Mengapa Mereka Tidak Pulang?

Nanang

Setiap tahun, ribuan orang Indonesia menginjakkan kakinya di Malaysia untuk meraih satu harapan, yaitu mendapatkan kehidupan yang layak dengan ekonomi yang cukup. Tercatat lebih dari 1,5 juta PMI menetap bekerja di negeri ini, menjadi negara pilihan utama bagi para Pekerja Migran Indonesia. Jumlah yang tidak sedikit untuk negara tujuan pekerja migran. Kendati demikian, pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa mereka memilih bertahan dan tidak kembali pulang ke tanah air Indonesia?

Tentunya, para pekerja migran tidak memilih negara tujuan tanpa alasan yang jelas. Negara Malaysia, misalnya, menjadi pilihan banyak PMI karena menawarkan peluang kerja yang lebih menjanjikan. Seperti dari hasil wawancara penulis dengan beberapa PMI di Malaysia, alasan utamanya yaitu upah yang lebih tinggi serta biaya hidup yang terjangkau.

 Rata-rata PMI biasa menerima upah per hari 70 hingga 100 Ringgit Malaysia (RM) atau sekitar 250-350 ribu rupiah. Upah ini meliputi pekerjaan Asisten Rumah Tangga (ART), konstruksi bangunan, penjaga kedai dan beberapa pekerjaan lainnya. Dari hasil upah harian ini, para PMI bisa menyisihkan upahnya untuk ditabung, karena biaya pengeluaran harian untuk makan dan kebutuhan harian di Malaysia sangat terjangkau.

Seperti halnya seorang penjahit asal Sumatera Barat, ia menuturkan bahwa bekerja di Malaysia memungkinkannya menabung dari hasil upah hariannya. Ia membandingkan pengalamannya  bekerja di Indonesia yang mana belum tentu upah hariannya bisa mencukupi kebutuhan hariannya, bahkan seringkali ia harus nombok meminjam kesana-kemari untuk kebutuhan harian. Realita kehidupan seperti ini juga banyak dikeluhkan oleh banyak PMI, merasakan perbedaan kondisi ekonomi lemah yang serupa.

       Selain masalah upah, akses kerja yang relatif mudah menjadi alasan kuat PMI selanjutnya. Banyak sekali sektor pekerjaan di Malaysia yang tidak banyak tuntutan, baik pendidikan tinggi, pengalaman kerja, proses rekrutmen yang rumit dan persyaratan-persyaratan yang beragam dari tiap perusahaan. “Asal kita ada kemauan dan cerdas cari pekerjaan, sebulan di sini kita bisa dapat sekitar 10 juta sekalipun kerja bangunan”, ujar seorang ibu PMI asal Kebumen. Fenomena ini justru berbanding terbalik dengan sektor pekerjaan di Indonesia, dimana syarat administrasi yang cenderung banyak, upah yang rendah, bahkan good looking dan tinggi badan sering menjadi syarat ideal bisa bekerja diperusahaan/toko tertentu.

Bertahan di Tengah Tantangan

Meski tampak sangat menjanjikan, kehidupan PMI di Malaysia juga penuh lika-liku yang tak mudah dilalui. Seperti halnya seorang PMI asal Riau yang berstatus duda dengan dua anak. Sebagai imigran, ia tidak memiliki jaminan sosial dan kesehatan dari pemerintah setempat. Penyakit asma yang kerap kambuh dan usia yang terus menua memaksa dirinya untuk berhenti bekerja. Ia harus pulang pergi ke rumah sakit tanpa mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat, hanya saja ia mengandalkan ulur tangan tetangganya yang membantu secara sukarela. Sehingga, hari-harinya harus bertahan serta berjuang dengan kehidupan penuh keterbatasan.

Selain itu, masalah internal dengan majikan kerjanya menjadi masalah yang berkelanjutan. Banyak dari PMI yang paspor dan permit/izin kerjanya tertahan bahkan diambil paksa. Faktornya beragam, salah satunya karena pekerja kabur akibat pekerjaan yang tidak sesuai, sehingga dokumen penting mereka tertahan. Bukan hanya itu saja, persoalan perpanjangan permit menjadi masalah yang selalu menghantui mereka. Biaya pengurusannya yang bisa mencapai 5.000-10.000 RM pertahun, sangat memberatkan bagi mereka yang bekerja dengan banyak kebutuhan keluarga.

Masalah ini semakin rumit ketika para PMI tertipu oleh agen-agen nakal. Mereka berkali-kali harus mengeluarkan uang dengan nominal yang besar untuk perpanjangan permit. Mereka tergiur dengan tawaran perpanjangannya yang jauh tiga kali lipat lebih murah dari bayaran normalnya. Akibatnya, banyak dari mereka memilih untuk tidak memperpanjang dan berakhir dengan status undocumented, tidak memiliki izin resmi/permit. Status seperti ini menempatkan mereka dalam situasi rawan razia oleh polisi setempat, sehingga mereka harus denda bahkan berakhir dalam proses hukum jika tertangkap.

Terkadang, ketika berada di area rumah saja bahkan di tempat kerja, banyak aparat polisi melakukan operasi dadakan terhadap para imigran yang tidak memiliki paspor maupun permit/izin kerja. Mereka bahkan sering melakukan penyamaran menjadi orang biasa lalu tiba-tiba menanyakan dokumen tersebut. Jika ternyata mereka tidak punya atau tidak membawanya, mereka akan mendapatkan sanksi, baik dikenai denda sampai penahanan.

Kehidupan mereka penuh kecemasan dan kekhawatiran, khususnya bagi para PMI yang undocumented. Kendati demikian, mereka tetap tegar menghadapi segala problematika itu, karena bagi mereka memilih manfaat ekonomi untuk keluarganya jauh lebih besar daripada sekedar risiko-risikonya.

Malaysia menjadi “Rumah Kedua”

Tidak hanya sebentar, para PMI tinggal bertahun-tahun di Malaysia membuat negeri ini terasa rumah kedua bagi mereka, terutama bagi PMI yang membawa keluarganya ikut serta. Ada yang menetap lama karena pilihan pribadi atau kontrak kerja. Dari mereka ada yang berkeluarga saat merantau, bertemu jodohnya saat di tempat kerja lalu menikah dan memiliki anak. Anak-anak mereka lahir, tumbuh dan bersekolah di sana. Sehingga, setelah itu mereka merasakan kenyamanan dan hangat kekeluargaan di sana.

Kembali ke negeri sendiri bukan pilihan terbaik bagi mereka, realistis saja, mereka yang merasakan perbandingan bekerja di Indonesia dan Malaysia pasti tahu akan itu, tidak ada upah yang mencukupi, biaya hidup yang tak seimbang, dan adaptasi yang tidak mudah setelah lama merantau.

       Akan tetapi kenyamanan ini masih memiliki bayang-bayang bagi PMI. Jaminan kesehatan dan sosial yang tidak mengiringi, akses layanan yang terbatas, kontrak kerja yang terkadang tidak pasti, operasi razia dari aparat polisi yang selalu menghantui kemana saja mereka pergi menjadi kekhawatiran khusus bagi para PMI dan anak-anaknya yang berstatus undocumented

Keteguhan yang Tak Terlihat

Ketika kita mendengar istilah “pekerja migran”, seringkali yang hanya terlintas dalam pikiran dan benak kita adalah mereka yang bekerja di negri orang dengan pekerjaan yang sepele. Padahal, saat kita mengenal dan melihat langsung realita kehidupan mereka pasti jawabannya lebih dari itu. Mereka adalah orang-orang tangguh yang mengundi nasib di negeri orang untuk kehidupan pribadi dan keluarganya, menanggung rindu yang panjang, berjuang ditengah kesulitan dan problematika sebagai imigran, dan bertahan tanpa jaminan yang pasti.

Mereka merupakan saksi bisu dari kesenjangan ekonomi dan masalah sektor pekerjaan yang belum selesai di negerinya sendiri. Ataupun, alasan mereka tidak pulang bukan karena mereka tidak cinta tanah air, melainkan karena kesempatan hidup mereka benar-benar belum memihak kepada mereka.