Partisipasi Yati Kaprawi dalam Menumbuhkan Kesadaran Hak Perempuan Muslim Malaysia melalui Seni

Dalpa

Perjalanan pergi ke Malaysia untuk pertama kali, mempertemukan saya dengan berbagai cerita dan momen belajar  yang sangat berharga. Salah satunya adalah mengunjungi pameran yang bertajuk Woman In Print: A Pressing Matter. Undangan pameran ini saya dan teman-teman  dapatkan pada saat kunjungan di SIS Forum Malaysia, dalam program Global Islamic Perspective Journey (GIPJ) yang diadakan oleh Program Khusus Sarjana Ulama Perempuan Indonesia kampus ISIF. Di sana kami bertemu dengan salah satu seniman pameran Woman In Print yaitu Yati Kaprawi. 

Woman In Print: A Pressing Matter merupakan pameran yang menampilkan karya-karya empat seniman perempuan Malaysia yaitu Yati Kaprawi, Siti Gunong, Ooi Huiqi, dan Shuuhuahua. Dalam karya seninya mereka menggunakan teknik seni cetak mencakup berbagai isu seperti hak perempuan, kritik sosial, trauma, cinta dan kesepian. Salah satu seniman yang kami temui secara intens tentu adalah Yati Kaprawi. Sangat terkesan sekali melihat karya-karyanya yang mengangkat isu hak perempuan serta seluruh karyanya berlatar belakang perempuan. Di antara karyanya adalah Suatu Kisah di Sofa, Zapin Melayu, Mencari Rezeki, The Printmaker dan Ayuh.

Yati Kaprawi merupakan seniman Malaysia sekaligus seorang aktivis hak-hak perempuan muslim Malaysia. Tidak hanya dalam karya seni cetak dan melukis, Yati juga seorang animator dan filmmaker. Salah satu film dokumenter garapannya  “AKU SIAPA” mengangkat isu hijab atau tudung dan perkembangannya di Malaysia, yang dibahas dalam sudut pandang sejarah dan Islam dalam perspektif yang lebih adil bagi Perempuan. Dalam channel YouTube miliknya, yaitu chanel Yati Kaprawi dan Hak Wanita kita bisa melihat karya-karya Yati berupa berbagai video stop-motion dan animasi-animasi, yang menggabungkan skillnya sebagai seorang filmmaker dan seorang seniman visual dalam mengangkat isu perempuan. 

Perempuan dalam Ruang Seni

Dalam profil yang terpajang di ruang pameran dicatat bahwa Yati merupakan seniman yang aktif membuka kelas workshop khusus bagi perempuan. Workshop ini dibuat sebagai wadah dan ruang aman bagi para perempuan berbagi pengalaman hidupnya dan melatih keterampilan di bidang seni. Sebagaimana yang ia sampaikan dalam pidatonya saat pameran;

Why women needs to participate in art? Because art is a physical manifestation of our experience, of our live realities, our hopes, our dreams. So if only majority male artists do the artwork, so it’s as if like it’s the only that become the standard norm. Yeah so female live, experience, female thoughts is not the norm or like so marginalized and not important.

 

Pidatonya menegaskan bahwa seni merupakan representasi fisik dan berbagai realitas kehidupan. Jika seni didominasi oleh laki-laki, maka pengalaman perempuan yang unik tidak akan dianggap sebagai norma sosial yang sah. Yati melihat seni tidak hanya sebagai ekspresi personal semata, tetapi juga sebagai strategi kolektif untuk menghadirkan suara perempuan di ruang-ruang publik. 

Melalui seni, Yati Kaprawi menginginkan pengalaman perempuan yang sangat unik dan beragam, dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Partisipasi mereka dalam ruang publik ini menurutnya dapat memberikan pengetahuan baru mengenai realitas yang terjadi pada perempuan. Dari situ, pengalaman perempuan dapat menjadi sebuah standar rujukan untuk mempertimbangkan berbagai kebijakan dan norma sosial, sehingga lebih adil dan inklusif. 

Kondisi tersebut muncul tentu karena realitas saat ini, khususnya di Malaysia banyak pengalaman dan pemikiran perempuan yang terpinggirkan atau bahkan dianggap tidak relevan. Seni bagi Yati adalah cara untuk membalikkan keadaan tersebut, dengan membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam seni. Serta menjadi sebuah  wadah untuk mereka bercerita dan menyuarakan haknya sendiri. 

Melansir dari website canvasrebel.com, Yati menyampaikan bahwa perjalanannya sebagai seorang seniman feminis yang hidup di tengah masyarakat mayoritas muslim menawarkan perspektif melalui karya seni. Hal tersebut terealisasi dalam beberapa kampanye yang ia lakukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesetaraan gender, hak perempuan, khususnya perempuan muslim. 

Karya dan Inspirasi

Beberapa karya animasinya mengangkat cerita-cerita ulama perempuan, perawi hadits perempuan hingga imam perempuan. Sebagaimana yang kita tahu bahwa ulama, perawi hingga imam seringkali diidentikkan dengan peran laki-laki. Padahal banyak sejarah menunjukkan perempuan juga telah  mengisi peran-peran tersebut. 

Dalam beberapa karyanya Yati juga mengangkat isu hak perempuan. Seperti hak perempuan sebagai istri, hak perempuan dalam masa iddah hingga isu poligami. Dalam berbagai diskursus mengenai isu tersebut, perspektif dan pengalaman perempuan seringkali tidak disertakan didalamnya. Karena berbagai stigma dalam sebuah hubungan rumah tangga, posisi perempuan tidak memiliki hak atas dirinya atau lebih dikenal dengan istilah ‘perempuan milik suaminya setelah menikah’. Serta posisi mereka yang lemah sebagai seorang istri. Situasi inilah yang tidak adil terhadap perempuan. Padahal dalam suatu hubungan rumah tangga, selayaknya perempuan dan laki-laki sebagai manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. 

Melalui cara ini, Yati memberikan perspektif baru terhadap para perempuan Muslim Malaysia melalui karya-karya miliknya. Yati menunjukkan bahwa perempuan mampu berperan sebagai aktor yang aktif mendiskusikan, mengadvokasi hingga mendorong pembaruan perspektif hukum, agama dan sosial yang adil.

Yati telah menciptakan karya-karya yang menunjukkan eksistensi perempuan mampu hadir mengisi peran-peran di ruang publik. Sebagai aktor untuk bersuara dan terbebas dari berbagai jenis ketidakadilan. Sehingga perempuan dapat menjadi manusia seutuhnya yang harus dihargai dan dihormati. Dari bidang senilah Yati bergerak berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil dan setara.