Perjalanan migrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia merupakan proses yang cukup panjang, yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Malaysia menjadi salah satu tujuan utama PMI, hal tersebut bukanlah tanpa alasan, selain letaknya yang cukup dekat dengan Indonesia, kesamaan budaya melayu, serta tingginya permintaan tenaga kerja di sektor informal maupun formal menjadi salah satu faktor berbondong-bondong nya para PMI memasuki negara tetangga tersebut.
Namun, maraknya para pekerja migran Indonesia yang memasuki wilayah Malaysia tidak sepenuhnya melalui jalur yang sah secara hukum. Sebagian dari mereka masuk ke Malaysia tanpa melengkapi dokumen keimigrasian, baik melalui jalur darat maupun melalui jalur perairan. Sudah barang tentu mereka merantau ke Malaysia bukan tanpa sebab, sebagian besar dari para PMI pergi ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Kemudian, setelah mereka berhasil bekerja dan menetap di Malaysia, para PMI kerap kali menjalin pernikahan baik sesama PMI maupun imigran dari negara lain. Selanjutnya, hasil dari jalinan pernikahan mereka, lahirlah anak yang akhirnya tidak memiliki status kewarganegaraan yang jelas dan sah, seperti halnya dengan kondisi orang tua mereka, yang pada akhirnya, akibat dari ketiadaan dokumen atau status hukum kewarganegaraan yang jelas dan sah, anak anak tersebut tidak bisa mengakses pendidikan yang layak, bahkan, sekolah sekolah formal di Malaysia pun enggan untuk menerima anak anak tersebut sebagai peserta didiknya karena ketiadaan dokumen kewarganegaraan tersebut.
Akibat dari dinamika PMI tadi akhirnya menimbulkan persoalan baru, yang mana para anak anak PMI tersebut tidak bisa mengakses pendidikan formal. Akibatnya, mereka terpaksa berada di luar sekolah dan tumbuh dalam keterbatasan pengetahuan dasar. Kondisi ini membuat mereka rentan menjadi pekerja anak serta terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang berulang. Pendidikan bagi anak PMI bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak yang wajib terpenuhi yang akan menentukan masa depan mereka. Karena itu, pemenuhan akses pendidikan yang layak dan setara bagi anak PMI harus menjadi perhatian mendesak semua pihak.
Sanggar Bimbingan Sungai Mulia sebagai Solusi Pendidikan
Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal bagi anak-anak PMI, kehadiran para tenaga pendidik di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia ( SBSM ) menjadi solusi yang sangat berarti. Mereka tidak sekadar mengajar, tetapi hadir bak pahlawan penyelamat masa depan mereka. Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, para tenaga pendidik ini membuka ruang belajar yang nyaman bagi anak-anak yang sebelumnya terpinggirkan dari sistem pendidikan. Para tenaga pendidik memahami bahwasanya setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, meski tanpa kelengkapan dokumen atau status kewarganegaraan yang jelas.
Lebih jauh, para tenaga pendidik di SBSM berperan sebagai jembatan yang menghubungkan anak-anak PMI dengan peluang pendidikan yang lebih luas. Dengan segala kesulitan yang mereka hadapi, para tenaga pendidik tetap berupaya menjamin agar siswa bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau kembali ke sekolah di Indonesia. Peran mereka merupakan bentuk nyata dari keberpihakan dan perjuangan terhadap hak anak migran untuk memperoleh pendidikan yang setara.
Sanggar bimbingan sungai mulia merupakan salah satu penyedia pendidikan non formal yang berada di Malaysia. Sanggar Bimbingan Sungai Mulia lahir dari kegelisahan panjang bu mimin mintarsih selaku pendiri SBSM, beliau khawatir akan nasib pendidikan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia. ” Dulu awalnya ada seseorang anak yang minta diajarin ngaji sama abah, namun, semakin lama anak-anak tersebut semakin bertambah dan ternyata mereka sama sekali tidak mengenyam pendidikan formal karena status kewarganegaraannya”, ucap bu mimin ketika berbincang setelah makan malam. Lebih lanjut, bu mimin menjelaskan bahwa sekitar tahun 2018 an, ia sempat kesulitan dalam mencari tempat untuk belajar anak anak ” Ketika awal pendirian sanggar, sangat sulit untuk mencari ruang belajar untuk anak-anak, dulu sempat semua parkiran tetangga untuk tempat belajar anak anak “, ucap bu mimin saat itu.
Kemudian pada tahun 2019, bu mimin dipanggil oleh ATDIKBUD atau Atase Pendidikan dan Kebudayaan, ” Tahun 2019 bulan 11, ibu dipanggil oleh ATDIKBUD untuk mengadakan formal, tapi ibu gamau, ibu tolak, ibu mau seperti ini saja, dan akhirnya pada bulan 11 tahun 2019 sanggar ini diresmikan dan berada di bawah naungan ATDIKBUD.
Dedikasi Tenaga Pendidik dan Harapan Masa Depan
Di balik setiap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, terdapat sosok-sosok tenaga pendidik yang memiliki peranan penting, yakni sebagai tulang punggung keberlanjutan sanggar. Para tenaga pendidik tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, menguatkan, serta berperan menjembatani menuju masa depan anak-anak yang sebelumnya terhambat akses pendidikannya. Oleh sebab itu, untuk melihat bagaimana sanggar ini berfungsi sebagai ruang belajar, perlu kiranya kita mengenal lebih dekat sosok-sosok tenaga pendidik yang menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan kegiatan pembelajaran di SBSM, salah satunya adalah bu Hawa.
Nama lengkapnya Siti Hawa atau yang kerap dipanggil bu hawa. Perempuan paruh baya kelahiran Lumajang tersebut tercatat sebagai tenaga pendidik di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia sekaligus pengasuh di sebuah asrama atau pondok yang bu mimin sewa untuk tempat tinggal anak anak yang rumah nya jauh dari sanggar.
Bu hawa ini sudah lumayan lama mengajar di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia, kurang lebih sudah hampir 5 tahunan. Ketika diwawancarai tentang apa alasan ibu mengajar di Sanggar, ” Dulu ibu diajak masuk Muslimat NU Malaysia, kemudian ibu juga diajak oleh bu mimin untuk berjuang ( mengajar ) di Sanggar yang didirikan oleh bu mimin “, ujar bu hawa ketika diwawancarai.
Cerita dari bu hawa tadi sinkron dengan apa yang diceritakan oleh bu mimin tentang pertemuannya dengan bu hawa, ” “Bu hawa ini awalnya sulit, Bu Hawa itu sebelum kenal ibu, pertama ilegal. Kedua tinggalnya di tengah-tengah hutan, di Urulamat. Bu Hawa itu sebelum kenal ibu, dia tinggal di tengah-tengah hutan. Kemudian saya dikenalkan dengan ibu oleh seseorang, katanya, ” ini ada orang ini, orang Lumajang, pintar berjanji, pintar malaki, pintar kompang dan sebagainya, gitu. Temukan dengan ibu. Oke, diikutkan muslimat, gitu kan. Akhirnya ibu panggil, ‘ibu mau nggak berjuang dengan saya?”, tutur bu mimin ketika kami berbincang setelah makan malam.
Dukungan dari pengurus Sanggar kepada para tenaga pendidik menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan proses belajar mengajar di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia. Dukungan tersebut dapat dilihat melalui sistem insentif yang disesuaikan dengan kemampuan Sanggar. Bu mimin menyebutkan bahwa para guru yang mengajar penuh waktu, mulai pukul 08.30 hingga sore menjelang waktu Asar, mereka menerima honor sebesar 85 Ringgit per hari, jika dikonversikan dengan nilai tukar rupiah, kurang lebih Rp350.000 per hari, angka yang bahkan melampaui upah sebulan di beberapa wilayah di Indonesia. Hal ini menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi para pendidik yang telah mengabdikan waktu dan tenaga bagi pendidikan anak-anak PMI.
Selain honor harian, para wali kelas mendapatkan tambahan insentif sebesar 50 Ringgit setiap bulan sebagai bentuk apresiasi atas tanggung jawab tambahan yang mereka emban. Dalam momen-momen tertentu seperti rapat evaluasi, pengurus juga memberikan dukungan finansial serupa untuk memastikan pendidik merasakan nilai dari peran penting mereka dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya itu, saat hari raya Idulfitri, pengurus Sanggar memberikan santunan sebesar 250 Ringgit sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan. Menurut bu mimin, pemberian ini bertujuan agar setiap pendidik dapat merasakan kebahagiaan dan tanggung jawab yang sama dalam melayani kebutuhan pendidikan para peserta didik. Dengan dukungan yang diberikan, Sanggar berharap tercipta hubungan saling membantu, saling menolong, serta motivasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masa depan anak-anak komunitas PMI.
Para tenaga pendidik yang berdedikasi memberikan waktu dan tenaganya untuk mendidik anak-anak di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia memegang peran yang sangat penting dalam menjembatani hak pendidikan bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Dedikasi mereka terlihat dari komitmen mengajar dalam keterbatasan sarana, waktu, dan dukungan, tetapi tetap mereka tetap menjaga semangat agar setiap anak mendapatkan kesempatan belajar seperti teman-teman sebayanya yang memiliki kesempatan untuk sekolah. Peran para tenaga pendidik tidak tergantikan, mereka menjadi pilar yang menopang keberlangsungan pendidikan, sekaligus simbol harapan bagi generasi muda PMI untuk terus bermimpi dan mengejar masa depan yang lebih cerah.
Ketika melihat perjuangan para tenaga pendidik yang merupakan PMI sendiri, saya semakin yakin bahwa masa depan pendidikan anak-anak PMI memiliki harapan besar untuk terus berkembang. Saya sangat mengapresiasi setiap dedikasi yang telah mereka berikan, dari membimbing anak-anak membaca dan menulis, hingga menanamkan nilai kepercayaan diri bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang yang sukses dimasa yang akan datang. Saya berharap ke depannya pemerintah dan berbagai pihak terkait dapat lebih hadir untuk menguatkan upaya yang telah dijalankan oleh Sanggar Bimbingan Sungai Mulia, sehingga hak pendidikan anak-anak PMI benar-benar terjamin.




