Pola asuh otoriter ini merupakan suatu bentuk pengasuhan orang tua yang umumnya sangat ketat dan kaku ketika berinteraksi dengan anaknya. Pola asuh seperti ini diterapkan dengan membatasi dan menghukum dimana orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka.
Belum lama ini, siswi saya curhat tentang permasalahan yang dihadapi dalam keluarganya. Ia bercerita bahwa kerap kali mendapat didikan dari orang tuanya berupa keras, tidak boleh melakukan apapun, selalu dipukul dan dibentak.
Pada suatu hari, ia mengaku bahwa orang tua sering kali mendidikanya dengan keras, seperti selalu membatasi, memukul dan menuntut untuk mengikuti perkataannya. Termasuk saat dia melakukan kesalahan, dia tidak ditanya tapi langsung dimarahin dan dipukul.
“Kamu jadi anak tidak becus, selalu melakukan kesalahan, dibilangin susah dan selalu pegang handphone”.
Pola didik tersebut membuat siswa saya merasa sangat menderita, dan pola didik orang tua seperti ini, sangat terbayang-bayang dalam kehidupannya. Siswi saya mengaku bahwa, ini hanya salah satu contoh didikan keras orang tua yang ia alami. Selebihnya masih banyak lagi dalam kerasnya didikan orang tua yang ia alami juga.
Ia tidak pernah diberikan akses berbicara oleh orang tua nya. Selalu diminta untuk mengikuti apa yang telah dikatakan oleh orang tua. Seperti ini, menjadikan relasi antara anak dan orang tua semakin renggang. Bahkan ia mengaku selalu takut, trauma untuk ketemu orang tuanya.
Dari kisah siswi saya ini mungkin bisa kita refleksikan, meskipun orang tua merasa yakin dan paling benar dengan pola didiknya. Namun pola didik seharusnya tidak menyakitkan terhadap anak.
Apalagi dengan dampak buruk yang siswi saya alami, seperti selalu merasa takut saat dekat orang tua, mengalami trauma dan selalu berbohong untuk melindungi dirinya. Ini menjadi salah satu contoh dampak buruk dari pola didik yang siswi saya alami.
Ciri Pola Didik Orang Tua yang Keras
Namun selain mengalami trauma dan selalu berbohong untuk melindungi diri, sebetulnya ada tujuh ciri dan dampak lainnya, pasti siswi saya mengalami hal tersebut. Berikut ciri dan dampak dari pola didik orang tua yang keras, seperti melansir dari Halodoc.com.
Pertama, Banyak aturan yaitu, Orang tua dengan pola asuh ini memiliki banyak aturan yang harus ditaati anak. Aturan yang diberikan ada di setiap aspek kehidupan dan perilaku anak. Bahkan, anak tidak mendapat penjelasan mengapa aturan-aturan tersebut perlu ditaati.
Kedua, Komunikasi satu arah yatu, Pola asuh ini tidak melibatkan anak dalam mengambil keputusan. Orang tua cenderung enggan menjelaskan mengenai alasan keputusan tersebut diambil. Mereka hanya ingin anak menaati aturan yang sudah ditentukan. Orang tua dengan pola asuh otoriter sangat jarang berbicara dari hati ke hati dengan anak, karena akan berujung pada pertengkaran.
Ketiga, Bersikap dingin yaitu, Orang tua dengan pola asuh ini umumnya bersikap dingin dan kasar. Alih-alih memuji dan memberikan dukungan, mereka cenderung lebih banyak mengomel dan meneriaki anak. Mereka juga cenderung tidak ingin mendengarkan keluh kesah anak dan hanya mengedepankan kedisiplinan.
Keempat, Mempermalukan anak yaitu, Orang tua dengan pola asuh otoriter percaya bahwa, mempermalukan anak akan memotivasinya untuk berbuat lebih baik. Mereka akan menggunakan rasa malu sebagai senjata untuk memaksa anak mengikuti aturannya. Orang tua bahkan tidak segan untuk meneriaki anak dan mempermalukannya di depan umum jika tujuannya tidak dipatuhi.
Kelima, Tidak bisa dibantah yaitu, Orang tua tidak membiarkan anak membuat pilihannya sendiri. Mereka akan bersikap dominan, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dengan dalih bahwa orang tua tahu apa yang terbaik untuk anak.
Keenam, Menuntut tapi tidak responsif yaitu, Orang tua yang otoriter memiliki banyak aturan (micro management), tetapi tidak mau menjelaskan secara jelas pada anak mengapa aturan tersebut harus ada.
Ketujuh, Jarang memberikan pujian yaitu, Orang tua yang menerapkan pola asuh ini umumnya bersifat dingin, senang mengomel, dan lebih menghargai disiplin dan kepatuhan ketimbang bertindak sebagai pengayom.
Orang tua yang menerapkan pola asuh ini menggunakan rasa takut anak sebagai sumber kontrol utama. Saat anak melanggar aturan yang telah dibuat, orang tua akan bereaksi dengan amarah dan kasar. Orang tua akan memberi hukuman agar anak selalu patuh, bahkan hukuman fisik dengan pukulan. Itulah pembahasan mengenai dampak pola asuh otoriter pada anak. Sebaiknya hindari model pengasuhan seperti ini agar anak bisa tumbuh dengan baik.
Dampak Pola Asuh Otoriter pada Anak
Alih-alih memiliki dampak positif, pola asuh ini lebih banyak membawa dampak negatif. Berikut sejumlah dampak pola asuh otoriter bagi anak: pertama, anak memiliki tingkat depresi yang tinggi, kedua, anak tidak memiliki keterampilan sosial, ketiga, anak takut untuk berpendapat, keempat, anak tidak bisa membuat keputusan sendiri.
Kelima, anak memiliki tingkat percaya diri yang rendah, kelima, anak akan menganggap kekerasan adalah hal yang normal, keenam, Anak melampiaskan kemarahannya di luar rumah, ketujuh, anak tidak mendapatkan kasih sayang seharusnya.
Dari tujuh ciri dan dampak tersebut, saya kira ada beberapa poin yang sebetulnya siswi saya rasakan. Misalnya ia akan melampiaskan amarahnya kepada temannya, ganguan emosional, susah bersosioal. Hingga masalah hubungan sosial dengan orang tua dan kelaurganya.
Oleh sebab itu, dari kasus siswi sata ini kita bisa mengetahui, ternyata pola didik orang tua yang keras dan kaku dapat menjadi salah satu pola asuh yang kaku dan mempunyai ciri serta dampak yang buruk. Dan hal tersebut tidak bisa orang tua dan anak bisa diselesaikan dengan mudah. Apalagi pola didik itu akan selalu teringat dan melekat terhadap anak.
Maka dari itu, dengan belajar dari sebuah permasalahan tersebut. Sebaiknya orang tua melakukan pola didik yang lebih responsif terhadap anak, sehingga tidak menjadikan seperti monster, yang amarahnya dilampiaskan kepada temannya saat di luar rumah. Karena orang tua tidak bisa memberikan pola didik yang bagus terhadap anak.




