Setelah menyelesaikan kegiatan PIT Internasional di Malaysia, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, tapi melakukan kunjungan terlebih dahulu ke Singapura, yang diinisiasi oleh Institut Studi Islam Fahmina dan Pondok Pesantren Luhur Manhajy Fahmina. Sekitar pukul 16.00, kami tiba di singapura, setelah menempuh perjalanan dari Malaysia melalui jalur darat.
Setibanya di Singapura, kami istirahat dan siap siap terlebih dahulu sebelum melakukan pertemuan dengan beberapa orang. Sekitar pukul 17.30, kami bergegas dari penginapan menunju tempat pertama yang akan kita kunjungi. Perjalanan menuju Masjid Sultan terasa begitu seru, selama perjalanan, kami berjalan kaki menyusuri trotoar dan toko-toko yang dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai etnis.
Kesan pertama yang muncul ketika memasuki area Arab Street dan kawasan Kampong Glam adalah rasa takjub, bagaimana sebuah area penuh dengan sejarah, budaya, dan kehidupan modern. Jalanan sempit di kawasan kampong glam dipenuhi dengan coretan warna dan deretan bangunan yang dicat cerah, toko-toko kecil yang menjajakan kain, parfum Arab, dan aksesoris, makanan khas nusantara dan Timur Tengah, serta suara musik yang mengalun dari kafe-kafe pinggir jalan. Arab Street dan Kampong Glam bukan hanya destinasi wisata, melainkan kawasan yang mempertemukan identitas, budaya, dan cerita manusia dari berbagai negara bertemu dan saling melengkapi.
Dalam pertemuan dengan kak imran, kak imran menjelaskan banyak hal, mulai dari sejarah penamaan kampong glam, fungsi kampong glam pada zaman dahulu, hingga peninggalan-peninggalannya yang masih tersisa. Kak imran bercerita mengenai sejarah bagaimana kampong glam ini terbentuk, ” Kampong Glam merupakan salah satu kawasan tertua di Singapura yang telah menjadi pusat kehidupan Melayu dan Muslim sejak dahulu. Nama “Glam” diyakini berasal dari pohon gelam”, ucap kak imran.
Pertemuan saya dengan Kak Imran Tajuddin, seorang dosen sejarah di Singapura, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan kunjungan kali ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena Ia tidak hanya seorang dosen yang menguasai kajian sejarah, tetapi juga sosok yang ramah dan terbuka dalam berbagi pengetahuan. Kawasan Masjid Sultan merupakan salah satu pusat sejarah dan budaya yang paling penting di Singapura, terutama bagi komunitas Melayu dan Muslim, ” Masjid Sultan menjadi ikon utama kawasan ini, masjid Sultan dibangun pada 1824 dan kemudian direkonstruksi pada sekitar awal abad ke-20, pada tahun 1824, Sultan Hussein Shah, pemimpin Johor sampai Riau yang saat itu tinggal di Singapura, mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah kolonial untuk membangun sebuah masjid besar bagi komunitas Muslim yang terus menerus berkembang”, tutur kak imran.
Lebih lanjut, kak imran juga menjelaskan bagaimana keberadaan komunitas Indonesia di kampong glam, ” Sejak awal abad ke-19, ketika Kampong Glam ditetapkan sebagai kawasan pemukiman Melayu dan pusat kehidupan Muslim oleh pemerintah kolonial Inggris, komunitas Indonesia telah menjadi salah satu kelompok yang turut membentuk sejarah kawasan ini. ” Pada masa itu, para pendatang mulai berdatangan dari berbagai wilayah Nusantara, terutama Jawa, Bugis, Bawean, Sumatra, dan Sulawesi sampai di Singapura karena faktor perdagangan, jalur laut, dan hubungan politik Kesultanan Johor Riau”, tutur kak imran.
Salah satu kelompok terbesar dari Indonesia yang hadir pada awal pembentukan Kampong Glam adalah masyarakat Bugis. Mereka terkenal sebagai pelaut dan pedagang yang sejak lama menjalin hubungan dagang. Masyarakat Jawa pun menjadi bagian penting dalam pembangunan awal Singapura. Masyarakat Jawa datang sebagai pedagang kecil atau tenaga kerja lepas yang bekerja untuk pemerintah kolonial dan perusahaan dagang. Kelompok lain seperti masyarakat Bawean, Minangkabau, dan Aceh turut berperan penting dalam membentuk keberagaman etnis di kampong Glam. Mereka membawa tradisi keislaman dan kesenian.
Sejak awal terbentuknya kampong glam, komunitas Indonesia menjadi bagian penting yang membentuk kultur Kampong Glam. Kehadiran para komunitas Indonesia tidak hanya menambah jumlah penduduk, tetapi juga memiliki peran vital dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan di sekitar Masjid Sultan.
Dalam kehidupan sosial, para pendatang dari Jawa, Bugis, Bawean, dan Sumatra membangun relasi komunitas yang erat dengan masyarakat Melayu setempat. Kemiripan budaya serumpun membuat mereka cepat beradaptasi. Bahasa, makanan, dan kebiasaan Nusantara menyatu dengan kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat dilihat, sekarang di kawasan kampong glam, tidak sedikit orang yang menggunakan bahasa Melayu, dalam hal makanan pun bisa dilihat, banyak toko-toko yang menyajikan makanan khas nusantara.
Dalam bidang ekonomi, para pedagang Bugis berperan sebagai faktor utama dalam perdagangan hasil laut. Mereka membawa rempah, kain, dan barang-barang dari Nusantara, menjadikan kawasan kampong glam sebagai pusat perdagangan yang ramai. Sementara itu, pendatang Jawa dan Bawean membuka usaha kerajinan, kain, hingga warung makan yang memperkenalkan cita rasa khas Indonesia.
Sedangkan dalam hal keagamaan, Masjid Sultan menjadi tempat ibadah bagi komunitas Indonesia. Para ulama dari Jawa, Bugis, Aceh, dan Sumatra datang untuk mengajar, berdakwah, atau singgah sebelum melanjutkan perjalanan haji.
Hingga hari ini, jejak komunitas Indonesia masih sangat kuat terasa di kawasan Masjid Sultan. Meskipun zaman telah berubah dan Singapura berkembang menjadi negara yang maju, kawasan Kampong Glam tetap menjadi kawasan yang akrab bagi masyarakat Indonesia, baik pekerja, mahasiswa, maupun wisatawan.
Di beberapa resto di kawasan kampong glam bahkan menyediakan kuliner dengan cita rasa khas Indonesia yang banyak dicari, baik oleh pendatang Indonesia maupun turis mancanegara, bahkan tidak jarang kawasan sekitar Masjid Sultan masih berfungsi sebagai titik pertemuan komunitas Indonesia, seperti yang saya alami, ketika selesai melaksanakan shalat maghrib, ketika sedang mengenakan sepatu, saya mendengar dua orang sedang mengobrol dengan menggunakan bahasa Sunda, sontak percakapan tersebut menarik perhatian saya, ” Orang mana a? “, tanya saya kepada mereka, merekapun terlihat kaget, ” lohh, orang bandung a, aa na timana? “, dan percakapan seterusnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kawasan kampong glam ( masjid Sultan ), berperan sebagai ruang perjumpaan antar komunitas, baik sesama Indonesia maupun dengan mancanegara.
Memahami sejarah kawasan kampong glam bukan sekadar membaca masa lalu, melainkan cara untuk mencari jejak hubungan kultural yang saling terikat antara Indonesia dengan Kampong Glam sejak dahulu. Sejarah juga membantu kita untuk melihat bahwa hubungan Indonesia dengan kawasan kampong glam atapun di negara lainnya, bukan hubungan tamu dan tuan rumah. Tetapi juga hubungan kultural yang mengakar, hubungan yang dibentuk oleh migrasi, perdagangan, spiritualitas, dan faktor lainnya.
Kunjungan ke kawasan Masjid Sultan dan pertemuan dengan Kak Imran Tajuddin lebih dari sekadar perjalanan singkat ke sebuah situs bersejarah. Kak Imran tidak hanya memberikan informasi terkait sejarah, ia juga seakan-akan membuka mata kita untuk melihat Kampong Glam sebagai tempat yang menyimpan beragam identitas yang saling terikat.
Ketika meninggalkan kawasan itu, saya tidak hanya membawa catatan kunjungan dan pengalaman, tetapi juga meningkatkan kesadaran bahwa dialog singkat dengan seorang kak imran dapat membuka pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas, sejarah, dan hubungan kultural yang telah lama menghubungkan kedua negara.




