangkat batu tersebut hingga lutut sebelum menjatuhkannya. Ketika tiba gilirannya, Badang mengangkat batu itu sampai atas kepalanya dan melemparkannya ke laut. Nadi Bijaya menerima kesepakatan tersebut dan menyerahkan tujuh kapal kargo kepada Badang sebelum kembali ke India.
Selama bertahun-tahun, Badang tinggal di Singapura dan mengalahkan para penantang dari berbagai negara, termasuk sang jawara dari Jawa. Seiring waktu, ia mulai merasa bosan dengan perhatian yang tak henti-hentinya dan memutuskan untuk pensiun dari tugasnya untuk Sang Raja. Kemudian Badang pulang ke Sumatera dan menetap di sana sepanjang hidupnya hingga mati. Setelah kepergian Badang, Raja India yang mengutus Nadi Bijaya merasa sedih dan mengirimkan sebuah marmer untuk diletakan sebagai nissan di makam Badang.
Sampai hari ini, nama Badang selalu dikenang sebagai cerita rakyat bagi suku Melayu. Berkat kisah Badang yang pemberani itu, suku Melayu selalu termotivasi dan menjadikannya Badang sebagai legenda dan cerita rakyat yang dapat diambil hikmah untuk dicontoh oleh orang-orang masa kini.




