Singapura, sebuah negara kota kecil di ujung Semenanjung Malaya. nama Singapura menyimpan sebuah argumen penting. pulau ini dinamai dengan singa, sementara hewan itu tidak pernah hidup di Nusantara. Bahkan, dalam kisah Sang Nila Utama, makhluk yang ia lihat lebih dekat dengan deskripsi harimau. Ketidaksesuaian ini menjadi sebuah pertanyaan jika hewan yang muncul dalam kisahnya adalah Harimau, mengapa singa dipilih menjadi simbolisme negara?
Bahkan dalam lambang negara Singapura juga menegaskan pilihan bahwa terdapat seekor singa dan harimau yang berdiri tegak di samping simbol bendera lima bintang dan bulan sabit. Di balik gambar itu, tersimpan cerita panjang tentang siapa yang menamakan negeri ini, dan apa alasannya.
Pada 22 Agustus 2025, saya dan teman-teman kelompok Praktik Islamologi Terapan (PIT) Internasional berkesempatan untuk menginjakan kaki ke negara Singapura. Pada hari kedua setelah kami sampai di Singapura kami mengikuti kegiatan jalan kaki untuk menjelajahi dan menikmati warisan sejarah, budaya, dan keindahan suatu daerah (heritage walk) di sepanjang tepi sungai Singapura bersama Mohamed Imran Mohamed Taib atau kerap kami panggil kak Imran.
Sepanjang perjalanan, kami berjalan pelan, berhenti di setiap sudut yang kak Imran tunjuk. Saat itu kami berhenti sejenak di sela pengamatan simbol atau tempat yang khas akan sejarah. Akhirnya kita berhenti tepat di samping sungai Singapura, kak Imran menceritakan perlahan mengenai sejarah masa masa lalu. Setelah perbincangan berjalan agak lama, kak Imran pun mulai bercerita mengenai asal-usul Singapura.
Pada masa itu, ada seorang putera dari Palembang yang bernama Sri Tri Buana atau Sang Nila Utama, ia sedang berburu rusa di Pulau Bintan di Kepulauan Riau. Dari atas bukit, ia melihat sebuah pulau di seberang laut yaitu pantai yang berpasir sangat putih bersih, dan indah. Dengan itu, ia memutuskan untuk menyebrang. Akan tetapi, di tengah laut, tiba-tiba datang badai besar datang.
Perahu Sang Nila Utama hampir tenggelam, ia melakukan berbagai cara untuk bisa menenangkan laut, ia pun akhirnya melemparkan persembahan ke dalam ombak. Sampai akhirnya badai pun reda, dan akhirnya mendarat di pantai yang ia tuju, kini pantai tersebut dikenal dengan nama Temasek. Nama Temasek sendiri tercatat dalam manuskrip Jawa Kuno, Kertanegara, bersama sumpah politik Gajah Mada dalam sumpah Palapa.
Ketika ia menginjakkan kaki di pantai Temasek, ia melihat seekor binatang besar, gagah, berbulu merah agak kekuning-kuningan dengan dada hitam, berdiri penuh wibawa. Sang Nila Utama pun berkata kepada pengiringnya “Binatang apa itu?” salah seorang menjawab “saya pernah mendengar, orang menyebutnya singa.” Dengan begitu, pulau itu dinamakan Singapura. Singa berarti singa dan pura berarti kota, sehingga dapat digabungkan menjadi kota singa.
Cerita itu sudah sering diceritakan tetapi sebuah komentar kak Imran menghentikan bahwa singa bukan hewan yang hidup di nusantara? Pertanyaan muncul, apakah benar yang dilihat Sang Nila Utama adalah singa? pasalnya, di Nusantara tidak ada singa. Singa hanya ada di Afrika Sub-Sahara dan sebagian kecil di India. Di wilayah Nusantara yang ada hanyalah Harimau. Bahkan deskripsi yang diwariskan dalam cerita juga menyebutkan ciri-ciri dari binatang tersebut, yaitu berambut merah, tubuhnya yang hitam, dan berwibawa. Ciri-ciri tersebut tidak sepenuhnya mirip dengan singa, tetapi justru memiliki ciri sebagai seekor harimau.
Perbedaan antara singa dan harimau harus dibaca sebagai perbedaan sumber simbol. Harimau adalah simbol lokal hewan yang nyata di hutan-hutan Asia tenggara dan akrab dalam imajinasi masyarakat pesisir. Harimau sering muncul dalam cerita rakyat, lambang keberanian lokal dan pengingat hubungan manusia dengan alam setempat. Sedangkan singa sebaliknya yaitu simbol yang masuk melalui jaringan India dan Asia yang lebih luas. Namun, tafsir simbolis yang dipilih adalah singa, dengan lambang kekuatan dan kemegahan.
Dari situlah nama Singapura dikenal hingga sekarang. Sebuah kisah yang memadukan sejarah, mitos, dan simbolisme dalam pembentukan identitas sebuah kota. Karena singa menjadi simbol kekuatan dan kegagahan, maka Sang Nila Utama ingin membina sebuah kota baru yang kuat, gagah, dan berwibawa. Ia pun menamakannya Singapura. Walaupun sebenarnya binatang yang dilihat tidak sepenuhnya memiliki ciri-ciri singa, tetapi ini menjadikan simbolisme.
Pada masa itu, agama Sang Nila Utama beragama Budha. Dalam tradisi Budha, singa memang sudah menjadi simbol. Pada masa kerajaan Ashoka di India hingga Sriwijaya, singa merupakan simbol politik yang dibawa masuk melalui jaringan budaya India dan Buddha.
Simbol singa ini digunakan sebagai lambang kekuasaan. Hal yang sama dengan yang terjadi di Nusantara, misalnya di kerajaan Sriwijaya yang menggunakan lambang singa. Sang Nila Utama yang datang ke Temasek itu juga mengingat kejayaan Sriwijaya yang ketika itu sudah menurun akibat konflik dengan Majapahit. Karena itu, ia ingin membuka sebuah kota baru yang gagah, kuat, sebagai tandingan bagi Majapahit yang sedang berusaha menaklukan kawasan Melayu.
Di berbagai wilayah Nusantara, singa memang banyak dijadikan simbol kerajaan, meski binatang singa tidak pernah ada. Misalnya di Champa (Vietnam) juga ada kerajaan bernama Singapura, di Cirebon ada kerajaan Singapura, di Palembang ada kawasan Melayu terdapat wilayah Singasari, di Jawa Barat ada Singaparna dan Singajaya padahal di wilayah tersebut tidak ada singa. Kak Imran menegaskan bahwa singa di sini berfungsi sebagai simbol, bukan makhluk nyata yang hadir di kawasan tersebut.
Dengan begitu, nama Singapura lahir sebagai simbol kota yang kuat dan gagah. Kisah ini tercatat dalam sejarah Melayu, tentang Sang Nila Utama yang menuturkan bahwa ia pernah melihat seekor singa. Ada yang percaya ia benar-benar melihat singa, tetapi pemahaman ini lebih tepat dengan penandaan singa sebagai simbol kebesaran. Dengan begitu, kota Singapura berdiri dan berkembang menjadi kerajaan Melayu yang makmur.
Melalui perbincangan itu, saya tidak menyangka heritage walk di tepi sungai Singapura akan mengguncang pengetahuan saya tentang sejarah penamaan “Singapura” yang selama ini saya terima begitu saja. Kak Imran menutup ceritanya dengan peringatan bahwa ketika membaca teks sejarah, kita tidak boleh hanya literal. Orang dulu menulis untuk menyampaikan suatu dengan lambang, meskipun bisa saja itu dibaca secara literal.




