Stigma Penari Laki-Laki

Rinrin

Mengapa seorang anak laki-laki harus meminta izin untuk menari? Pertanyaan ini mungkin terdengar absurd, tetapi itulah kenyataan pahit yang saya saksikan saat menjalankan Praktik Islamologi Terapan (PIT) di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia (SBSM) 5.  Menjadi penari laki-laki seharusnya menjadi deklarasi bakat, bukan sumber konflik. Namun, ditengah program tari yang saya ampu, saya melihat ekspresi seni berbenturan keras dengan stigma gender yang sudah mendarah daging. 

Sejak awal kegiatan, saya sudah mendengar tentang seorang siswa laki-laki yang terkenal lihai dan pandai menari, sebut saja namanya “Bima”. Semua orang di Sanggar meyakini, jika program tari diadakan, ia adalah sosok yang akan berada di garda terdepan. Anak-anak lain menyambut hangat kehadirannya, bukan hanya karena ia berbakat, tetapi juga karena ia sering berbagi ilmu dengan mengajarkan gerakan baru disela-sela waktu latihan. 

Saat itu, proses seleksi diadakan karena terdapat kurang lebih 30 anak yang tertarik dalam program tari. Ketika proses seleksi dimulai, akhirnya saya memahami mengapa ia begitu populer. Kemampuan menarinya ternyata jauh berbeda dengan yang lain, ia menunjukan skill yang lebih luwes tanpa ada kesalahan lengkap dengan ekspresi serius bak penari profesional. 

Sejak itu, latihan pun dimulai. Namun, saat latihan pada hari kedua, sebuah insiden mengubah segalanya. Saat proses tari, tiba-tiba salah satu guru datang menghampiri. Beliau bertanya, “Ini Bima ikut tari?” saya jawab “iya bu.” Sebenarnya, sebelum guru itu datang Bima udah menatapku dengan tatapan takut. Ibu guru berbicara “Sebaiknya Bima gausah dipilih, dia kan laki-laki” pada saat itulah saya sempatkan bertanya “Memang kenapa bu? Jika laki-laki menari,” Guru tersebut menjelaskan, “Saya khawatir dia menyerupai perempuan, itukan tidak baik, ini sudah masuk akhir zaman.”

 

Bima pun berdiri di sebelah saya dan menunduk, wajahnya murung, dan ia berusaha bersembunyi di balik tubuh saya. Saya bisa melihat dia dari matanya bahwa ia ingin sekali tetap mengikuti menari, tetapi ia merasa tidak berdaya melawan keadaan dan pandangan yang menolaknya di depan umum. 

Sikap murung Bima ini membuat saya yakin ada hal yang perlu dibenahi. Akhirnya saya mengajak Bima untuk mengobrol berdua, pada saat itu saya bertanya, “Apa yang menjadi alasan Bima untuk tetap konsisten dalam tari?” kemudian, perlahan ia menceritakan semuanya. Ia mengaku awalnya ia hanya meniru kakak perempuannya dance, tapi lama kelamaan ia mulai ada ketertarikan dalam tarian tradisional yang ia amalkan sampai sekarang. 

Bima juga mengatakan bahwa ia sudah sering di bercandakan oleh teman-teman yang lain mengenai skill ini, orang-orang bilang gerakan tangannya seperti perempuan, ia pun selalu menegaskan bahwa ia hanya suka menari, dan bukan berarti menari menjadi alasan ia menyerupai perempuan. Bima tidak sedang berusaha jadi perempuan, ia tetap anak laki-laki yang selalu melakukan aktivitas sama selayaknya laki-laki. Ini semua murni ekspresi seni yang ada di dalam diri Bima. Sayangnya, ekspresi itu dijadikan alasan untuk melarangnya. Padahal, justru itulah yang membuat Bima berbeda, indah, dan otentik.

 

Bagian yang paling menyakitkan dari ceritanya adalah: guru yang baru saja melarangnya ternyata adalah guru yang pertama kali mengajarkan menari! Dulu, guru tersebut mendukung penuh bakatnya. Namun kini, suara stigma sosial dan kekhawatiran tentang “akhir zaman” telah mengalahkan dukungan pribadi itu. Tekanan ini semakin diperparah dengan pandangan yang sama dari orang tuanya, yang juga kurang mendukung minatnya untuk menari. 

Tentu saja, tekanan yang datang dari berbagai arah ini berdampak besar pada kepercayaan diri Bima. Ia sempat merasa down, meskipun ia terbiasa dengan pandangan lingkungan sekitar, ada kalanya ia merasa sangat sedih karena yang dibutuhkan hanyalah dukungan tulus, bukan hinaan. Saat itulah dengan perasaan berat, ia mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan tari. 

Saat itu, aku tidak banyak bicara, karena aku sadar ini bukan waktu yang tepat untuk aku menjelaskan semuanya, aku memberanikan diri untuk berbicara kepada Ibu Pengelola Sanggar mengenai insiden Bima. Hasilnya, pihak pengelola tidak terlalu melarang Bima untuk terus berlatih, karena bagaimanapun itu adalah skill yang seharusnya dipertahankan. 

Namun, pihak pengelola menyatakan bahwa alasan sebenarnya Bima dipandang tidak boleh menari karena ada pengalaman yang menguatkan yaitu pada saat ia sempat ditolak untuk tampil di acara wisudaan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) hanya karena dia laki-laki. Pandangan yang menghantui Bima ini, sesungguhnya adalah bias gender yang tidak berdasar secara historis maupun kultural. 

Sebaliknya, Indonesia kaya akan warisan tarian tradisional yang justru menuntut partisipasi aktif dari penari laki-laki. Tarian-tarian ini seringkali membutuhkan kekuatan fisik, ketangkasan, dan karakteristik maskulin seperti pada tari Saman dari Aceh dan lainnya. Bahkan, ada juga di dalam tari tradisional, penari pria justru sering ambil peran feminin. 

Melansir dari Whiteboard Journal, salah satu contoh dari Tokoh inspirasi Didik Nini Thowok, penari legendaris asal Jawa Tengah (spesialis cross-gender) sejak 1980-an. Ia sering wakili peran perempuan dalam tari tradisional seperti Bedhaya dan Srimpi, menggunakan dagelan untuk edukasi. Ia berkata “Saya main peran perempuan bukan karena saya perempuan, tapi untuk menunjukan bahwa seni tidak kenal gender.” Seni tari sebagai ekspresi yang universal, kualitasnya ditentukan oleh bakat, dan dedikasi, bukan oleh label jenis kelamin. Dengan demikian kekhawatiran bahwa menari akan “menyerupai perempuan” adalah miskonsepsi yang merugikan bagi potensi anak.