Menjadi Melayu: Agama, Budaya, dan Politik Asimilasi di Singapura

Dalpa

Berjalan mengunjungi Singapore River atau sungai Singapura rasanya akan terasa aneh sebagai tujuan kunjungan ini, jika hanya untuk mengambil gambar saja. Tempat ini menjadi destinasi yang paling penting dalam memahami Singapura lebih dalam. Singapore River merupakan tempat yang bersejarah dalam proses terbentuknya negara ini. Akan tetapi saya tidak akan membahas sungai ini, justru yang menarik adalah ketika saya mendengar proses dikeluarkannya Singapura dari Malaysia dalam obrolan kami. Karena ini akan sangat terhubung dengan bagaimana identitas Melayu tumbuh disana. 

Mendengar Melayu akan identik sekali kaitannya dengan Nusantara. Khususnya Malaysia, yang masyarakatnya didominasi oleh etnis Melayu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa Melayu juga terdapat di Singapura dan Indonesia. Begitupun dengan perdebatan mengenai etnis Melayu juga menjadi salah satu akar terjadinya konflik antara Malaysia dan Singapura. 

Ka Imran kami memanggilnya, adalah seorang founder dari Dialogue Centre yang menemani kami selama melakukan kunjungan ke Singapura. Mengenai proses dikeluarkannya Singapura dari Malaysia ka Imran menyebutkan adanya perbedaan ideologi politik. Malaysia memiliki perspektif bahwa Melayu adalah tuan tanah dan pemegang kekuasaan politik utama. Sementara saat itu Singapura merupakan masyarakat multikultural dengan mayoritas etnis Tionghoa. Lee Kuan Yew perdana menteri Singapura yang pertama menolak gagasan menjadikan Malaysia sebagai “Negara Melayu”. Karena ia tahu Singapura sendiri merupakan negara yang multikultural, semua warga baik Tionghoa, India, maupun Melayu memiliki kedudukan yang sama, dan hidup bersama di Singapura.

Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia saat itu tidak menerima gagasan ini. Konflik ini menyebar dan mengakibatkan kerusuhan Malaysia Cina. Konflik tersebut menyebabkan Singapura berdiri sendiri sebagai negara yang merdeka, pada tahun 1965. 

Cerita di atas tentu membawaku pada satu pertanyaan, memang siapa sebenarnya yang disebut Melayu di Singapura? Pertanyaan ini tidak dalam rangka mencari siapa Melayu asli tapi ingin mencari tahu bagaimana proses menjadi Melayu di Singapura.

 

Singapura dan Asal-Usul yang Tidak Tunggal

Untuk mengetahui siapa sebenarnya Singapura Melayu, itu kita perlu mengetahui bagaimana Singapura terbentuk sebagai sebuah negara. Kita perlu membaca bagaimana Singapura lahir melalui berbagai kisah dan simbol yang menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ka Imran menceritakan bahwa asal-usul Singapura berawal dari seorang Putera Palembang yang berlayar ke Pulau Bintan, Kepulauan Riau, untuk berburu rusa. Ia naik keatas bukit dan melihat sebuah pulau yang memiliki pasir putih indah. Ia memutuskan untuk menyebrang ke pulau tersebut. Namun ditengah perjalanan, ia terjebak ombak yang mengguncang perahunya. Untuk menenangkan laut, sang putera melemparkan persembahan ke dalam ombak hingga akhirnya ia tiba di pantai yang dikenal dengan nama Tumasek.

 

Dilansir dari p2k.stekom.ac.id Singapura awalnya disebut sebagai Temasek atau Tumasik, sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu tasik berarti danau atau laut. Sebuah sejarah berbahasa Jawa Kuno menyebutkan bahwa pemukiman yang disebut Tumasik berada dalam wilayah Majapahit. Saat sampai di pantai Tumasik, sang putera melihat seekor binatang besar yang gagah dan penuh wibawa. Ia bertanya pada pengiringnya, “Apakah binatang ini?” Salah satu menjawab, “Hamba pernah mendengar orang menyebutnya Singa.” Akhirnya pulau tersebut dinamakan Singapura, dengan pura berarti kota atau negeri. 

 

Ka Imran melanjutkan ceritanya dengan melontarkan pertanyaan, benarkah sang putera melihat singa? Pasalnya di Nusantara ini tidak ada singa. Singa hanya ada di afrika dan India. Wilayah Nusantara identik dengan adanya Harimau. Dalam catatan sejarah yang diwariskan menyebut bahwa yang dilihat oleh Sang Putera berambut merah, tubuhnya hitam dan berwibawa. Jadi bisa saja yang ia lihat adalah harimau, akan tetapi tafsir simbolis yang dipakai adalah singa sebagai lambang kekuatan dan kemegahan. 

 

Cara orang Nusantara mencatat sejarah tidak selalu menulis fakta secara biologis, salah satunya dengan menyampaikan melalui makna simbol hingga mitos yang dipengaruhi tradisi dan politik saat itu. Begitupun dengan identitas Melayu di Singapura yang terbentuk di Singapura yang juga dipengaruhi hal-hal diatas. Bukan sebagai sebuah asal-usul, tetapi hasil penafsiran sejarah, tradisi dan kekuasaan. 

Singapura dan Identitas Melayu


Dilansir dari Jurnal Lektur Keagamaan, bahwa sejak awal Singapura (Tumasik) adalah bagian dari Nusantara. Singapura (Tumasik) merupakan pelabuhan yang penting yang berlokasi strategis berada di ujung Semenanjung Malaya. Wilayah ini pernah berada dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Ayutthaya-Thailand, Kesultanan Malaka hingga pada akhirnya dipegang Portugis tahun 1511 Masehi. Maka dari itu identitas Melayu telah tumbuh di sejak lama di Tumasik ini sebagai bagian dari Nusantara

 

Tumasik menjadi pelabuhan internasional yang strategis dan penting perannya dalam perdagangan internasional. Pelabuhan ini menjadi tempat bertemunya para pedagang Arab, Persia, India dan Cina. Tumasik menjadi kota pesisir dan pelabuhan yang menjadi pemukiman para pedagang. Sebagian besar dari para pedagang ini menetap di Tumasik bahkan menikah di sana. Adapun masuknya Islam di Tumasik diperkirakan antara abad ke-8 M – ke 11 M. Proses ini menjadi salah satu yang penting dari proses terbentuknya masyarakat Melayu di Singapura. Dengan orang-orang yang multikultural berasal dari berbagai negara yang berbeda.

Orang Melayu memiliki memiliki bahasa dan budaya tersendiri. Adapun agama yang dianut masyarakat Melayu adalah Islam. Dalam konteks Singapura, masyarakat Melayu sangat beragam. Terdapat darah campuran Cina, India, Arab, Bugis hingga Jawa dari proses asimilasi budaya dan agama di Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa Singapura menjadi negara dengan mobilitas sosial budaya yang kuat pada masa lalu. Singapura telah menjelma menjadi negara multikultural. Dimana berbagai etnis, suku, budaya dan agama hadir hidup berdampingan sebagai masyarakat yang memiliki hak dan kedudukan yang sama.