Maghrib di Masjid Sultan: Pertemuan Tak Terduga dengan Sesama Orang Sunda

Fikri

Perjalanan menuju Masjid Sultan dimulai dengan langkah ringan menyusuri kawasan Kampong Glam, sebuah wilayah yang menyimpan begitu banyak sejarah dan keberagaman. Dipertengahan perjalanan, dari kejauhan saya melihat kubah emas Masjid Sultan tampak berkilau, seakan-akan menjadi tanda bagi para pendatang.

Semakin dekat ke kawasan masjid, yang tadinya ramai, suasana berubah menjadi lebih tenang. Para pengunjung memperlambat langkahnya, hanya untuk sekedari memotret, sementara yang lain duduk menikmati suasana ketenangan masjid sembari menunggu waktu maghrib tiba.

Kesan pertama yang saya rasakan saat tiba area sekitaran masjid Sultan adalah suasananya yang tenang namun dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melaksanakan sholat ataupun hanya sekedar berjalan jalan dan mencari tahu sejarah. Terlihat juga bangunan-bangunan lama yang tertata rapi menunjukkan bahwa kawasan ini dijaga sebagai peninggalan bersejarah.

Ketika melihat Masjid Sultan, yang muncul pertama kali adalah rasa kagum pada bangunannya yang kokoh, tertata, dan menyimpan banyak sejarah. Secara keseluruhan, Kampong Glam dan Masjid Sultan memiliki ciri sebagai kawasan bersejarah yang dirawat dengan baik juga memiliki identitas yang kuat.

Kunjungan yang diprakarsai oleh Institut Studi Islam Fahmina dan Pondok Pesantren Luhur Manhajy Fahmina ini bukanlah tanpa tujuan. Kunjungan ke Kampong Glam dan Masjid Sultan ini bertujuan untuk memahami jejak budaya yang masih tertinggal di kawasan Kampong Glam dan Masjid Sultan, sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai pusat pertemuan berbagai komunitas, termasuk komunitas Indonesia dan komunitas muslim. Melalui kunjungan tersebut, saya ingin melihat bagaimana warisan sejarah itu dipertahankan, dirawat, dan dihidupkan kembali dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan menelusuri jejak komunitas Indonesia yang sejak dulu memiliki peran penting di sekitar Masjid Sultan. Keberadaan komunitas Indonesia  tidak hanya tercatat sebagai perdagang, tetapi juga dalam praktik keagamaan, dan kebudayaan yang pernah terjadi di kawasan ini.

Terakhir, kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui jejak komunitas Muslim di Singapura, terutama bagaimana Masjid Sultan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak dulu hingga sekarang.

Ketika adzan maghrib berkumandang, saya, farid, dan yang lainnya memutuskan untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu di Masjid Sultan. Saat mengantri untuk mengambil wudhu, terdengar orang-orang berbincang, ada yang menggunakan bahasa Melayu, Inggris, Mandarin, Indonesia, hal tersebut semakin kuat untuk menunjukkan bahwa Masjid Sultan bukan hanya tempat ibadah yang diperuntukkan bagi warga Singapura saja, melainkan jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari mancanegara.

Setelah wudhu, saya bergegas masuk ke Masjid. Setibanya di bagian dalam masjid, saya, saya melihat bagian masjid yang mengandung corak ciri khas Melayu dan Timur Tengah, dilengkapi dengan ornamen kaligrafi, bunga, dan coretan-coretan yang rumit. Ketika melaksanakan sholat, tampak orang-orang melaksanakan sholat dengan tentram, dalam satu shaf, diisi oleh orang-orang berbagai etnis.

Kemudian, setelah selesai shalat, sebagian orang ada yang langsung ke luar, dan sebagian lagi berdiam dulu di dalam Masjid untuk berdzikir, sholat sunnah, atau hanya sekedar menikmati suasana di area dalam Masjid Sultan. Setelah sholat, saya duduk terlebih dahulu di masjid untuk melihat secara detail setiap bagian masjid yang memiliki ciri khasnya tersendiri.

Selanjutnya, setelah beberapa lama berada di dalam Masjid, saya dan teman saya ( Farid ), memutuskan untuk keluar, untuk memakai sepatu dan bergegas ke tujuan berikutnya. Namun, ketika saya mengenakan sepatu, terdengar di sebelah saya ada orang yang sedang berbincang menggunakan bahasa Sunda, sontak obrolan tersebut jelas menarik perhatian saya, ” Lohh aya orang sunda ning di singapur ge”, ucap saya dalam hati.

Lantas tanpa pikir panjang, sayapun melemparkan pertanyaan kepada mereka, ” Orang mana a? “, tanya saya, kemudian mereka pun terlihat kaget dan menjawab pertanyaan saya sambil tersenyum, ” Ehh a, orang Bandung “, jawab mereka, kemudian saya kembali bertanya, ” Bandung na mana?”, ” Cimahi a “, jawab mereka, ” Abi ti garut a”, ucap saya, kemudian mereka balik bertanya, ” Ohh muhun, nuju aya acara naon didieu? “, saya pun menjelaskan bahwa saya dan yang lainnya telah melaksanakan PIT Internasional di Malaysia dan melaksanakan beberapa kunjungan selama di Singapura.

Obrolan singkat tadi sangat mengesankan bagi saya, hal tersebut bukanlah tanpa alasan, karena sebelumnya tidak pernah terpikir akan bertemu dengan orang yang berasal dari suku yang sama ( sunda ), juga saya merasa memiliki saudara di Singapura, meskipun jauh dari tanah asal.

Setelah sholat di Masjid Sultan dan mengobrol dengan orang Bandung tadi, saya berpikir bahwa Masjid ini benar-benar bukan hanya tempat ibadah, melainkan tempat berkumpul nya orang yang berasal dari berbagai budaya, bahasa, etnis, status sosial, dan lain-lain.

 

Jika di atas cerita pengalaman pribadi dan momen paling berkesan yang saya rasakan, maka di bawah ini adalah pengalaman pribadi dan momen paling berkesan yang dirasakan oleh teman saya, Farid.

Kunjungan ke Masjid Sultan dan kawasan Kampong Glam memberi saya cara pandang baru, bahwa sejarah dan kebudayaan tidak hanya disimpan dalam buku, melainkan hadir nyata dalam bentuk bangunan dan aktivitas sosial. Dari lingkungan yang tertata hingga aktivitas masyarakatnya, saya belajar bahwa sebuah komunitas bisa menjaga identitasnya tanpa menutup diri terhadap perubahan, meskipun Singapura berubah menjadi negara yang maju dan modern, tetapi kawasan Kampong Glam masih memiliki sejarah kebudayaan yang masih ditonjolkan. Dari kunjungan ini juga, saya memahami bahwa untuk mengetahui sejarah perlu dilakukan dengan melihat langsung peninggalannya. Dari situ, kita bisa melihat bagaimana kebudayaan dipertahankan, disesuaikan, dan diwariskan.

Kunjungan singkat ini membuat saya merasa ingin kembali ke tempat ini suatu hari nanti, bukan sekadar untuk berjalan-jalan, tetap juga untuk memahami dan mencari tahu lebih dalam cerita-cerita yang belum sempat saya gali. Masjid Sultan dan kawasan Kampong Glam menyimpan banyak lapisan sejarah yang rasanya semakin menarik setiap kali diamati dari dekat.

Melalui tulisan ini, saya berharap pembaca juga bisa melihat Masjid Sultan bukan hanya sebagai obyek wisata yang ramai dikunjungi, tetapi sebagai tempat bersejarah yang menyimpan perjalanan panjang komunitas Muslim, para pendatang, dan berbagai budaya yang pernah bersinggungan di Singapura terutama di kawasan Kampong Glam.